Traffic Light

Traffic Light
ENTAHLAH



Darrel masuk ke dalam kamar, pria bertubuh kekar itu membawa botol susu formula milik Eden di tangannya. Leia sedang khusyuk menimang bayinya dengan penuh kasih, ia bahkan tak sadar dengan kedatangan suaminya di kamar. Darrel memeluk Leia dari belakang, ia menggoyangkan botol susu yang tadi dibawanya ke hadapan Eden. Seakan tau apa yang sedang disodorkan appanya, Eden menggerakkan tangan mungilnya seolah ingin meraih botol susu itu.


Leia memutar bola matanya, Darrel sangat kekanakkan pikirnya, mempermainkan anaknya saja! Leia mengambil botol susu itu dari tangan Darrel. Leia mengecek suhu susu di dalam botol dengan meneteskan sedikit di tangannya. Dirasa suhu susunya sudah pas, Leia memasukan dot susu ke dalam mulut putrinya.


Eden menyedot susu di dalam botol itu dengan semangat. Matanya berbinar ketika menghisap susu formula yang khusus dibuatkan oleh appanya. Senyum Leia mengembang, ia terlihat sangat menikmati peranannya sebagai ibu, ia bahagia. Leia memegangi botol susu yang sedang disedot baby Eden, sambil menatap netra kehijauan milik bayinya.


Sedangkan Darrel, ia sibuk menggerayangi tubuh langsing istrinya. Sepertinya, menghirup aroma tubuh sang istri membuat gairahnya cepat terbangkitkan. "Leia, sepertinya kamu harus menaikan berat badanmu. Tubuhmu kurus sekali" protes Darrel dengan suara yang berat. Darrel mengusap pinggang ramping istrinya. "Untung saja yang ini, sama yang ini, tembem" ucap Darrel sambil merem*s pant*t dan payud*ra Leia.


"Ck... Apa yang mau oppa omongin?" tanya Leia berdecak malas. Awalnya Leia, dengan wajah datarnya, sama sekali tidak merasa risih dengan kejahilan tangan Darrel yang mengusap area-area sensitif nya.


Darrel menghembuskan nafasnya kasar, "Bener kata ibu, aku harus siapin selimut yang tebal, biar ga kedinginan" Darrel menghentikan aktivitas tangannya, sulit sekali memprovokasi istrinya ini, pikir Darrel. Darrel melipat tangannya di depan dada dengan wajah yang ditekuk, ia dalam mode merajuk.


"Tadi oppa mau ngomongin soal apa?" tanya Leia lagi. Kali ini nadanya terdengar lembut, Leia merasa durhaka karena telah membuat suaminya merajuk.


Darrel menarik salah satu ujung bibirnya keatas, "난, 당신을 먹고 싶어 (nan, dangsin-eul meoggo sip-eo)" bisik Darrel menggoda, ia menggigit pelan daun telinga Leia.


Leia membelalakkan matanya, segera ia menjauhkan dirinya dari Darrel, mengusap telinganya yang berdesir aneh berkat gigitan suaminya. Jangan telinga!! Sungguh, itu adalah area tersensitif milik Leia. "Ga bisa!!" ucap Leia cepat dan agak ngegas.


Kini mata Darrel yang terbelalak, "Kamu ngerti?" tanya Darrel tak percaya. Padahal tadi, ia sengaja memakai bahasa korea untuk sekedar menggoda Leia. "Emang apa artinya?" Darrel menaikkan sebelah alisnya.


"Aku ingin makan kamu" Leia langsung menjawabnya. Benar, selama sebulan ini Leia sudah mempelajari kosa kata dasar bahasa ibu suaminya itu. Sebab, Darrel selalu saja mengisenginya dengan memakai bahasa korea.


Darrel mengangguk, karena yang dikatakan Leia itu benar. Isi botol susu Eden sudah tandas, Leia meletakkan Eden di box bayinya. Sedangkan Darrel, ia membututi istrinya seperti anak bebek yang tak mau kehilangan induknya.


Darrel merengkuh pinggang istrinya dari belakang, ia kembali mendekatkan bibirnya di daun telinga Leia. "Lanjutin yang kemarin dulu yuk. Baru aku kasih tau mau ngomongin tentang apa" Bujuk Darrel. Tubuh Leia bergetar.


Ya Tuhan, kupingku. Batin Leia menahan sensasi aneh yang didera tubuhnya.


Leia memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan. Ia berbalik menghadap suaminya, menatap netra biru gelap milik Darrel.


"Aku bilang tidak bisa" ucap Leia Lembut. Darrel menaikkan kedua alisnya ke atas. Leia menghembuskan nafasnya kasar. Dengan gerakan lembut, Leia meraih tangan Darrel dan mengarahkannya ke bagian kewanitaan nya. Ada penghalang seperti bantalan yang menghalangi pusaka itu.


