
After,
Hari pertama...
Di kepala Leia hanya ada pertanyaan, 'Pergi kemana dia?'.
Hatinya belum ter-selaput rindu, ia masih bisa fokus berkerja sekaligus mengurus Eden seperti biasanya.
Hari kedua...
Hatinya mulai memberat, rasanya seperti di cecoki batu besar yang membuat Dadanya sesak. Namun, ia masih bisa fokus melakukan rutinitasnya, walau bayang-bayang Darrel selalu menempel dalam benaknya.
Hari ketiga...
Mengurus Eden sambil mengerjakan project-nya, membuat Leia mulai kewalahan. Belum lagi pikiran tentang Darrel yang berkelana dalam otaknya. Sudah tak terhitung berapa kali Leia mengecek notifikasi ponselnya. Berharap, seseorang yang memenuhi pikirannya itu, menghubunginya.
Hari keempat...
Semakin berat beban yang tertumpuk di pundaknya. Pekerjaan yang pending, suasana rumah yang sedikit awkward. Ibu, eyang dan opa yang menanyakan keberadaan Darrel, terpaksa Leia berbohong dengan mengatakan sedang ada job di luar kota, untungnya Neftari memahami. Neftari percaya saja saat Leia mengatakan kebohongan itu, tanpa menaruh curiga, mengingat latar belakang menantunya itu bukan main-main.
Belum lagi, Eden yang tak henti merengek, seolah tau eksistensi appanya tak ia rasakan hadirnya beberapa hari terakhir. Nyatanya ikatan batin antara Eden dan Darrel terjalin begitu kuat. Bayi itu menjadi peka akan kehadiran orang yang paling dekat dengannya.
Alhasil, Eden jadi rewel, dan sempat didera demam tinggi, hingga menyebabkan kejang. Untung saja saat itu ada Neftari, Ayu, dan Baron di rumah. Sedikit banyak, para senior yang sudah berpengalaman dalam mengurus anak itu, jelas tau cara menangani bayi yang rewel sampai menyebabkan demam.
Leia berdoa dalam batinnya, Ya Tuhan, aku mohon, suruh oppa cepat pulang, baby Eden sakit, rindu ayahnya... Iya, cuma Eden yang rindu...
Hingga, seminggu berlalu...
Pria yang menyandang status sebagai suami Leia itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Perasaan sedih kian menyergap Leia, bersama ruang hampa di hatinya, yang pria itu tinggalkan. Belum lagi, memikirkan baby Eden yang kian menyusut berat badannya, Leia yakin, bayi itu amat sangat merindukan ayahnya.
Hanya saja, ego masih membalutinya, Leia sangat enggan untuk menghubungi pria itu duluan. Padahal status di WA suaminya mengatakan sedang online, yang artinya bukan berarti Darrel tak bisa dihubungi atau lost contact.
Beruntung eyang tetap stay di rumah, membatu Leia menjaga Eden selama ia kewalahan dengan aktivitasnya.
Masih ada beberapa project yang menggantung belum ia tuntaskan, dan tak bisa ia tunda lagi pekerjaannya. Kalau boleh jujur, saat ini pikiran Leia begitu bercabang. Antara Darrel, bayinya, dan pekerjaan. Tak ada Dewa dalam pikirannya.
Owh God, damn it... Sungguh, ia baru menyadari hal itu.
Terhenyak dalam lamunan, bersama bisingnya suara jig saw yang mengudara di studio kerjanya.
Sampai suara lengkingan Hasna nyalang menandingi suara mesin pemotong kayu itu. "TANGAN BOS!! TANGAN...!!" teriak wanita mungil berhijab itu. Namun suara itu hanya sayup-sayup Leia dengar, karena ia sedang menggunakan penutup telinga yang redam suara, agar telinganya tak rusak oleh suara nyaring mesin-mesin di studio meubel.
Nyaris...
Nyaris saja, daging berserta tulang jemari Leia terbabat mata pisau dari mesin jig saw kepunyaannya itu.
Sampai saat tangan kekar seorang pria, menarik bahu Leia ke belakang, membuat wanita itu tersentak, begitupun segala pemikirannya yang menjadi buyar.
"KENAPA TELEDOR SEKALI, SIH!!!"
Posisi tubuhnya masih sama, hanya termundur beberapa langkah ke belakang, lantaran bahunya di tarik oleh tangan besar seseorang itu.
"Apa ini mimpi?" gumam Leia tanpa sadar.
