Traffic Light

Traffic Light
CASE



Darrel meletakkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Handoko diam. Perlahan ia berjalan mendekati pintu. Dilihatnya pintu itu memang sedikit terbuka, ia mengintip celah pintu yang terbuka itu. Memastikan apakah ada orang yang mendengarkan percakapannya dengan Handoko barusan.


"Amy"


"Miaw" sahut kucing gembul kesayangan Leia.


Kucing itu sibuk memainkan gelas perunggu yang menjadi pajangan di atas buffet.


"Amy" panggil Darrel lagi, kali ini Darrel menggunakan tepukkan tangannya untuk memanggil Amy. Dengan langkah besar kucing bermata belang itu menghampiri kaki Darrel yang berbulu. Menggosok-gosokkan tubuh gembul berbulu nya di betis Darrel dengan manja.


Jika biasanya kucing berjenis maine coon itu suka berinteraksi dengan manusia. Tapi tidak dengan Amy, ia kucing yang sensitif dan tak suka di sentuh oleh orang selain pemiliknya. Amy akan menjadi auto galak, mencakar dan mengigit siapapun yang menyentuhnya.


Ajaibnya, walaupun saat itu pertama kalinya Amy bertemu dengan Darrel, kucing bertubuh besar itu mau berinteraksi dengan manusia selain dengan pemiliknya, yaitu Leia. Amy kucing yang aktif namun pemalu. Leia saja sampai iri melihat kedekatan Darrel dengan binatang kesayangannya itu.


Darrel melatih kucing dengan panjang hampir satu meter itu agar menjadi kucing yang pintar. Kucing itu bagai mengerti perkataan serta perintah dari Darrel dan Amy mematuhinya. Leia saja tidak bisa mengendalikan Amy ketika mode bermainnya sedang aktif.


Tak jarang, hiasan bunga dan buah di jadikannya mainan sampai hancur tak berbentuk akibat taringnya. Bahkan gorden yang tak bersalah, tak luput dari cabikan cakarnya untuk mempertajam cengkramannya itu.


"Kau nakal Amy! Apa kau yang menjatuhkannya?" Darrel memunguti gelas-gelas perunggu yang berjatuhan di depan kamar baby Eden.


"Miaaw" jawab Amy, seolah berbicara dengan Darrel.


Darrel menyusun gelas perunggu ke atas buffet yang terletak di dinding depan kamar Eden. Setelahnya, Darrel bercekak pinggang dan melipat tangannya di depan Dada.


Seakan paham sedang di marahi, Amy mendudukkan dirinya seraya menggoyangkan ekornya. Mata biru dan kuning milik Amy menatap Darrel dengan menggemaskan. Ia terus mengeong berharap Darrel tak memarahinya.


"Dor!" ucap Darrel. Pria itu menjadikan jemarinya sebagai pistol dan mengarahkannya ke Amy, seolah sedang menembaki kucing berbulu lebat itu.


Kucing berwarna putih perak itu menjatuhkan tubuhnya seolah dirinya telah tertembak.


"Berguling!" Darrel memutar telunjuknya sebagai isyarat.


Amy pun mengguling-gulingkan tubuhnya dengan penuh keimutan.


"Tos" Darrel melebarkan tangannya.


Kucing jumbo itu sudah seperti anjing, kaki depannya langsung meraih tangan Darrel, layaknya sedang melakukan high five. Amy mendengkur cukup keras saat bergelayut manja di kaki Darrel.


Tanpa ada yang tau, sebenarnya Darrel memperhatikan sosok yang sedang bersembunyi di balik sana. Ia sengaja mengalihkan perhatiannya ke Amy agar orang yang bersembunyi jadi Lengah.


I got you!! I'll take care of you later. Seringai Darrel**.


Setelah ia mengetahui siapa yang sudah mencuri dengar percakapannya itu, ia pun menyudahi sandiwara dengan kucing milik istrinya itu.


-------------------------


Alunan musik dengan beat cepat menghentam gendang telinga karena dentuman kerasnya. Seorang pria tampan memakai kaos turtle neck dipadukan dengan celana jeans biru gelap. Tengah duduk di atas bar stool sambil menyesap orange squash tanpa alkohol, pria itu terlihat sedang menanti seseorang


"Hay man" Nick memeluk pria yang memiliki tubuh tinggi hampir sama dengannya dan berambut ikal itu.


