Traffic Light

Traffic Light
MENJEMPUT



Darrel memeluk tubuh sang istri dari belakang, tentu saja tubuh yang dipeluk tersentak kaget, "Astaga!" Leia terpekik saat tangan kekar membelit perutnya. Armrest yang belum sempat disatukan pada kursi yang ia rakit, lolos begitu saja dari tangannya. Beruntung benda itu jatuh ke lantai, bukan ke kakinya.


Leia melirik tangan yang melingkar di perutnya. Ia kenal tangan itu, tangan hangat milik sang suami. Tapi aneh, punggungnya terasa ada yang mengganjal, seperti ada tangan dan kaki kecil yang menggeliat di punggungnya. Leia berbalik, mendapati suami dan putrinya yang sedang tersenyum ke arahnya.


Senang?


Iya, tentu saja Leia senang! Bagaimana tidak? Pria berdarah Belgia-korea itu mulai mengisi ruang hati Leia yang hampa, sebab ditinggal sang kekasih hati.


Seperti dihipnotis, tangannya terjulur sendiri meraup kedua rahang kokoh sang suami. Jantungnya berdegup kencang, tatkala matanya beradu dengan mata teduh sang suami. Kakinya refleks berjinjit seraya menarik rahang pria bule itu lebih mendekat ke wajahnya. Mata Leia mulai terpejam saat bibirnya menyapu lembut bibir suami.


Selama kurang lebih 50 detik, kedua bibir itu saling bertaut, memangut, saling menggoda hingga menghasilkan bunyi decakan basah di dalam ruangan yang hampir semua dindingnya bermaterial kaca.


Perlahan Leia membuka mata, ia langsung membulatkan matanya saat melihat dua sosok yang melongo di dekat pintu. Telunjuk Hasna mengacung, tepat mengarah ke arahnya dan Darrel sekarang. Sedangkan Gagit, membuka mulutnya tak percaya dengan penglihatannya sendiri.


Leia langsung memutus pertautan bibirnya dan bibir sang suami. Ahh... Leia malu!! Sumpah!! Leia pikir karyawannya itu sudah pulang!


Sudah jam berapa ini? Bukannya mereka harus pulang, jika sudah waktunya pulang? Haahh... Dasar... Pengganggu! Leia


Eh...


Kenapa Leia menyalahkan Gagit dan Hasna? Ck, yang tiba-tiba kesetanan kerja sebenarnya siapa sih? Sampai membuat karyawannya tidak enak jika pulang terlebih dahulu sedari tadi karena segan.


"Kenapa?" tanya Darrel polos, sepolos pantat bayi. Ugh.... Dasar!!


Leia menutup wajahnya malu, bersembunyi di depan tubuh putrinya yang sedang berceloteh sambil menarik-narik rambut maminya.


Darrel menoleh kebelakang, yang ia perkirakan menjadi penyebab istrinya menjadi malu. "Aah... Mereka penyebabnya?" tanya Darrel, yang langsung diangguki Leia.


Ck, kasian Eden! Keberadaannya transparan saat kedua orang tuanya berpangutan tadi. Malah menyalahkan dua orang karyawan yang tak berdosa. Padahal bocah itu sedari tadi berada di antara mereka juga.


Rambut Leia sudah aut-autan akibat jemari kecil Eden yang tadi menarik-nariknya. "Ekhem..." Leia berdehem seraya merapikan rambut lurusnya. "Kenapa masih di sini? Ga pulang?" Leia menepis rasa malu dan mulai bertanya pada kedua karyawannya dengan gelagat datar seperti biasanya.


"Kami tadi mau ijin pulang, tapi sepertinya mbak Leia sedang ga bisa di ganggu" jawab Hasna, tapi fokus matanya mengarah ke pria yang sedang sibuk bercengkrama dengan bayi dalam gendongannya. Hasna heran, apa pria bule itu bisa bahasa bayi? Sampai bisa bercengkrama seperti itu?


Namun di penglihatan Leia, Hasna tampak sedang menatap kagum paras suaminya, aura matanya berubah tajam.


Padahal bukan!!


Astaga...


Hasna hanya terheran dan memperhatikan interaksi pria dewasa dan bayi mungil itu. Ocehan bayi lucu itu dapat di jawab secara gamblang oleh si pria bule. Anehnya, bayi itu menanggapi, seolah-olah keduanya memang terlibat dalam sebuah percakapan. Berdialog dengan bahasa bayi, mungkin?