Hasna langsung cengo saat melihat bos cantiknya mendadak tolol. Posisi Hasna yang tak jauh dari Leia, langsung menarik earmuff yang berbentuk seperti earphone itu dari telinga bosnya. "Bos sadar ga, sih? Itu tangan lentik hampir aja jadi buntung!!" Hasna tampak menggeram, berusaha tak menaikan intonasi suaranya, agar tak termakan hasutan sayton yang memancing kemarahannya.
Leia menoleh ke arah Hasna yang mukanya sudah pucat namun raut wajahnya berubah garang. Suara mesin nan berisik itu maherat, bersamaan saat pria itu menekan tombol off pada mesinnya.
"Na... Kayaknya mbak ngehalu suara suami mbak tadi" ucap Leia begok.
Lagi-lagi Hasna tercengok, "Lah emang bener suaminya bu bos kok itu" Hasna langsung nyolot. Bos ini otaknya lagi konsleting kali ya?
Namun, tampaknya Leia masih belum benar-benar sadar, sampai tangan kokoh itu kembali membelit manis mengitari pinggang, hingga bermuara di atas perut ratanya.
Mata Leia membelalak, ia kenal pemilik tangan seputih salju itu. Belum sempat Leia berbalik, untuk memastikan asumsinya, kepala pria itu rubuh di atas pundaknya. Rambut hitam nan panjang pria itu menggelitiki area leher dan sebelah pipinya.
"Oppa??"
_________________________________
Kedua tubuh yang hanya terbalut selimut tipis itu saling menyatu dengan syahdu. Erangan erotis begitu kentara di dalam kamar bernuansa klasik itu. Pilar-pilar yang menjulang di keempat sudut ranjang itu menggantungkan kelambu yang tak sepenuhnya menyelubungi ranjang itu.
Tampak siluet kedua insan yang sedang memadu kasih itu saling bergerak, berirama. Membentuk tarian erotik yang membangkitkan birahi.
"Kamu yakin, ah... Emm... Bisa melakukannya sendiri?" ucap si wanita disela kegiatan panasnya. Rambutnya yang ditarik kebelakang membuatnya mendongak, memandang mata gelap si pria yang tengah terbakar birahi.
"Hemmh..." pria itu memejamkan mata, menikmati setiap tusukan yang ia hujamkan ke dalam surgawi si wanita.
Setelah mendapat pelepasannya, si pria terduduk, memandangi bekas percintaannya dengan sang kekasih, yang masih terasa hangat mengaliri lubang surgawi si wanita.
Pria itu meremas bokong sang kekasih, sebelum membalikkan posisinya agar terlentang. "Jangan ikut campur...!" kata si pria. Nada suaranya lembut, namun penuh penekanan.
Wanita berkulit putih itu merengut, ia menepuk pinggangnya yang terasa pegal sehabis menungging. "Kamu kalau yang senang-senang aja, ga mau berbagi. Aku juga pengen kan, menyiksa keluarga yang sudah membuang mu itu, mas Tio" sungut wanita yang sudah tak muda itu.
"Tari sudah memberikan desain kolaborasinya" ucap pria yang dipanggil Tio oleh si wanita.
"Eh, secepat itu?"
Tio mengangguk menanggapi pertanyaan kekasihnya itu. "Ini awal yang bagus. Aku tidak sabar, melihat ekspresi terkejutnya saat melihatku nanti" Tio tersenyum, senyum yang sangat wanita bermata sipit itu sukai dari kekasihnya.
"Apa dia akan mencurigai aku?" Tio membidik mata tajam nan sipit itu penuh arti. Seolah memiliki maksud untuk menyampaikan sesuatu yang bahkan sangat tabu untuk ia utarakan, walau hanya ada mereka berdua di kamar itu. "Hanya aku yang patut dicurigai, kan? Aku menghilang, bertepatan dengan kematian Bang Amrali" imbuhnya.
Wanita itu bangkit dari pembaringan, menyingkap selimut tipis yang hanya menutupi kaki jenjangnya, tangannya mengurai kain kelambu yang menyelubungi mereka di atas ranjang. Telapak kaki telanjangnya menyentuh lantai granit yang dingin.
"Bukankah kita sudah sepakat?" wanita itu berbalik, setelah meraih jubah gaun tidurnya yang tergantung di stand hanger.
"Sssttt..." ia mengerling nakal, telunjuknya ia rekatkan di permukaan bibirnya. "Yah, intinya tujuan kita sama... Makanya sampai saat ini kita masih bersama, bukan?" wanita itu mengenakan jubah gaun tidurnya, seraya melangkahkan kaki ke bathroom yang ada di dalam kamar.
To be continue...