[NOT] Beautiful Wedding

[NOT] Beautiful Wedding
Ch.70 Pertengkaran



Hari sudah makin larut, bahkan jarum jam pun sudah menunjukkan waktu dini hari, namun Hendrik tak kunjung dapat memejamkan matanya. Semalaman ini ia hanya terpengkur di meja kerjanya, di sebuah ruangan khusus yang bersebelahan dengan kamarnya.


Mejanya memang tampak penuh dengan tumpukan berkas, tapi sebenarnya sejak tadi tak ada satu lembar pun yang ia sentuh. Jiwa dan raganya seolah tidak berada di tempat. Pikirannya melayang ke beberapa jam ke belakang. Tepatnya setelah jam makan malam tadi.


"Za, apakah sudah tak ada kesempatan sama sekali bagiku untuk memperbaiki semua? Kalau perlu aku akan menceraikan Githa asal kau kembali padaku," lirihnya pedih seraya memandang dan mengusap wajah cantik Oryza di sebuah pigura yang tengah dipegangnya.


Matanya kian perih, penyesalan bercokol di benaknya. Dengan menikahi Githa, memang ia mendapatkan keinginannya, tapi ... hatinya hampa. Jiwanya kosong. Bahagianya semu.


Hendrik memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Teringat masa-masa kebersamaannya dengan Oryza dulu. Walaupun ia sempat khilaf hingga menghadirkan Dodi, tapi tahta di hatinya tetap di huni satu nama saja, yaitu mantan istrinya, Oryza Sativa.


Oryza, selain sangat cantik, ia gadis baik, lembut, dan tulus. Tak ada cela satupun padanya. Kekurangannya hanyalah ia berasal dari keluarga broken home. Tidak mudah baginya dulu untuk mendapatkan Oryza sebab ia trauma dengan keretakan rumah tangga orang tuanya. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, ia memanfaatkan momen itu untuk terus-menerus membujuk Oryza agar bersedia menikah dengannya. Apalagi ia sudah tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Akhirnya, dengan kegigihannya, ia berhasil menjadikan Oryza sebagai istrinya. Ia juga meminta Oryza berhenti kuliah agar bisa fokus pada rumah tangganya.


Hendrik sangat tahu kalau Oryza trauma dengan yang namanya perselingkuhan. Tapi, kebodohannya membuat luka Oryza kembali menganga. Ia lupa, kesalahan terbesar yang takkan pernah Oryza maafkan adalah perselingkuhan. Dan ia melakukannya. Akibatnya, ia kehilangan wanita yang masih menjadi poros dunianya itu. Andai ia bisa memutar waktu, ia takkan membiarkan dirinya terjerumus dalam kubangan dosa yang ditawarkan Helmi dan Githa. Bodohnya ia, hanya dengan iming-iming harta dan kekuasaan, membuatnya harus merasakan kepahitan ditinggalkan orang terkasihnya, siapa lagi kalau bukan Oryza.


Ceklek ...


Githa masuk ke ruang kerja Hendrik dengan mengenakan pakaian super seksi. Ia berjalan berlenggak lenggok lalu mendekap Hendrik dari belakang membuat Hendrik yang tadinya melamun jadi tersentak.


"Githa," serunya terkejut.


"Iya, ini aku. Mas ngelamunin apa sih sampai nggak nyadar aku masuk ke ruangan mas?" Githa mencebikkan bibirnya. Ia kesal, akhir-akhir ini Hendrik makin sibuk sampai-sampai tidak punya waktu untuk dirinya.


"Kamu kenapa belum tidur? Ini udah larut. Tidak baik wanita hamil kurang tidur," ujar Hendrik lembut seraya berpura-pura membaca beberapa berkas. Ia mengabaikan pertanyaan bernada protes dari Githa. Tidak mungkin juga ia jujur apalagi saat ini Githa sedang hamil. Ia tidak ingin membuat masalah kian runyam.


"Ck ... Ditanya malah balik nanya. Aku tuh dan anak kita kangen kamu, mas. Kamu sibuk mulu akhir-akhir ini. Kamu kayak sengaja mau menghindari ku, benar begitu?" cecar Githa dengan wajah muram.


"Aku memang sedang sibuk banget, Za. Eh, maksudnya Tha," ralat Hendrik yang justru mengingat Oryza.


"Kamu masih mengingat perempuan itu, mas? Apa sesulit itu memusnahkan perempuan sialan itu dari otak kamu, sampai mesti kamu ingat-ingat melulu? Mas, yang istri kamu sekarang itu aku. Dia itu cuma mantan, please deh! Lagipula dia sudah punya calon suami lain, jadi buat apa diingat-ingat lagi. Buang-buang waktu aja. Bodoh banget tahu nggak," omel Githa sambil menghentakkan kakinya menjauhi Hendrik dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Mata Hendrik memicing tajam saat mendengar kata-kata Githa barusan.


"Apa maksud kamu Oryza sudah memiliki calon suami lain? Jangan asal bicara kamu!" bentak Hendrik geram.


Walaupun ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Oryza sedang berpelukan mesra dengan lelaki lain, tapi ia menolak keras menganggap laki-laki yang memeluknya itu merupakan calon suami Oryza. Itu tidak mungkin, pikirnya. Tak mungkin Oryza bisa melupakannya secepat itu. Tidak sedikit kenangan manis mereka bersama. Tidak sebentar pula kebersamaan mereka dan ia sangat tahu betapa Oryza mencintai dirinya jadi mana mungkin Oryza melupakannya begitu saja dan menjalin hubungan dengan lelaki lain.


