![[NOT] Beautiful Wedding](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-not--beautiful-wedding.webp)
Hari berganti begitu cepat, tak terasa kehamilan Oryza sudah memasuki bulan ke sembilan begitu pula dengan Siti. Kedua keluarga itu tampak begitu antusias menantikan kelahiran anggota baru keluarga mereka itu.
"Sat, atur jadwalku selama 2 Minggu ini. Aku akan mengerjakan pekerjaanku di rumah saja. Jadi selama aku libur, kau yang harus menghandle semua pekerjaan di kantor," tukas Damar setelah menyelesaikan sebuah berkas dan menyimpannya di tempat semestinya. Kemudian ia meraih satu berkas lagi dan memeriksanya.
"Apa tuan? Mana bisa begitu tuan? Padahal saya juga mau mengajukan cuti selama 2 Minggu ini. Kalau tuan cuti, lalu cuti saya bagaimana?" tukas Saturnus dengan wajah lesu.
Padahal ia sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk meliburkan diri agar bisa fokus menjaga dan menemani Siti kalau-kalau tiba-tiba Siti akan melahirkan.
Mendengar protes dari Saturnus, Damar pun langsung mengangkat wajahnya dan memicingkan mata.
"Apa kedudukanmu dibanding aku?" tanya Damar sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya.
"Bawahan," jawab Saturnus dengan wajah makin menunduk lesu.
"Jadi apa tugas seorang bawahan?"
"Menuruti perintah atasan," lirih Saturnus dengan wajah masam.
"Kenapa mukamu masam begitu? Nggak dapat jatah semalam?" tanya Damar dengan memasang tampang datar nan menjengkelkan.
Saturnus yang tiba-tiba ditanya seperti itu, lantas mendongakkan wajahnya dengan membalas tatapan menyelidik Damar dengan ekspresi cengo.
"Bagaimana tuan bisa tahu? Di kamar kami, tidak tuan pasang CCTV kan?" balas Saturnus penasaran.
Plakkk ...
Damar yang merasa dituduh lantas melempar Saturnus dengan ballpoint yang tepat mengenai dahi Saturnus.
"Awww ... " pekik Saturnus. Lalu ia segera mengusap dahinya yang terasa sakit.
"Enak aja. Ngapain ngintipin kalian skidipopo. Daripada ngintip kalian, mending aku berskidipopo ria dengan istriku. Lihat mukaku, nggak pernah masam kayak kamu. Selalu segar bugar. Pasti kamu nggak dikasih jatah karena durasimu cuma bisa 1 menit 30 detik kan?" cibir Damar yang entah mengapa obrolannya tiba-tiba berlatih ke permainan skidipopo.
"Jangan sembarangan, tuan! Aku bahkan bisa bermain sampai 1 jam 30 menit dan kelipatannya," sanggah Saturnus tak terima diejek.
"Halah, nggak percaya. Iya, benar 1 jam 30 menit, liat di jam dinding kamu yang sudah rusak itu," balas Damar lagi. Saturnus hendak kembali membalas, tiba-tiba ia ingat pembahasan awal mereka. Mengapa mereka malah tiba-tiba membahas hal unfaedah seperti ini? Saturnus menepuk dahinya sendiri membuat Damar terkekeh karena berhasil mengerjai asisten pribadinya itu. Entah mengapa kini tingkat kejahilannya makin meninggi saja. Dan bahan kejahilannya adalah si Arca Saturnus.
"Bos, soal cuti itu bagaimana? Saya cuti duluan ya, bos?" bujuk Saturnus dengan wajah memelas.
"Heh, enak aja. Kalau kamu lupa, saya atasan kamu disini jadi terserah saya mau libur kapan. Lagian kamu mau ngapain sih pake libur-libur segala?"
"Bos, nggak lama lagi istri saya melahirkan, jadi saya harus selalu siaga. Apalagi ini pertama kalinya saya menemani wanita hamil yang hendak melahirkan. Saya takut, istri saya ingin melahirkan saat saya sedang kerja," tukas Saturnus menjelaskan.
"Kamu lupa, istri atasan kamu juga sedang hamil dan akan segera melahirkan," ucap Damar dengan sorot mata mendelik tajam.
Saturnus menelan ludahnya kasar. Bagaimana ia bisa lupa kalau istri atasannya pun sedang hamil besar dan akan segera melahirkan juga.
"Dan kalau-kalau kamu lupa, ini juga pertama kalinya untuk saya menemani seorang wanita hamil yang akan segera melahirkan terlebih dia itu istri saya sendiri. Hamil kembar lagi." Damar mendengus kasar membuat Saturnus gelagapan takut atasannya itu jadi benar-benar marah padanya.
"Ekhem ... tu-tuan, ma ... "
Dddrrttt ...
Tiba-tiba kedua ponsel baik itu milik Damar maupun Saturnus bergetar dari balik saku celananya. Keduanya saling bertatapan apalagi saat melihat nama pemanggil di layar segi empat tersebut.
📱 My Humaira
📱My SweeTy
Gegas, mereka mengangkat panggilan itu.
"Abang, tolong Ryza! Ryza ... aakkkh ... aduhhh ... Ryza mau melahirkan bang, buruan datang!"
"Mas ... Cepetan pulang, Siti udah kontraksi nih. Aduh ... buruan ya, Siti udah nggak tahan lagi! Dedeknya udah demo nggak sabar lagi mau keluar. Aaakh ... "
Mata keduanya sontak membulat. Panik, gugup menjadi satu.
"Saturnus, buruan antar saya pulang! Istri saya sudah mau melahirkan," tukasnya sambil bergerak maju mundur. Bingung. Ia sampai lupa apa yang hendak diambilnya tadi.
"Tapi tuan, istri saya juga akan melahirkan." Saturnus hendak menolak mengantarkan Damar. Karena terlalu panik, mereka sampai lupa kalau apartemen mereka saling berhadapan.
"Ckk ... kau bisa antarkan aku sebentar setelah itu baru kamu jemput Siti terus ... Astagfirullah, bodoh banget kami Sat. Apartemen kita kan saling berhadapan. Kita bisa barengan," tukas Damar seraya menepuk dahinya kencang lalu menghela nafas panjang.
Saturnus menggaruk tengkuknya, karena terlampau panik, mereka jadi seperti orang bodoh.
"Buruan! Kasihan istri - istri kita sudah menunggu!" pungkas Damar seraya melemparkan kunci mobil yang langsung ditangkap Saturnus dengan sigap.
Tak butuh waktu lama, Damar dan Saturnus telah tiba di apartemen masing-masing. Mereka pun bergegas masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan istri mereka.
"Hum, bagaimana keadaanmu? Masih kuat jalan atau Abang gendong aja?" ucap Damar panik saat melihat Oryza sedang duduk sambil mengatur nafasnya yang pendek-pendek.
"Sa-sakit, bang! Aku ... aduh ... tolong bantu aku jalan dulu!"
Damar pun menurut membantu Oryza berdiri.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Oryza saat Damar berusaha memapahnya.
"Nora, tolong bantu bawakan tas berisi perlengkapan bayi yang ada di samping sofa kamar saya!" titah Damar yang langsung dikerjakan Nora dengan cepat. Saat melihat Oryza terus menerus merintih kesakitan, Damar merasa hatinya mencelos. Ia jadi teringat saat ibunya ingin melahirkan si kembar 3 Arletta, Arditta, dan Arrasya. Melihat Oryza merintih, ia yakin, rasa sakit yang dirasakan Oryza bukanlah main-main karena itu ia sangat menyayangi ibunya dan istrinya ini. Ibunya sudah berjuang dengan mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk melahirkan dirinya, lalu Oryza tengah berjuang jiwa dan raganya untuk melahirkan zuriatnya.
Tak tega melihat Oryza berjalan tertatih sambil menahan sakit, Damar pun segera menyelipkan kedua tangannya di belakang punggung dan lipatan kaki Oryza kemudian mengangkatnya.
"Bang," pekik Oryza terkejut saat Damar tiba-tiba mengangkatnya.
"Apa sayang? Sakit ya?"
"Bang, biar aku jalan aja. Sssshhhttt ... aku kan berat, bang," lirih Oryza sambil meringis.
"Nggak papa sayang, Abang masih kuat kok mengangkat kalian bertiga," tukas Damar seraya mengecup puncak kepala Oryza untuk menenangkannya.
Beruntung saat ini Raja dan Ratu sedang berada di rumah kedua orang tua Damar jadi mereka tidak ikut panik melihat Oryza yang sedang kesakitan saat ini.
Baru saja Damar melangkahkan kakinya keluar unit apartemennya, dari kamar depan keluar Saturnus yang sedang memapah Siti yang juga ingin melahirkan dengan Dodi yang mengikuti mereka di belakangnya.
"Kau juga ingin melahirkan, Siti?" tanya Oryza sambil terengah-engah menahan sakit.
"Iya, mbak. Aduh ... duh ... mas, ketubanku udah pecah," pekik Siti saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sela-sela kakinya membuat Saturnus kian panik.
"Buruan, Sat! Jangan lupa kunci mobilmu! Kita nyetir masing-masing aja." tukas Damar yang membuat Saturnus menepuk dahinya karena hampir lupa membawa kunci mobil miliknya.
"Nak, ambil kunci mobil ayah ya!" Nanti susul ayah bareng Tante Nora. Ayah gendong ibu ke bawah dulu." pungkas Saturnus mengambil keputusan. Nora yang merasa namanya disebut lantas menemani Dodi mengambil kunci dan segera menyusul ke basement.
Tak lama kemudian, mereka pun mengendarai mobil masing-masing menuju rumah sakit. Sungguh pengalaman yang menegangkan.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...