[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.89 Otw ...



Pagi ini, di sebuah rumah mewah yang letaknya tepat di pusat kota terlihat begitu sibuk. Orang-orang tampak berlalu lalang menyiapkan segala sesuatu maupun mendekorasi ruangan yang sebenarnya sudah indah itu agar tampak lebih cantik dan menarik.


Semua orang tampak sibuk, tanpa terkecuali. Bahkan anak-anak pun tampak sibuk mencoba pakaian yang dipesan dadakan itu. Semua begitu antusias, tanpa terkecuali.


Di balik kesibukan itu, tergurat raut wajah bahagia. Seolah mereka sudah menanti-nantikan momen bersejarah ini terjadi di rumah megah itu. Pun sepasang insan yang kini sedang berada di kamar masing-masing. Keduanya begitu gugup. Jantung keduanya berpacu cepat menantikan momen sakral yang beberapa saat lagi akan segera terjadi di rumah megah itu.


"Gimana? Udah siap, nak?" tanya Anggi saat memasuki kamar Oryza. Oryza yang masih duduk di depan cermin riasnya pun segera berdiri dan membalikkan badannya menghadap Anggi, sang calon ibu mertuanya.


"Sudah, ma," sahut Oryza malu-malu.


Anggi yang melihat wajah cantik Oryza yang berbalut kebaya putih dan kepala tertutup jilbab senada dengan kebayanya pun membelalakkan matanya. Seulas garis melengkung ke atas pun terukir di bibir Anggi. Lidahnya berdecak kagum melihat penampilan luar biasa calon menantunya itu.


"Masya Allah, kamu cantik banget nak!" seru Anggi dengan sorot mata kekaguman. "Bisa-bisa Damar kicep tanpa kedip nih pas liat penampilan baru kamu ini," ujar Anggi yang memang mengagumi kecantikan Oryza yang kini tengah memakai hijab di kepalanya.


Ya, saat dirias tadi, entah mendapatkan dorongan dari mana, Oryza mendadak ingin mengenakan hijab. Selama ini ia belum tergerak untuk mengenakan hijab. Namun, saat berpikir hari ini ia akan memulai lembaran barunya dengan seseorang yang baru dalam hidupnya, ia pun berpikir untuk memulai langkahnya dengan menutup auratnya.


Beruntung kebaya yang dipilihnya merupakan kebaya yang tertutup jadi ia tidak perlu repot-repot menyesuaikan lagi.


Semalam saat Damar tiba-tiba menyuarakan keinginannya menikahinya sesegera mungkin agar ia sekaligus dapat memberikan perhatian dan kasih sayang yang totalitas pada Ratu, Oryza sempat gamang. Ia bingung harus menjawab apa. Anggi pun menyetujui keinginan putranya tersebut. Oleh karena itu, Anggi memberi mereka waktu berdua untuk membicarakannya.


Awalnya Oryza masih tampak ragu. Baginya itu terlalu cepat, namun lagi-lagi Damar berhasil meyakinkannya agar ia tidak perlu khawatir.


"Za, besok nikah yuk!"


"Memangnya kenapa? Apa kamu masih ragu sama Abang?"


Oryza menggeleng tegas,"nggak bang, hanya ... "


"Hanya apa?" potong Damar cepat.


Oryza terdiam seraya meremasi kedua tangannya dengan wajah tertunduk.


Damar pun mengikis jarak dan meraih tangan Oryza kedalam genggamannya.


"Za, kamu tahu nggak, sudah sejak lama aku ingin jadi pendamping hidupmu, menjadi pelindung garda terdepan mu dan anak-anak, menjadi tempatmu pulang pun menumpahkan segala keluh kesah mu. Dan yang utama adalah menjadi imam bagimu juga anak-anak kita kelak, termasuk Raja dan Ratu sebab aku sudah menganggap mereka seperti anakku sendiri," ujar Damar seraya menatap lekat netra Oryza yang juga menatapnya.


"Za, kamu tahu nggak, aku selalu mengkhawatirkan mu hampir setiap hari. Apalagi saat tahu perbuatan mantan suamimu itu. Pun sudah terlepas, aku masih mengkhawatirkan mu. Aku tahu, dalam diam kau sering menyimpan dukamu seorang diri. Dalam diam kau menyimpan tangismu. Dalam diam kau menyimpan kesedihan dan luka hatimu. Aku sedih, tak bisa berada di dekat mu di saat-saat terburuk mu. Seperti saat ini, ingin aku merengkuhmu sepanjang malam untuk memberikan ketenangan dalam resah gelisah mu. Tapi apa daya, ada sekat yang begitu kentara di antara kita berdua. Dan ... hanya dengan cara menghalalkanmu saja sekat itu bisa melebur sempurna. So, mau ya kita nikah besok?" lanjut Damar lagi membuat mata Oryza berkaca-kaca.


Lalu dengan mengucap lafal basmallah dalam hati, Oryza pun menganggu mantap. Apa lagi yang perlu ia pikirkan, bila hatinya saja sudah terlanjur tertawan dalam setiap kata dan perbuatan sang atasan.


Melihat itu, sontak saja Damar berseru riang. Ia pun segera menarik Oryza ke dalam dekapan. Setelah itu, ia pun langsung memberitahukan kabar baik itu pada keluarganya. Tak peduli hari sudah cukup larut, keluarga besarnya pun menyambut antusias dan segera mengurus semuanya hingga saat pagi menjelang, segala persiapan telah rampung.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...