Traffic Light

Traffic Light
SUDAH SAH



Siang itu, Darrel menunggu Leia di cafe yang letak nya tepat di depan kantor urusan agama. Ia menyedot ice americano seraya memainkan ponsel pintarnya. Sementara Leia, masih di perempatan jalan menuju kantor urusan agama. Ia berhenti sejenak, karena traffic light pejalan kaki menyala merah. Ia kembali melangkahkan kakinya tatkala traffic light pejalan kaki berubah menjadi hijau.


Mata Leia menangkap sosok pria yang baru di jumpai nya tadi pagi itu di dalam cafe. Pria itu menggunakan pakaian formal, kemeja putih beserta jas dan celana kain hitam. Seolah mereka janjian, Leia pun menggunakan kemeja putih dan celana kulot hitam. Leia yang menyadarinya langsung terkekeh, "Emang jodoh mungkin" pikirnya. Leia pun menghampiri Darrel yang saat itu sedang asyik dengan ponselnya.


"Udah lama nunggu?" Leia menarik kursi lalu mendudukinya.


"Ehh..." Darrel terkejut, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Ngga kok, di luar panas, makanya aku nunggu di sini" celotehnya. Darrel melirik baju Leia, kemudian melihat baju yang di kenakan nya. "Kita samaan, kaya lagi janjian" menunjuk baju nya dan Leia secara bergantian.


"Namanya juga jodoh" celetuknya, ia mengambil ice americano milik Darrel dan meminumnya. Seketika mata Darrel terbelalak.


Waahh... Ini perempuan udah berapa kali bikin aku sport jantung. Dari bawa anak, ngajak nikah, dan ternyata dia anak aunty Neftari. Terus sekarang nyeletuk jodoh lagi. Tapi, emang bener sih bentar lagi jadi jodoh, hehe. Darrel menyengir.


"Kenapa kamu cengar cengir gitu?" ketus Leia yang masih meminum minuman Darrel.


"Hem? Ngga kenapa-kenapa kok. Ayo, kita kesana" telunjuknya mengarah ke kantor urusan agama yang letaknya bersebrangan dengan cafe. "Biar jadi jodoh yang sah" ia bangkit dari kursinya dan mengulurkan tangannya pada Leia.


Leia menyambut tangan Darrel tanpa menjawab pertanyaan nya. Darrel berlalu sambil memegang tangan kanan Leia. Sementara itu tangan kiri Leia mengambil ponsel Darrel yang terlupakan oleh pemiliknya di atas meja, kemudian memasukkan ponsel itu ke dalam tas minisonya. Mereka pun masuk ke kantor urusan agama untuk mengikat tali pernikahan secara agama di sana.


Empat puluh lima menit telah berlalu, Leia dan Darrel keluar dari kantor urusan agama. Mereka berdampingan menuruni satu persatu anak tangga yang sebelumnya mereka naiki saat masuk tadi. Darrel meraih tangan Leia hingga membuat langkah Leia terhenti.


"Aku ingin bicara" Darrel menghadap Leia.


"Bicaralah" Leia memperhatikan raut wajah Darrel. Sebelum berbicara, Darrel terlihat menarik nafasnya dalam-dalam.


"Leia, aku ga mau main-main dengan ikatan yang dinamakan pernikahan ini. Apapun alasan kita menikah, kamu dan aku. Kita, telah resmi menjadi suami istri. Walaupun aku berbohong tentang kelahiran Eden, tapi ini semua aku lakukan untuk melindunginya. Aku akan memenuhi kewajiban ku sebagai suamimu, kamu pun harus begitu. Ahh... Ada satu lagi hal yang harus aku tegaskan. Aku tidak mentoleransi kata perceraian! Jangan pernah kamu ucapkan kata itu! Kamu paham?" mata tegasnya menatap mata Leia, Leia menelan air liurnya.


"Tenang saja. Aku tidak akan menyakitimu. Selama kamu jadi istri yang baik!" seringai di wajahnya mencuat, Darrel melepaskan tangannya dari pipi Leia. "Ayo kita pulang" ajaknya. Ia pun berlalu sambil memasukan kedua tangan kedalam saku celananya


Sial, panas dingin dibuatnya. Apa apaan matanya itu, aku sampe ngerasa dia tau apa yang aku pikirkan!! Pria macam apa dia ini!! . Leia


"Eum... Apa kamu bawa mobil?" Leia mengikuti Darrel yang sudah berlalu di depannya.


"Ngga, kamu?"


"Sama" tukas Leia.


"Apanya?" langkahnya terhenti, Darrel membalikan badannya menghadap Leia.


"Ga bawa mobil" Leia terkesiap dengan gerak spontan Darrel.


"Ya udah, pake bus aja" Darrel meraih tangan Leia dan menggandengnya. Kemudian kembali melangkahkan kakinya ke halte bus.


Ya Tuhan, jantungku. Leia


"Hem" ia menunduk malu, karena berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan dengan Darrel.


To be continue...