[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.111 Surprise wedding



Kini Oryza, Tisya, dan Wika sudah berada dalam sebuah mobil SUV berwarna putih. Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan keterbungkaman. Tisya sibuk dengan ponselnya, Oryza sibuk melamun, sedangkan Wika sibuk berselancar di toko kosmetik online.


Entah kemana ia akan dibawa, Oryza pun tak dapat menebaknya sama sekali. Bertanya pun percuma, jadi Oryza lebih memilih diam sembari mengisi energi yang sepertinya akan terkuras beberapa saat lagi.


Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Oryza berbelok ke area parkir yang letaknya tak jauh dari pantai. Area parkir itu nampak dipenuhi berbagai mobil mewah, sesuatu yang sebenarnya terasa aneh di benak Oryza. Untuk apa mereka ke pantai? Apa mereka akan mengambil gambar di pantai pikirnya menerka-nerka.


Sesaat setelah turun dari mobil dibantu Tisya dan Wika, Oryza memandang ke satu arah. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah bentangan karpet merah yang di sepanjang pinggirannya dihiasi aneka bunga yang sangat cantik seolah memang dipersiapkan untuk menyambut tamu sangat penting.


Tiba-tiba jantung Oryza berdebar kencang membuat Oryza heran dengan apa yang ia rasakan saat ini. Hingga dari bentangan karpet merah itu, tampak sepatu pantofel pria berwarna hitam mengkilap berjalan mendekat ke arahnya. Oryza yang awalnya sedikit menunduk lantas mengangkat wajahnya. Tak jauh dari posisinya, seorang pria tampan dan gagah mengenakan tuxedo silver dan dasi kupu-kupu berwarna merah berjalan mendekati dirinya sambil memegang sebuah buket bunga mawar merah di tangan.


Senyum merekah di wajah tampan itu yang lagi-lagi membuatnya terpesona. Mata Oryza mengerjap, merasa bingung dengan situasi ini. Saat Damar telah berdiri di hadapannya, tiba-tiba taburan bunga mawar merah dan putih bertabur diiringi seruan dari belakang tubuh sang pria. Seruan suara kedua buah hatinya yang dua hari ini ia rindukan.


"Bunda ... " seru keduanya yang juga membawa buket mawar merah dengan Ratu yang mengenakan gaun senada dengannya atau lebih tepatnya gaun pengantin versi mini dan Raja mengenakan tuxedo serupa dengan tuxedo sang ayah sambung.


"Bunda, semoga bahagia. We love bunda," seru Raja dan Ratu kompak seraya menyerahkan buket bunga di tangan mereka. Lalu disusul Damar yang juga memberikan buket bunga mawar merah miliknya pada Oryza.


"I-ini ... " Oryza tampak kebingungan mengungkapkan betapa buncahan isi hatinya meletup-letup saat ini.


Tak lama kemudian orang tua Damar pun menghampiri mereka dan mengajak mereka menapaki karpet merah yang kini sudah ditaburi bunga mawar merah dan putih di sepanjangnya.


Mulut Oryza menganga tak percaya saat ia kini telah berdiri diantara keriuhan para tamu yang tampak begitu antusias menyambut kedatangan mereka.


Air laut yang membiru, embusan angin laut yang menerpa lembut, pasir putih yang tersapu ombak lembut seakan ikut menjadi saksi perjalanan kisah cinta Damar dan Oryza akan menapaki lembaran yang lebih luas dari sebelumnya.


Oryza tak mampu menyembunyikan keterharuannya. Pelupuknya telah tergenangi bulir bening yang seakan telah siap tumpah ruah bila Oryza tak segera menyekanya. Tentu ia tak mau merusak make up di hari spesialnya itu.


Tampak orang-orang terkasihnya pun telah berkumpul di sana. Oryza benar-benar tak menyangka kalau ia akan mendapatkan resepsi kejutan seperti ini. Bukankah katanya resepsi pernikahan mereka bila dihitung-hitung akan dilangsungkan 6 hari lagi, tapi kenapa tiba-tiba resepsi pernikahan mereka dilangsungkan hari ini.