Tapi tetap saja Leia salah server, ia pun bertindak menghalau harapan Hasna yang sebenarnya tidak ada. Leia bahkan berpikiran, mungkin saja rasa itu sedang berproses di dalam hati wanita manis itu. "Pulang aja kalo emang udah waktunya pulang. Oh iya, kenalin. Ini suami dan putriku" Leia menekankan kata 'suami dan putriku' untuk mmperjelas status pria di sampingnya.


Eh...


Bukan memperjelas statusnya tapi status suaminya?


Haduh Leia, mulai timbul bara cemburunya.


"Haah!! Bu bos udah menikah?" kini Gagit yang memberi respon, pria berkulit putih dengan wajah yang lucu mirip kelinci itu mencoba menolak kenyataan.


Leia mengangguk, "Oppa ke atas dulu, ntar aku nyusul" Leia menunjuk ruangan atas yang terdapat kaca tebal sebagai lantainya. Dengan tujuan memudahkan pengawasan saat Leia sedang berkerja di bawah. Benar, itu adalah ruangan yang Leia renovasi untuk Eden, saat Leia membawa Eden berkerja nanti.


Leia mendorong tubuh suaminya menuju tangga, mengecup sekilas secara bergilir pipi putri dan suaminya.


Ternyata, berkerja selama tiga bulan di bawah naungan bos bertalenta tinggi, di bidang meubel dan interior itu, tidak membuat mereka tau tentang seluk beluk pemilik studio meubel HAN, tempat mereka mencari nafkah.


Jika suami dari bosnya tidak datang kemari, mungkin saja selamanya mereka tak akan pernah tau fakta tentang bosnya yang sudah membina rumah tangga.


"Bu bos, udah berkeluarga kok ga bilang-bilang sih?" keluh Gagit, sesaat pria bule bertubuh tinggi itu lenyap dari pandangan.


"Lah, apa urusannya?" Leia bingung, kenapa pula ia harus membeberkan perihal statusnya yang sudah berkeluarga?


"Aku kan kerja di sini buat ngincar bu bos!!" kesal Gagit sambil melipat tangan di antara perut dan dadanya.


Hasna menjulurkan lengan baju hingga menutupi ujung jemarinya, sebagai perisai agar kulitnya tak bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya. Ia bersiap menggeplak pria manis yang dengan lancangnya berniat memacari istri orang.


BUK...


Bunyi yang hanya terdengar di telinga Gagit, pasalnya pukulan telak bocil di sampingnya cukup keras hingga membuat kepalanya berdenyut.


"Aakkh!!" pekik Gagit kesakitan, tangannya mengelus-elus tempurung kepalanya yang mendapat serangan fatal dari wanita berhijab di sampingnya.


Gagit membalas Hasna dengan tatapan ingin membunuh. Eeitss, cuma tatapan dong, tidak benar-benar ingin membunuh. Tak mungkinkan? Seorang pria manis seperti Gagit, membalas perlakuan kasar Hasna. Jatuh dong pamor, di depan bu boss cantiknya. Sedangkan Hasna, masa bodoh deh, dengan pria heboh yang suka menjahili dirinya setiap hari kerja.


"Sudah-sudah, lebih baik kalian pulang saja" Leia melerai pergelutan kedua karyawannya. "Hasna, kamu bawa aja kuncinya!" Leia tak tahan lagi untuk mengusir kedua orang itu. "Saya ada pegang duplikatnya. Buruan pulang!" titahnya.


Setelah kedua karyawannya pergi, Leia menutup pintu seraya menghela nafasnya. Ia melirik ke atas, ke ruangan dengan kaca sebagai lantainya. Terlihat anak dan suaminya mengintip di balik lantai kaca dengan tidak sabar. Leia tersenyum, kakinya tak sabar melangkah ke keluarga kecilnya berada. Ini kunjungan pertama Darrel dan Eden di tempat kerja Leia.


________________________________


"Yah... Ini makam siapa?"


"Pamanmu"


"Ayah..."


"Kenapa?"


"Sejak kapan ayah punya keluarga? Bukannya ayah dari panti asuhan ya?"


"Kau juga punya sepupu"


"Apa!"


"Heleia, Heleia Esmee"


Deg... Tubuhnya menegang, saat mendengar nama yang ia rindukan.


To be continue...


Bu Boss, Heleia.



Komandan Bule, Darrel.