
Darrel lagi - lagi melirik ibunya, mata Heena menangkap mata Darrel yang penuh keraguan.
"Apa?" tanya Heena sambil mengiris steiknya.
"Eum??" Darrel sedang mengunyah sayur beserta steiknya.
"Mau ngomong apa? Kamu ada yang mau di omongin sama eomma kan?" memasukkan asparagus kedalam mulutnya.
"Emm... Eomma... Aku mau tidur di samping eomma, boleh?" tanya Darrel malu - malu.
"Hahaha... Kamu emang masih bayi, utuuuk uutuuk uutuuukk" mencubit pipi Darrel yang gendut.
Sewaktu kecil badan Darrel memang gendut, itu karena kakak - kakak tirinya tidak menyukai Darrel dan selalu membuat Darrel makan dengan berlebihan agar bisa di bully saat sekolah.
"Baiklah, bayi besar eomma malam ini tidur dengan eomma yang cantik, haha" Heena mengacak rambut Darrel.
Setelah makan mereka membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Heena sudah berbaring di atas kasur, disusul Darrel yang langsung memeluk dan mencium lengan ibunya. Heena mengelus punggung Darrel, menina bobokannya, sampai akhirnya mereka terlelap.
Darrel merasa kepanasan dadanya terasa sesak. Tidurnya menjadi gelisah, ia membolak balikkan badannya kekanan dan kekiri. Sesaat tersadar sang ibu tak ada di sampingnya. Ia bangun dari tidurnya, betapa terkejutnya ia saat membuka mata, api menjalar di depan pintu kamarnya yang terbuka. Ia melihat ibunya tergeletak di depan kamarnya, tubuhnya hampir tersulut api yang mengelilinginya. Darrel berteriak histeris, meminta tolong. Tapi percuma, ini di tengah hutan, tidak ada orang selain mereka berdua. Di luar jendela kamar, Darrel menangkap sosok seseorang, ia membuka jendela dan menghampiri orang itu untuk menolong ibunya.
Ia memohon pada laki - laki berbaju serba hitam itu agar membawa ibunya keluar. Bukannya menolong, orang itu malah memukul tengkuk Darrel hingga pingsan, dan membawa Darrel menjauhi villa yang apinya mulai membesar. Keesokan harinya, orang tua Heena kembali ke villa. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan villa, polisi dan pemadam kebakaran hutan sudah mengevakuasi area yang terbakar. Mereka menemukan satu mayat, dan itu adalah Kim Heena. Isak tangis halmeoni pecah, halabeoji menelpon Smith untuk memberitahukan kejadian yang terjadi pada Heena dan cucunya yang masih hilang tak di temukan di TKP*.
*Tempat kejadian perkara.
Hati Smith tidak siap mendengar kepergian sang kekasih, tubuhnya bergetar menahan letupan tangisnya. Jantungnya berdegup kencang, namun ia harus kuat. Ia masih harus mencari buah cintanya dengan Heena. Ia meninggalkan pekerjaannya di belgia, dan berangkat ke Korea untuk mencari Darrel.
Sampai suatu saat, Darrel kembali dengan kedua kakinya sendiri. Ia berusaha bejalan hingga merangkak untuk sampai ke depan pintu mansion nya. Dengan wajah babak belur, tubuhnya yang gendut menjadi kurus kekurangan gizi, dan mengalami dehidrasi akut.
Smith Lagrou yang menemukan anak lelaki semata wayangnya itu, tergeletak di pelataran mansion nya. Pria paruh baya itu berucap syukur anak lelaki satu satunya telah kembali, walaupun kondisi Darrel sangat memprihatinkan. Darrel jadi pendiam, tatapan matanya kosong. Smith sangat mengkhawatirkan Darrel, ia begitu marah. Siapa yang berani mengganggu orang terkasihnya? Tatapan matanya menilik Nyonya Katie, orang pertama yang Smith curigai selama ini. Namun Smith tidak memiliki bukti. Oleh karenanya Smith menjadi seseorang yang suka tidur dengan banyak wanita. Ia menyalurkan kerinduannya pada Heena melalui s*ks bebas. Dan membuat Katie semakin murka. Selama lima bulan Darrel menjalani pengobatan dan terapi psikologis. Lambat laun kondisi fisiknya membaik, kondisi psikologisnya pun membaik, tetapi ia menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Dokter bilang, semua butuh proses.
Saat akan memulai sesi psikologis nya, Darrel menghilang dengan sepucuk surat,
Dear Daddy,
Biarkan aku sendiri, aku ingin keluar dari mansion yang sesak itu.
Jangan mencari ku!! Aku akan pulang jika waktunya sudah tepat.
Kumohon...
Biarkan aku melihat eomma sebentar. Biarkan aku mencari jati diriku.
My Love,
Daddy
To be continued...