Darrel memiringkan kepalanya tak mengerti. Leia tertawa melihat ekspresi lucu yang suaminya tunjukkan. Sungguh, itu ekspresi terpolos yang pernah Leia lihat selama ini. Suaminya ini sungguh tak terduga, bagaimana bisa Stevi membuat pria ini menjadi seorang ayah? Apa Stevi yang menjebaknya?


Entahlah, pikiran-pikiran aneh bergelayut di otak cantik milik Leia. Ia masih penasaran dengan hubungan suami dan almarhum temannya ini. Dadanya terasa penuh saat memikirkan itu, tawanya seketika terhenti dengan garing.


"Aku sedang haid, jadi tidak bisa" ucap Leia menunduk. Apa karena sedang pms? Emosi Leia jadi naik turun, sekarang perasaannya jadi melo.


"Iya. Memangnya oppa mau melakukannya? Sementara di dalam sini sedang berdarah. Lagi pula ini rasanya sakit! Coba saja jadi perempuan" sungut Leia.


Darrel menganggukkan kepalanya paham, ia bukannya tidak tau. Tentu saja Darrel belajar ilmu biologi dan tentang organ reproduksi. Tapi, Darrel mengabaikannya karena pikirnya tidak perlu, dulu Darrel tak berencana berkeluarga soalnya. "Maaf" ucap Darrel, ia memeluk Leia yang tampak sedih.


"Oeharabwoji datang. Sekarang beliau ada di rumah sakit" ucap Darrel tiba-tiba. Ia masih memeluk sambil membelai rambut lurus istrinya.


Leia mendongakkan kepalanya tiba-tiba, membuat kepalanya terhantuk dagu suaminya. "Aww" pekik Leia sambil mengelus puncak kepalanya. Mata Leia yang awalnya menyipit menjadi melebar ketika melihat darah di bibir suaminya. "Darah!! Ya ampun!!" Leia reflek berjinjit untuk menghisap darah yang mengalir di bibir bawah suaminya. Leia melebarkan matanya kembali saat sadar akan kelakuan tak terduganya itu.


Sudahlah, terlanjur basah. Leia memejamkan matanya menikmati darah bercampur liur di bibir suaminya.


Darrel hanya mematung menikmati sensasi yang di berikan istrinya itu. Jantung mereka menderu tak tentu, beradu siapa yang paling cepat debarannya. Darrel membalas ciuman istrinya dengan kikuk. Pangutan mereka terlepas dengan sendirinya, ketika pasukan oksigen menipis di dalam rongga dada mereka.


Darrel menempelkan dahinya di dahi Leia, sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya, begitupun Leia. Mereka saling bertatap dan melempar senyuman. Darrel mengecup sekilas dahi Leia. "Bersiaplah, kita harus menjenguknya bukan? Sekalian memperkenalkan kamu juga" ucap Darrel seraya mengusap sayang kepala Leia.


Leia mengangguk-anggukkan kepalanya, "Eden kita titip ke siapa? Ga mungkinkan kita bawa ke rumah sakit. Ibu dan mommy berkerja, daddy kan sudah pulang ke Brussel, kakak ipaar--? Jangan deh, aku ga percaya" Leia mengusap dagu dengan jemarinya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tenang saja, aku punya solusinya" ucap Darrel santuy.


"Apa itu? Apa bisa dipercaya?" Leia menautkan kedua alisnya. Jika sudah urusan Eden, Leia protektif sekali.


"Kamu bisa menyuruh Yugi untuk mengawasinya" saran Darrel yang paham kekhawatiran istrinya.


"Baiklah, Jam berapa kita pergi?" tanya Leia.


"Biarkan aku tidur tiga jam, baru kita pergi setelahnya" Darrel merentangkan tiga jarinya sambil menyengir.


"Tidurlah" Leia mengelus rambut hitam Darrel dengan sayang.


"Nina boboin" pinta Darrel manja.


Leia menganggukkan kepalanya, "Kemarilah" Leia menarik tangan Darrel, menuntunnya ke atas kasur. Leia membaringkan tubuh suaminya diikuti dirinya di atas kasur. Leia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Darrel. Darrel kini dalam dekapan Leia, Darrel tak menyia-nyiakan kesempatan di depannya untuk menempeli wajahnya di kedua buah dada milik Leia.


Tanpa sadar Darrel pun tertidur dengan sendirinya dalam buaian Leia. Leia mendengar dengkuran halus dari suaminya. Ia pun mengecup mata Darrel dan melepaskan dekapannya. Membiarkan Darrel dalam naungan alam bawah sadarnya.


To be continue...