
"Segitu senengnya punya cucu?" ia mencium pipi ibunya sebelum berbicara.
"YA TUHAN!!" Neftari terkejut, membuat baby Eden terlepas dari naungannya, untung saja tangan Darrel dengan sigap menangkap baby Eden. "Kamu yah!! Ngagetin tau!" matanya mempelototi Leia kemudian tersenyum dan berterimakasih pada Darrel yang reflek nya cepat.
"Ya ampun!! Eden!!" Leia yang tak kalah terkejut langsung merebut Eden dari gendongan Darrel. "Ibu hati-hati dong!! Aduh... jantungku. Untung bapaknya cepat tangkas" omelnya pada Neftari. Leia mengelus-elus punggung Eden dengan sayang.
Ketukan Yugi di pintu kamar menghentikan drama pagi yang dibuat oleh ibu dan anak itu. Yugi membawa sebotol susu untuk Eden, kemudian memberikannya pada Leia.
"Tuan, di depan ada tamu yang mencari tuan" Yugi berbicara pada Darrel.
"Hem, baiklah" Darrel pun menepuk bahu Yugi. "Terimakasih" ucapnya pada Yugi. "Bu, saya permisi menemui tamu saya dulu" ia menundukkan kepalanya pada Neftari memberi hormat. "Aku menemui orang yang mengantar surat nikah kita" bisik nya lagi pada Leia yang di tanggapi anggukan oleh Leia. Darrel pun berlalu menuju ruang tamu.
"Siapa?" tanya Neftari ke Leia.
"Kurir mungkin" singkatnya.
"Oh, terus tadi bisik-bisik apaan?"
"Iih.. Ibu kepo deh" ketus Leia
Di ruang tamu, Handoko sudah duduk di sofa, menunggu Darrel dengan wajah kesal. Darrel yang melihat ekspresi atasannya itupun mulai cekikikan. Handoko yang mendengar cekikikan Darrel sontak menoleh.
"Heeii, bocah Edan!! Berani sekali kau nyuruh-nyuruh atasan mu ini!! Pengen di pecat ya??" teriak Handoko penuh amarah.
"Sstt... Namanya Eden bukan Edan. Yaaah, kalo ga mau di suruh kenapa kemari?" sewotnya, lantas Darrel mendudukkan bokongnya ke sofa tepat di depan Handoko.
"Siapa Eden?" pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya. Darrel mendekatkan wajahnya pada Handoko, ia pun otomatis mendekatkan wajahnya juga.
"Cucumu" jawab Darrel sedikit berbisik.
"Ada apa ini?? Darrel??" wajah panik Neftari menatap Darrel.
"Ga ada apa-apa bu, kita lagi bahas kerjaan, beliau cuma kaget" jelasnya pada ibu mertuanya. Darrel beranjak dari kursinya menghampiri Leia, bibirnya mendekat ke telinga Leia seraya berbisik "Berikan Eden padaku, aku mau menunjukannya pada kakeknya. Orang itu ayah kandungnya Stevi" ia menunjuk Handoko dengan dagunya. Leia terkesiap, ia pun memberikan Eden pada Darrel.
"Bu, kita ke kamar yuk, ada yang mau omongin" Leia menarik tangan ibunya sampai ke kamar.
Neftari terheran-heran dengan tingkah anak dan menantunya itupun mengikuti Leia seraya memutar malas bola matanya. Darrel yang sedang menggendong Eden, menghampiri Handoko yang masih terkejut dan duduk di sebelahnya. Handoko melihat Eden, seketika ujung matanya nya mulai berair. Handoko mengelus kepala bayi yang sedang anteng itu.
"Ayahnya Nickholas, target terakhir kita. Stevi sempat memberi kode padaku lewat email, aku rasa kematiannya pun ada campur tangan Nick. Dia mungkin tau tentang kehamilan Stevi, dan ingin menyingkirkan keduanya. Karena Stevi dan bayinya akan jadi penghalang untuk Nick. Dia kan mau menikah dengan kakak ku" ujarnya seraya mengelus lembut pipi chubby Eden.
"Jika benar seperti itu, aku tidak akan mengampuninya!! Nyawa putriku harus di bayar dengan nyawanya juga" tubuh Handoko bergetar penuh amarah.
"Aku mengakuinya sebagai anak ku dan Leia akan menjadi ibunya. Lebih baik seperti itu. Lalu cepat urus kematian Stevi di kepolisian. Anaknya harus di nyatakan mati bersama ibunya agar Eden selamat. Nick tidak akan tau kebenarannya"
"Baiklah. Eum... Bolehkah aku menggendong cucuku?" pinta Handoko memelas.
"Tentu saja" Darrel pun memberikan Eden untuk di gendong Handoko. Handoko pun bermain dengan cucunya itu. Senyum sumringah di wajah Handoko membuat Darrel tersenyum juga. "Ah, satu hal lagi. Tolong urus kesaksian dokter dan petugas medis di rumah sakit universitas Benua Samudra. Kalo tidak salah nama dokternya... Hmm... Duke? Mike? Guk? Aahh... Aku lupa!!" ia mengacak-acak rambutnya sambil mengingat-ingat nama dokter yang membantu Leia. "Aha... Luke! Yaa, benar Luke!" ia menjentikkan jarinya.
"Haha... Dasar kau bocah tengil" Handoko memukul belakang kepala Darrel.
"Aakkhh... SHIT!!!" Darrel memegangi kepala yang di pukul lalu menatap Handoko sinis. "Dasar pak tua pemarah yang tidak tau berterima kasih! Pokoknya nih ya, melindungi dan mengakui cucumu sebagai anak ku itu, aku anggap sebagai pelunasan hutang budiku padamu yang udah selamatin aku dulu. Camkan itu pak tua bangka pemarah" omelnya.
"Kau mengumpatku?? Haah... Dasar Bule Edan!!!" Handoko pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada rasa kesal dan marah saat berhadapan dengan anak buahnya yang juga muridnya itu, namun tidak di pungkiri jika Handoko juga sangat menyayangi Darrel yang telah bersamanya selama kurang lebih 13 tahun.
To be continue...