"I'm not fine, okay. Oh Fu*k. My fiance is causing trouble" keluh Nick pada pria itu. "Give me lime mojito" ucap Nick pada bartender sambil mengacungkan telunjuknya.


"Yes sir, wait a minute" bartender sekaligus mixologist itu memulai keahliannya dalam meracik minuman. Namun sayang, aksinya tak diperdulikan oleh kedua pelanggan tampan di depannya.


"What's wrong? tanya pria berwajah Jawa itu.


"She forced me to get married, and--" ucap Nick ragu.


"Where is the problem? You are engaged" protes pria yang bernama Dewa itu.


"I'm not done talking buddy" Nick memprotes balik.


"Ok, keep going" Dewa menggerakkan telunjuknya maju-mundur.


Nick menghela nafasnya "She's pregnant" bahu pria bermata hijau itu meluruh tanpa semangat.


"Hey, what are you worried about? You should be happy, right?" Dewa menepuk bahu Nick. Ia masih bingung, tak mengerti letak duduk permasalahan dimana. Sampai ia tersadar "You don't love her?" tanyanya memastikan.


Nick mengangkat kepalanya dan menatap netra hitam pekat milik Dewa. Tanpa menunggu jawaban dari mulut Nick, Dewa sudah mengetahui jawabannya dari sorot mata hijau itu.


"Shit, kalau kau tak mencintainya kenapa kau menanam benih mu itu di rahimnya gobl*k? Haah... Dasar bule biadab" umpat Dewa, ia meninju udara di depan wajah Nick saking kesalnya dengan pria yang pernah di selamatkan nya dulu, waktu masih bekerja di Irlandia, dan kini menjadi temannya itu.


"What are you talking about?" cicit Nick yang tak mengerti ocehan Dewa. Karena ia memang tak mengerti bahasa indonesia. Ia menyingkirkan kepalan tangan Dewa dari pandangannya.


Dewa mengibas-ibaskan tangannya di udara. "You don't need to know, jerk. You, Marry her!" titahnya menunjuk hidung Nick bagaikan seorang ayah yang memarahi anaknya. "Your 'precious' in her. Don't be a bastard man!!" Dewa menasehati pria yang sebenarnya malaikat berhati iblis itu.


Setelah menasehati temannya itu, Dewa tersenyum menampakkan gigi kelincinya di depan Nick, entah apa sebabnya.


"Freak" hujat Nick seraya menyesap mojitonya.


-------------------------


Di dalam ruangan bersuhu rendah, mayat-mayat berjejer menunggu kerabat atau keluarga untuk mengebumikan tubuh mereka. Luke mengembalikan mayat yang telah menjadi awal paginya, untuk melakukan tugas kedokteran yang diembannya.


Pagi tadi, Luke tiba-tiba di panggil pihak rumah sakit untuk melakukan autopsi pada mayat seorang anggota dewan. Karena dokter yang bertugas sedang menangani kasus lain, tentu saja kuota ahli patologi forensik yang sedikit menjadi penyebabnya. Hingga mengharuskan pria yang sebenarnya sudah menarik diri dari dunia forensik itu menjadi turun tangan.


Luke memang seorang ahli bedah. Namun sebenarnya, pria paruh baya dengan sejuta pesona itu memiliki lisensi lain, selain predikat ahli bedahnya. Ia juga seorang ahli patologi forensik. Di Irlandia ia di kenal sebagai father of forensics. Tapi ia memutuskan untuk hengkang dari dunia itu. Oleh karena itu, Luke melarikan diri ke Indonesia. Sekalian memantau buah hatinya.


Setelah melakukan pengambilan sample darah, untuk sementara ia menyimpulkan bahwasannya penyebab kematian pria yang bernama Fahri itu akibat kandungan morfin yang berlebih di dalam tubuhnya. Waktu kematian pun ia prediksi sekitar pukul 03.00 sampai 05.00 subuh.


Masih ada kejanggalan pada mayat pria kepala empat itu. Namun, Luke butuh waktu untuk mengecek. Luke telah mengambil sample jaringan sel kulit mayat itu untuk di periksanya. Sebab terdapat keanehan di kulit pria itu.


Luke memasukkan mayat Fahri ke dalam lemari mayat bersuhu rendah agar mayatnya terjaga. Tiba-tiba jiwa menelitinya jadi membuncah, ia sangat ingin membedah mayat Fahri yang di anggapnya menarik. Ada kemungkinan mayat yang sedang di tanganinya itu sebenarnya korban pembunuhan.


To be continue...