[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.96



Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi membuat Oryza yang masih asik bergelung dalam selimut mengerjapkan matanya perlahan. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah besar itu. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, Oryza menepuk sisi tempat tidur, mencari sosok yang semalaman memeluknya begitu posesif.


Merasakan kekosongan di sampingnya, Oryza pun membuka matanya lebar dan bergegas duduk seraya mengingat-ingat apakah yang ia alami kemarin hingga tadi malam itu hanya bunga tidur ataukah sebaliknya, sebuah kenyataan?


Oryza menelan ludahnya kasar. Bagaimana bila itu hanya bunga semata? Oryza meringis, bagaimana mungkin sebab ia merasakan kenikmatan itu begitu nyata. Manis madu percintaan pun masih terasa di pusat intinya.


"Nggak, itu nggak mungkin hanya mimpi kan? Aku ... nggak mungkin hanya bermimpi kan?" gumamnya dengan pikiran berkecamuk hingga seruan teduh seseorang menyentak lamunannya.


"Udah bangun, Humaira?"


Oryza lantas menoleh ke sumber suara dan seketika ia mematung dengan wajah penuh kekaguman. Sesosok lelaki berparas tampan rupawan yang kini menyandang gelar sebagai suaminya itu tengah berdiri seraya mengancingkan baju kokonya. Tak lupa bagian bawah ia pakaikan sarung dan bagian kepala tertutup songkok membuat kadar ketampanannya naik berkali-kali lipat.


Melihat sang istri yang justru tercengang membuat Damar gemas sendiri. Ia pun segera melangkah mendekati sang istri yang masih mematung.


"Kenapa bengong, hm? Masih berpikir ini mimpi? Atau perlu kita ulangi permainan kita semalam supaya kamu sadar kalau ini semua nyata," tukas Damar seraya tersenyum jahil membuat Oryza tersadar kemudian mendelik tajam.


"Eh, itu, anu, ah Abang usil banget sih!" Oryza mencebikkan bibirnya membuat Damar terkekeh. Damar mengangkat tangannya hendak mengacak rambut Oryza, tapi tangannya justru berhenti di udara.


"Ekhem, mandi gih! Terus sholat. Mas pergi ke masjid dulu ya bareng papa, Kevin, dan Ditto. Bisa berjalan sendiri kan?" ujar Damar seraya menarik turunkan alisnya membuat mulut Oryza menganga. Sepertinya tingkat keusilan mantan atasannya ini kian menjadi-jadi. Tapi mendengar penuturan kalau ia akan sholat di masjid sontak saja membuat bahagia di dada kian membuncah. Siapa sih yang nggak bahagia mendapatkan pasangan yang taat beribadah, penyayang, bonus tampan dan mapan juga. Sungguh, nikmat mana lagi yang engkau dustakan, Oryza?


Masih ingat di benak Oryza, bagaimana dulu kepribadian sang mantan suami. Pada awal-awal menikah memang Hendrik terlihat taat. Ia bahkan langsung bangun saat Oryza membangunkannya untuk sholat subuh, meskipun semalam mereka sibuk mengejar kenikmatan duniawi sehingga kelelahan dan tidur melewati dini hari, tapi saat Oryza membangunkannya, maka Hendrik akan. bergegas bangun, membersihkan diri, kemudian mengimami shalat. Tapi itu tak bertahan lama, beberapa bulan kemudian, Hendrik makin malas dan ogah-ogahan saat Oryza membangunkannya untuk melaksanakan shalat.


Perlahan, rasa ogah-ogahan itu makin menjadi, Hendrik pun benar-benar melupakan kewajibannya di dunia ini untuk menyembah Tuhan sang pencipta. Oryza terkadang merasa miris dengan kelakuan sang mantan suami. Namun kini, semua bukanlah urusannya lagi. Bahkan kini ia sudah mendapatkan pengganti yang jauh segala-galanya dari sang mantan suami dan Oryza sangat mensyukuri itu.


"Ckk ... Nggak usah lebay deh, bang. Mau diajak lompat tali juga Ryza masih sanggup kok," tukasnya seraya memutar bola matanya jengah, namun sepersekian detik kemudian ia terkekeh sendiri.


"Oh, berarti masih banyak tenaga dong? Artinya sepulang shalat nanti kita bisa ... lanjutkan yang semalam kan?" goda Damar seraya menyeringai dan mata mengerling nakal.


Oryza mendengus. Sepertinya suaminya itu telah terkontaminasi dengan virus me*sum jadi ujung-ujungnya pembahasan masalah skidipopo.


"Abang omes ih! Sana-sana pergi. Ryza mau mandi. Keburu subuh lho. Sana pergi, pasti Abang udah ditunggu papa sama yang lainnya," usir Oryza seraya mendorong dada Damar menggunakan bantal agar tidak merusak wudhunya.


"Udah, pergi nggak? Kalau nggak, Ryza siram pake air, mau!" Oryza mendelik tajam membuat tawa Damar membahana seraya membalikkan badannya.


"Abang tunggu ya, my Humaira. Siapkan penampilan terbaikmu!" pekik Damar seraya melenggang pergi membuat wajah Oryza seketika memerah karena malu. Apalagi mereka kini sedang di rumah keluarga besar Damar, tentu pasti ada yang mendengarnya sebab Damar berteriak sembari menuruni anak tangga.


...***...


Langit masih belum begitu terang saat Oryza dan Damar sedang dalam perjalanan menuju apartemen untuk mengambil beberapa keperluan untuk menginap di rumah orang tua Damar sementara waktu. Setibanya di apartemen, Oryza dan Damar pun segera melangkahkan kakinya menuju unitnya.


Namun sesuatu tak terduga dilihatnya. Sesuatu yang cukup membuat keduanya membelalakkan mata. Sebab saat mereka masuk ke unit apartemen itu, bersamaan dengan keluarnya Saturnus dari kamar Siti dengan bertelan*jang dada.


"Saturnus," pekik Oryza dan Damar bersamaan dengan bola mata membulat sempurna.


"Tu-tuan, nona," cicitnya dengan jantung yang berdegup kencang.


"Apa yang kau lakukan di sini, breng-sek!" desis Damar murka.


"Jangan bilang kalian ... "


Wajah Oryza pias seketika saat membayangkan dua orang yang dipercayainya justru melakukan perbuatan tidak bermoral di kediamannya. Tidak dapat dibiarkan. Ia harus menghukum keduanya bila memang mereka sampai melakukan sesuatu di luar batas.


"Mbak Ryza ... " cicit Siti tak kalah terkejut saat melihat Oryza dan Damar telah berdiri di ambang pintu. Oryza tampak bergeming di tempatnya dengan tatapan yang tak mampu Siti pahami.


"Tuan, ini tidak ... "


"Lekas kenakan pakaianmu lalu jelaskan segalanya. Apa yang sebenarnya terjadi tanpa ada satu pun yang ditutupi," potong Damar tegas. Ia harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat sebelum masalah makin melebar. Tentu ia tidak ingin merusak momen kebahagiaan sang istri menjadi kekecewaan karena insiden ini. Entah dapat keyakinan dari mana, ia sangat yakin asisten pribadinya itu takkan mungkin melakukan kebodohan apalagi sampai melakukan sesuatu yang tidak bermoral seperti ini di saat sang atasan dan pemilik rumah sedang tidak ada di tempat.


"Baik, tuan."


Dengan patuh, Saturnus pun kembali masuk ke dalam kamar Siti untuk mengenakan pakaiannya sebelum akhirnya ia menghadap Damar untuk menjelaskan segala hal yang terjadi tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi .