[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.94



Senja telah berganti malam. Kini keluarga besar Angkasa dan Yudhistira tengah berkumpul bersama untuk menikmati santap malam sembari bercengkrama.


Sama seperti Anggi dan Luna yang melayani pasangan masing-masing di meja makan, Oryza mengambilkan nasi beserta lauk-pauknya untuk Damar. Damar yang diperlakukan sedemikian rupa merasa membuncah bahagia. Bila selama ini Oryza melayaninya sebatas bawahan melayani atasan, maka hari ini merupakan perdana dirinya melayani layaknya istri berbakti pada suami umumnya. Tak ada kata yang mampu mendefinisikan besarnya kebahagiaan Damar. Pun Oryza, biarpun dulu ia pernah melayani Hendrik sepenuh hati, tapi saat berkumpul di sini, ia benar-benar merasakan perasaan dikelilingi sebuah keluarga. Di sini ia juga memiliki adik-adik ipar yang sangat baik. Bila dulu, keluarganya hanya seputar Hendrik, Oma Neni, lalu ditambah Raja dan Ratu, maka di sini ia mendapatkan lebih banyak lagi. Bahkan adik-adik iparnya cukup banyak. Ada 5 orang, dua laki-laki dan 3 orang perempuan. Oryza tak henti-hentinya mengulas senyum pertanda ia merasa begitu bahagia. Om dan Tante Damar juga sangat baik, begitu juga anaknya. Mereka semua menerima keberadaan dirinya dengan tangan terbuka. Kadang ia masih tak percaya kalau ia telah menjadi bagian keluarga Angkasa. Salah satu keluarga konglomerat di Indonesia.


"Abang mau nambah?" tawar Oryza saat melihat nasi di piring Damar sudah hampir tandas.


Damar menggeleng, ia sudah cukup kenyang sekarang. Ia yakin, apa yang dimakannya saat ini sudah cukup untuk amunisi cadangannya nanti. Damar mengulas senyum, membayangkan ia akan melewati malam indah dengan Oryza nanti.


"Ekhem, ada yang senyum-senyum sendiri, pasti otaknya udah traveling kemana-mana tuh!" celetuk Kevin membuat yang lainnya mengalihkan pandangannya pada Damar. Mata Damar menyipit tajam ke arah Kevin yang malah tersenyum lebar.


"Kenapa? Aku bener kan?" Ujar Kevin acuh tak acuh sambil menyeringai.


"Cih, bilang aja iri!" ejek Damar. "Kasihan, yang lamarannya ditolak lagi," imbuhnya membuat Kevin mencebikkan bibirnya.


"Jadi kamu ditolak lagi, Vin?" tanya Aglian seraya tersenyum membuat Kevin menggaruk tengkuknya.


"Yuni bilang mau fokus kuliah dulu Om, biar nanti pas kami nikah, dia bisa fokus urus rumah tangga," jawab Kevin diplomatis.


"Bagus itu, pendidikan itu memang penting."


"Om benar, Kevin sih dukung aja."


"Tapi kamu harus hati-hati, Vin!"


"Hati-hati?" Kevin mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat ambigu sang kakak.


"Ya, hati-hati. Takutnya bocil kesayangan mu itu ketemu yang lebih cakep dan segalanya dari kamu, auto gagal maning lagi deh!" ujar Damar seraya tersenyum mengejek.


"Udah, udah, masalah itu nggak perlu terlalu kamu jadikan beban, Vin. Percaya aja sama takdir Allah, kalau Yuni memang jodohmu, pasti dia akan tetap kembali padamu. Tapi kalau ternyata kamu cuma jagain jodoh orang, ya kamu harus ikhlas. Mungkin akan ada seseorang yang lebih tepat untukmu kelak," potong Anggi dengan senyum teduhnya.


"Kayak mama dan papa terus mbak Ryza dan bang Damar gitu?" seloroh Kevin.


"Tuh tahu. Yang penting, kamu dukung aja impian Yuni. Dia gadis yang gigih. Papa yakin, dia tipe gadis yang setia dan nggak akan mudah berpaling hati. Tapi papa nggak tahu kalau tiba-tiba dia menemukan kenyamanan dengan orang lain. Kalau itu sampai terjadi, seperti pesan mama kamu tadi, kamu harus ikhlas," timpal Diwangga yang diangguki Kevin.


"Kalau kamu gimana, Rin? Maksud papa, hubungan kamu sama dokter itu?" tanya Diwangga yang kini mengalihkan perhatiannya pada Karin.


Karin yang tiba-tiba ditanya lantas tersenyum kikuk, lalu ia menjawab pertanyaan Diwangga dan jawabnya itu justru membuat semua orang jadi heboh.


"Itu pa, emmm ... mumpung kita semua sedang kumpul, malam ini, sepulang Mas Rizky dari desa, mas Rizky langsung mau kesini untuk lamar Karin," ucap Karin kikuk.


...***...


"Jadi dulu pacar Karin itu suka sama perempuan yang disukai Kevin, bang? Terus pacar Kevin itu dulu orang yang udah nolongin perempuan yang disukai Kevin? Ada ya cerita kayak gitu. Unik," ujar Oryza setelah mereka berada di dalam kamar. Oryza kini sedang menyisir rambutnya setelah berganti pakaian dan menyisir rambutnya.


Sesuai perkataan Karin tadi, keluarga Rizky memang datang menemui mereka dengan tujuan untuk melamar. Tak ingin menunda hal baik, keluarga pun menerima dan menyambut Rizky dengan senang hati. Bahkan malam itu juga mereka melangsungkan pertunangan untuk saling mengikat. Bukan tanpa alasan Rizky ingin segera mengikat Karin, sebab ada salah seorang dokter dimana Karin bekerja yang juga menaruh hati pada Karin. Khawatir Karin lepas dari tangan seperti Nazila dulu yang kembali kepada suaminya, Rizky pun menyegerakan meminang Karin untuk menjadi pendamping hidupnya.


Kini Oryza masih memakai bathrobe. Malam ini merupakan malam pertamanya, tentu ia ingin tampil spesial untuk menyenangkan atasan yang telah berganti status sebagai suaminya.


Belajar dari kegagalan berumah tangga sebelumnya, Oryza ingin menjadikan pernikahan ini pernikahan terakhirnya. Ia ingin agar suaminya selalu setia dan tak mampu berpaling ke lain hati dengan pelayanan dan perhatiannya. Apalagi yang kurang dari Damar. Dari perhatian, kasih sayang, perlindungan, kasih sayang, bahkan kesetiaannya sanggup menanti dirinya bertahun-tahun itu merupakan sebuah keluar-biasaan. Mungkin Damar adalah satu dari satu juta lelaki penghuni bumi ini yang mampu menjaga kesetiaannya hanya pada satu orang wanita. Tanpa ada ikrar apapun, ia tetap menunggu. Bahkan tanpa kepastian.


Oryza merasa dirinya benar-benar beruntung. Padahal dirinya adalah seorang janda tapi bisa mendapatkan lelaki perjaka tulen kaya raya, mapan, tampan, dan sukses seperti Damar.


"Hmmm ... unik, tapi nggak ada yang lebih unik dari cerita kita. Benar kan?" ujar Damar yang kini sudah berdiri di belakang Oryza seraya memeluk wanitanya posesif.


Harum aroma tubuh juga nafas Damar seketika membuat darah Oryza berdesir hebat. Nafasnya tersengal dengan dada bergemuruh.


"Ra-Ratu udah tidur bang?" tanya Oryza saat tangan Damar telah merayap hendak membuka tali simpul bathrobe yang dikenakan Oryza.


Karena hari ini Oryza telah menjadi istri Damar, Karin sebagai adik yang pengertian pun mengajak Ratu tidur bersamanya. Beruntung demam Ratu telah reda sejak pagi tadi. Bahkan ia dengan semangat menyambut pernikahan ibu dan ayah barunya itu.


"Sudah. Anak kita memang pengertian, hm," ujarnya seraya mengecup leher Oryza sambil menghisap kecil sehingga membuat Oryza melenguh. Mendengar Oryza melenguh, sontak saja membuat darah Damar yang tadinya berdesir kian meluap. Perasaan panas kian menjalari seluruh bagian tubuh. Sungguh, ini merupakan pengalaman pertamanya seorang wanita dan dia masih merasa sedikit grogi pun kaku.


"My Humaira, boleh?" lirih Damar di telinga Oryza membuat Oryza menelan ludahnya kasar saat mendengar permintaan lembut dari sang suami.


Tak mampu berkata, Oryza hanya mengangguk pasrah. Ia kini telah menjadi milik Damar, tanpa izin pun Oryza sudah mengikhlaskan dirinya dimiliki sepenuhnya oleh lelakinya itu.


...***...


Sambung malam Yo! Othor mau masak dulu. 😄😄😄


Siang banget masaknya eh!


Othor nungguin kakak si bocah pulang sekolah dulu buat jagain tuh bocil yang emang lagi aktif-aktifnya. Nggak bisa ditinggal soalnya. Rumah othor tuh rumah panggung. Dapur ada di bawah, takut jatuh kalau nggak dijagain. 😁😁😁


...HAPPY READING 🥰🥰🥰**...