
"Gimana menurutmu?" Handoko menyesap gulungan tembakau yang ia racik sendiri. Matanya beralih menatap Kris, kawan sejawatnya di BIN yang sudah pensiun setahun yang lalu.
Bau tanah dan rumput basah mendominasi penciuman kedua orang yang sedang berkemah di gunung. Segerombolan serangga bersayap tampak mengelilingi pijar lampu teplok yang temaram.
"Seperti itu..." Kris menunjuk gerombolan serangga yang perlahan berkurang karena mati kepanasan, tertarik oleh pijar yang mereka kerubungi.
Handoko mengikuti arah telunjuk Kris, yang mengarah ke lampu teplok di dekat tenda.
"Jasadnya ada, tapi tidak berbau busuk?" dia mengambil laron yang mati di atas terpal yang digelar, pengganti lantai.
"Maksudnya?" wajah Handoko tampak serius, "Jelaskan lebih rinci!" ia melipat tangan di depan dadanya. Bersandar di kursi camping yang terlihat nyaman.
"Gini loh... Padahal sebelum mati baunya sangat busuk, kan?" Kris mengendus laron yang sudah tak bernyawa itu.
Handoko mengangguk, tentu saja baunya busuk, itu kan laron.
"Sekarang baunya hangus" Kris menyodorkan laron itu ke wajah Handoko.
Handoko menepis tangan Kris, wajahnya terlihat kesal. Candaan Kris sungguh unfaedah. Padahal sebelumnya Handoko tengah membahas tentang kasus yang membunuh satu persatu rekannya di BIN. Handoko semakin kesal karena Kris menertawakan candaannya sendiri. "Pengen mati ya?" kecam Handoko.
Kris menghela nafasnya "Semuanya bakal mati, dude!" ia menyenderkan punggungnya di kursi camping pula. Memandang langit yang tampak cerah berbintang, padahal satu jam yang lalu dirudung hujan. "Bisa jadi target selanjutnya itu aku" Kris mengendikkan bahunya.
"Aku serius... Kau ingat, kasus empat belas tahun yang lalu? Saat kita bertiga bertugas di Filipina" Handoko menegakkan tubuhnya, menautkan seluruh jarinya.
"Ah, penyeludupan senjata dan obat itu?"
"Hem..." Handoko mengangguk. "Kau ingat, remaja yang Amrali tolong waktu kita mengintai gudang persembunyian gembong itu?" Wajah Handoko tampak serius membahas masalah ini.
"Tentu saja... Begundal itu menyuruhmu untuk merawat anak itu, kan? Wah, kalau dipikir waktu itu, malang sekali nasibnya. Apa gembong itu melakukan human trafficking juga, ya? Tapi kenapa dia hanya seorang diri di sana? Ga masuk akal" Kris memejamkan matanya, membayangkan nasib remaja malang yang diselamatkan Amrali. Ia menaruh lengannya di kening, raut wajahnya tampak berpikir keras.
"Kau baru penasaran sekarang? Auh, idiot!!" Handoko memukul lengan yang tergeletak di kening Kris.
"Jangan kekanakan seperti itu! Aku lebih tua lima tahun darimu. Lagipula umur kita sudah uzur" protes Kris.
"Kau saja yang uzur!! Aku menolak tua, ck" Handoko kembali menghisap asap tembakau yang baunya menyengat itu.
"Jadi, gimana? Anak itu kenapa bisa ada di sana?"
"Menurutku... Semacam dendam pribadi"
"Why?"
"Hmm... Setelah anak itu diselamatkan, ia terus mengiggau, 'Ne pas, Madame! Ne pas' katanya. Ekspresinya selalu ketakutan" Handoko mempraktikkan racauan saat anak yang diculik itu saat mengiggau.
"Madame?"
Handoko mengangguk "Aku penasaran dengan Madame yang selalu jadi mimpi buruk anak laki-laki itu. Apa kepala gembong itu seorang wanita? Tapi, itu ga mungkin, aku sudah memeriksanya. pimpinan mereka pria berkebangsaan Amerika" Handoko tampak serius memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
"Bisa saja wanita itu algojonya. Bentar, sepertinya kau masih berhubungan dengan anak itu?"
"Hmm... Algojo ya... Hehe, tentu saja. Dia penganut fanatisme akut. Dia mengidolakan aku" bisiknya berbangga diri.
"Ngapain sih bisik-bisik? Ga ada orang lain juga selain kita di sini" Kris mendorong wajah Handoko yang begitu dekat di telinganya.
"Kau tak penasaran identitas asli anak itu?"
"Emang dia siapa?"
"Lagrou Corp.? Bukannya itu perusahaan termansyur di Eropa?" Kris shock bukan main.
"That's right" Handoko menjentikkan jarinya.
"Tapi kenapa bisa diculik sampai ke asia? Kenapa ya?"
"Itu dia!! Aku rasa kasus yang belum tuntas empat belas tahun yang lalu dan kasus yang sekarang ini terhubung. Terlalu banyak kesamaan"
"Blue yaa...?"
Handoko mengangguk, "Mau gimanapun kasus demi kasus tampak terhubung. Kau tau? Gembong yang kita intai di Filipina waktu itu, sekarang ada di sini"
Spontan, Kris menegakkan punggungnya, "Disini?" matanya terbelalak.
Handoko mengangguk, mengambil teropongnya dan memperhatikan mansion tua di bawah bukit. Ia melihat mobil X-Trail keluar dari mansion di bawah bukit. Pria itu menilik nomor plat kendaraan mobil itu. Segera dia mengetik nomor plat mobil itu dan mengirimnya ke Jeki untuk di periksa.
"Itu alasan kau mengajakku kemari? Aku sudah pensiun, wahai anemon laut terkutuk!" Kris beranjak ke dalam tenda, membereskan ranselnya. Tampaknya, mantan direktur BIN itu merajuk.
"Bang...! Abaang...!!" Handoko menahan Kris agar tak pergi. "Please bang, bantu aku sekali ini aja. Cuma abang, aku dan almarhum Amrali yang tau kasus itu. Bantu aku, hem?" ia kembali membongkar isi ransel yang dikemas Kris tadi.
"Lihat lah bocah tengik satu ini, pas ada maunya aja manggil 'Abang... Abaang...' Ck" Kris menepis tangan Handoko yang menarik-narik bajunya. "Lepasin ini! Sebelum ku patahkan tanganmu!" ancam Kris.
"Please bang... Feeling aku ga mungkin meleset! Aku yakin, kedua kasus itu terhubung"
_________________________________
Mobil X-Trail itu melaju di jalan tanah melewati rimbunnya pepohonan tanpa penerang jalan, selain lampu mobilnya. Tubuhnya bergoyang mengikuti permukaan jalan hutan yang tidak rata. Pria berambut ikal itu menyibakkan rambutnya kebelakang, seraya menggigit ujung bibirnya. Dia seperti menahan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya.
Ban mobil yang penuh tanah itu mulai menapaki permukaan jalan beraspal. Pria itu semakin menambah kecepatan laju mobilnya di atas rata-rata.
_________________________________
Rasanya begitu berat menapakkan kaki di depan rumah pujaan hati yang sudah menjadi milik orang lain. Dewa gelisah di dalam mobil. Meragu, ingin turun tapi akalnya menolak keras. Tapi tekadnya begitu kuat saat memantapkan diri untuk berkunjung ke rumah pujaan hatinya yang telah bersuami.
"Cuma silahturahmi... Sekedar silahturahmi!" tekannya pada diri sendiri. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya secara perlahan. Berulang-ulang ia melakukan olah nafas untuk menenangkan dirinya.
Ia melihat dirinya di pantulan kaca spion, membetulkan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Dia mengecek lagi penampilan agar terlihat keren di mata pujaan hatinya.
Saat Dewa akan membuka pintu mobilnya, ada sesuatu yang menahan pintu itu agar tidak terbuka. Dewa melihat ke luar jendela mobil.
Deg... Deg... Deg...
Ternyata Neftari menahan pintu mobil dewa yang tidak bisa terbuka tadi. Jantung Dewa berdegup kencang. Alih-alih bertemu sang pujaan hati, ia malah bertemu dengan ibu dari pujaan hatinya.
Neftari mengetuk kaca jendela, jemarinya mengisyaratkan untuk menurunkan kaca jendela itu. Dengan tangan gemetar Dewa menekan switch power window di sisi pintu kemudinya.
"Malam tante" Dewa memasang senyum ramahnya ke mantan calon ibu mertuanya itu.
Neftari membalas senyum tapi tak membalas sapaan selamat malam yang Dewa ucapkan. "Mainnya besok aja ya Wa, Jangan malam-malam begini. Sekarang kamu pulang aja dulu. Lagian Leianya ga bisa nyambut tamu. Dia kan harus ngurusin suami dan anaknya. Pahamkan maksud tante?" Neftari berucap lembut, tapi entah mengapa hati Dewa seperti tersayat karena ucapan lembut yang mengandung silet itu.
Dewa tersenyum getir, pria tampan itu mengangguk dan mengucapkan salam. Lagi-lagi Neftari tak menanggapi salam pria itu. Dewa memacu kembali mobil berwarna hitam itu ke kediamannya. Hatinya sakit karena gagal menemui sang pujaan hati.
To be continue...