"Surprise," bisik Damar yang paham kalau istrinya itu begitu terkejut juga terharu dengan apa yang telah mereka persiapkan.


Bahkan seluruh keluarga Angkasa, termasuk pasangan pengantin baru sama seperti dirinya pun turut hadir di sana.


Pantai itu telah di dekorasi dengan konsep garden party dengan bunga Krisan putih dan dedaunan hijau di beberapa bagian di tata sedemikian rupa dengan kursi disusun berjajar menghadap pantai.


Indah ...


Pantai pasir putih yang sudah indah itu jadi kian indah dengan tatanan dan dekorasi bunga-bunga dan dedaunan itu.


"Bang, ini pasti mahal banget. Apa nggak sayang uangnya?" bisik Oryza pelan membuat Damar terkekeh.


"Uang dapat dicari, tapi kebahagiaan harus diciptakan. Abang ingin mengukir kenangan seindah mungkin untuk momen seperti ini. Apalagi untuk pernikahan sekali dan seumur hidup. Agar indahnya mengingatkan kita untuk saling menjaga. Kelak bila kamu merasa bosan dengan pernikahan kita, Abang akan membawamu kesini lagi untuk menciptakan resepsi khusus kita berdua saja sebagai pengingat kalau kita pernah melalui hal indah dan manis apalagi saat menjelang hari pernikahan kita," tutur Damar yang terasa sangat manis di telinga Oryza membuat rasa haru kian menyeruak memenuhi rongga dadanya.


Ia tak menyangka akan dipertemukan dengan lelaki sesempurna ini di saat ia berpikir takkan mungkin mau lagi merajut cinta melalui mahligai pernikahan. Tapi nyatanya, di saat-saat keterpurukannya, Damar justru hadir bagai oase yang mendinginkan dahaga.


...***...


Suasana saung terasa sangat khidmat dengan musik religi yang diputar pelan. Seorang MC membawakan acara dengan kesan sedikit non formal sebab dicampur sedikit candaan yang tujuannya memecahkan ketegangan. Padahal Damar sudah melakukan akad sebelumnya dan ini merupakan akad yang kedua kalinya, tali jujur saja rasa gugup itu ternyata masih saja ada. Sungguh menggelikan pikirnya.


Prosesi sakral itu diawali dengan lantunan ayat suci Al-Quran, surah An-nisa ayat. Akhirnya, akad kedua kalinya pun berhasil kembali dilafalkan Damar dengan tegas dan lugas. Lafaz hamdalah bersahut-sahutan diiringi doa-doa pengharapan kebahagiaan terlantun dari bibir para tamu.


Setitik air mata jatuh di pipi Oryza saat mendengar suara lantang Damar saat mengucapkan kalimat ijab. Hatinya bergetar. Ia bahagia. Sangat bahagia.


Sepertinya belum usai kejutan yang diberikan Damar untuk Oryza. Saat para tamu tampak sibuk menikmati makanan yang terhidang di setiap sudut meja, Damar dengan menggandeng tangannya naik ke atas panggung yang tersedia di tepi pantai. Oryza sempat kebingungan apalagi saat Damar mengambil microphone dan menggenggamnya dengan tangan yang lain. Sedangkan sorot matanya melihat ke arahnya dengan tatapan teduh dan penuh cinta.


"Sebuah lagu akan saya persembahkan untuk wanita terindah belahan jiwaku," ucap Damar.


Belum sempat Oryza berkata-kata, lantunan musik pun mengalun indah tak lama kemudian suara Damar pun mulai terdengar melantunkan lagu Beautiful in white yang dipopulerkan Shane Filan dengan begitu merdu hingga membuat Oryza tersipu menahan buncahan rasa bahagia di dada.