"Aku nggak asal bicara, mas. Tapi laki-laki itu sendiri yang mengatakannya," balas Githa sengit. Ia kesal melihat Hendrik seperti begitu terobsesi dengan mantan istrinya itu.


"Berhenti! Jangan bicara sembarangan tentang Oryza? Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi jangan membual seperti itu. Kau pikir aku percaya, hah!" bentak Hendrik dengan rahang mengetat. Ia tidak suka ada yang membicarakan mantan istrinya itu macam-macam. "Tunggu sebentar, apa katamu tadi? Laki-laki itu bicara denganmu? Jangan katakan kau mencoba menemui Oryza, hah?"


"Kalau iya kenapa? Aku benci dia selalu membayang-bayangi rumah tangga kita. Aku benci kamu masih memikirkan dia. Aku benci kamu masih mempedulikan dia. Kenapa ? Mau marah? Iya?" cecar Githa yang mulai muak melihat Hendrik yang terlalu memuja Oryza hingga tak mempedulikan perasaannya.


"Breng-sek. Jangan sekali-sekali kau mencoba menemui Oryza atau ... "


"Atau apa?" potong Githa cepat.


"Atau aku akan menceraikanmu saat itu juga," pungkas Hendrik dingin membuat nafas Githa tiba-tiba tercekat.


...***...


Sejak pagi Oryza tampak menghindari Damar. Semenjak pernyataan cinta Damar malam itu, hati Oryza kian berdebar setiap mereka berdekatan. Alhasil, ia merasa salah tingkah sendiri. Damar pun menyadari itu, tapi ia tidak memusingkannya. Ia paham, pasti Oryza merasa sangat terkejut dengan apa yang ia ungkapkan tadi malam.


"Ngelamunin apa, hm?" tanya Damar tanpa menoleh. Hanya ekor matanya saja yang melirik ke arah Oryza. Ibu dua anak itupun tertunduk dengan pipi bersemu merah. Sopir yang duduk di depan sampai membulatkan matanya melihat atasannya yang menggenggam tangan Oryza yang merupakan sekretarisnya sendiri.


"Ng-nggak ngelamunin apa-apa kok, tuan," kilah Oryza tergagap.


"Tuan lagi?" protes Damar dengan satu alis yang menukik ke atas.


"Kan kita sedang bekerja tuan."


"Tapi kita kan hanya berdua sekarang jadi apa salahnya," sanggah Damar.


"Kita sedang bertiga tuan." Beritahu Oryza. Sopir yang duduk di depan rasanya ingin menangis saat ia dianggap makhluk tak kasat mata.


Damar mengerutkan keningnya belum paham. Lalu Oryza menggerakkan dagunya ke arah depan. Damar pun mengikuti ke arah yang ditunjuk dan dalam hitungan detik, Damar pun tergelak.


"Hahaha ... maafkan saya pak Sukri, saya lupa kalau ada pak Sukri duduk di depan," ujar Damar seraya mengusap tengkuknya.


"Tidak apa-apa, tuan. Saya maklum. Namanya juga lagi kasmaran, dunia seolah milik berdua. Yang lain, ngontrak," tukas Pak Sukri, sopir pribadi Damar.


"Wah, pak Sukri tahu aja," sahut Damar seraya terkekeh.


"Ya taulah pak, bapak juga pernah muda toh jadi tahu," sahut Pak Sukri yang juga terkekeh.


Tiba-tiba ponsel Oryza berdering. Setelah melihat siapa yang menelepon, Oryza pun segera mengangkatnya.


"Siapa Za?" tanya Damar penasaran saat melihat wajah panik Oryza.


"Itu tuan, Siti tiba-tiba nggak enak badan. Gimana ya tuan, siapa yang bakal jemput anak-anak di sekolah? Mau puter balik nggak bakalan sempat," ujar Oryza bingung. Ia memijat pelipisnya yang mendadak pening.


"Sudah, jangan panik gitu. Kamu tenang dulu, Za," ujar Damar mencoba menenangkan Oryza dengan ibu jarinya mengusap punggung tangan Oryza yang masih dalam genggamannya.


"Gimana aku bisa tenang, bang. Aku khawatir ... "


"Ssst ... Tenang, oke!" tekan Damar. "Aku telepon Saturnus dulu. Aku akan meminta Saturnus jemput mereka jadi kamu tenangkan diri kamu sekarang."


"Emang nggak papa, bang? Nanti kak Saturnus sibuk, ganggu dia dong!"


"Ck ... nggak usah khawatir. Dia nggak akan bisa nolak. Kalau berani nolak, bonusnya tinggal kita diskon aja," ujar Damar santai membuat Oryza sampai melongo.


"Emang kak Saturnus itu belanjaan pake diskon. Tapi sebelumnya makasih ya bang."


"Apa sih yang nggak buat calon istri, ya nggak pak Sukri!" ujar Damar sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Bener itu non. Kalau perlu, bulan pun tuan petikan buat non Oryza," sahut Pak Sukri.


"Emangnya bulan itu buah-buahan bisa dipetik. Pak Sukri ada-ada aja. Kalau Ryza beneran minta ambilin bulan, gimana? Bisa repot dong saya pak," protes Damar membuat ketiganya tergelak.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...