Sementara di Bali, Oryza dan Damar serta kedua bocah cilik kesayangan mereka tengah menikmati euforia pesta pernikahan, di kediaman Hendrik justru tampak kacau balau. Semenjak Githa kehilangan kendali kemarin, kondisinya hari ini makin parah. Ia tak henti-hentinya meraung dan mengamuk. Menurut Suri, asisten rumah tangga Githa, Githa telah lama mengalami gangguan


PTSD. Semua berawal saat remaja, Githa mendapatkan perundungan akibat sifatnya yang sombong dan suka memaksakan kehendak termasuk memaksa seorang remaja laki-laki menjadi kekasihnya padahal remaja laki-laki itu telah memiliki kekasih. Namun saat itu belum terlalu parah dan masih bisa diatasi dengan baik.


Lalu saat dewasa, tepatnya beberapa tahun yang lalu, Githa dikhianati oleh kekasihnya yang lari menjelang hari pernikahan mereka. Padahal saat itu Githa tengah mengandung. Akibatnya, Githa frustasi hingga mengalami keguguran karena mencoba menyakiti diri sendiri juga orang di sekitarnya. Ia pun harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa hingga beberapa waktu lamanya hingga sembuh.


Oleh sebab itulah, saat Githa mengatakan ketertarikannya pada Hendrik dan menginginkannya, mereka tak mampu menolak dan terpaksa menyetujui. Mereka khawatir, mentalnya kembali drop. Kejadian traumatis itu bisa saja terulang kembali bila keinginannya tidak diwujudkan. Dan kini, seakan de Javu, pernyataan Hendrik yang ingin menceraikannya membuat emosinya memuncak hingga hilang kendali. Rasa takut kehilangan membuat emosinya meletup-letup. Trauma kehilangan dan ditinggalkan membuat mentalnya kembali terguncang.


"Mas Hendrik, aku nggak mau cerai. Pokoknya aku nggak mau cerai," pekik Githa dari dalam kamarnya. Hendrik terpaksa mengunci pintu kamar Githa dari luar sebab khawatir ia kembali mencoba menyerang Suri yang tadi sempat mencoba menenangkannya dan memberinya makan.


"Mas Hendrik hiks ... hiks ... jangan ceraikan aku, mas. Jangan tinggalkan aku! Aku ... hiks ... Mas HENDRIKKKKK ... "


Mental Githa sepertinya benar-benar terguncang terbukti sebentar-sebentar ia menangis, tapi selang beberapa menit kemudian ia berteriak.


"SEMUA ITU PASTI KARENA WANITA JALAAANG ITU KAN! KAU INGIN MENCERAIKAN KU KARENA KAU INGIN KEMBALI PADANYA? IYA? KALAU BEGITU, AKAN AKU HABISI JALAANG ITU DAN ANAK-ANAKNYA AGAR KAU TAK BISA KEMBALI LAGI PADANYA.," teriak Githa lagi membuat Hendrik menegang.


Khawatir Githa makin kehilangan kendali, Hendrik pun segera menghubungi pihak rumah sakit jiwa. Ia tak mau, Githa sampai benar-benar menyakiti Oryza dan anak-anaknya. Sudah cukup dirinya menyakiti ketiga orang kesayangannya itu, jangan ada lagi kesakitan lainnya, pikirnya.


Tak lama kemudian, Githa pun dijemput untuk dibawa ke rumah sakit jiwa. Awalnya sedikit kesulitan, jadi mereka pun menyuntikkan obat bius agar Githa dapat mereka bawa dengan tenang tanpa perlawanan.


Hendrik menatap nanar kepergian Githa menuju rumah sakit jiwa. Ia harap, disana Githa bisa mendapatkan perawatan hingga sembuh seperti sedia kala. Hendrik menghela nafas panjang. Mungkin ini adalah balasan atas sikap buruknya pada mantan istri dan anak-anaknya. Seandainya waktu dapat ia putar kembali, tentu ia takkan pernah mengkhianati kepercayaan Oryza dan bila itu terjadi, ia pasti masih bisa merasakan kebahagiaan itu. Tapi sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mungkin inilah pepatah yang tepat untuk Hendrik saat ini.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...