
Leia mengambil es batu dan memasukannya ke dalam ice pack. Ia mengompres kaki Darrel yang terlihat sedikit membengkak.
"Sakit?" Leia memijit sekitar permukaan kaki yang bengkak agar tak terlalu menyisakan lebam nantinya.
Darrel hanya menanggapinya dengan senyuman, ia mengelus pucuk kepala Leia dengan perasaan yang tak bisa dia artikan sendiri.
Leia mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan yang di lakukan Darrel terhadapnya. Dia harus segera menyamankan diri jika kelak Darrel menginginkan sentuhan yang lebih intensif.
"Istirahatlah, ice pack ini biarkan saja di kakimu. Semoga bengkaknya hilang" Leia berkata sambil menunduk, tangannya masih memijat sekitaran kaki Darrel yang bengkak.
Darrel merubah posisinya yang tadi duduk menjadi berbaring. Ia menarik tangan Leia yang hendak beranjak dari kasur membuat Leia kembali terduduk di tepian kasur itu.
"Kamu juga istirahatlah" Darrel menepuk sisi ranjang sebelah Eden yang rupanya sudah lelap.
"Sebaiknya aku pindahin Eden ke box dulu deh. Ntar ke gencet baby nya" Leia tertawa kecil, yang di jawab Darel dengan mangut mangut. Ia pun memindahkan Eden ke box bayinya.
"Tidurlah" perintah Darrel.
Leia pun tidur di samping suaminya. Darrel meletakkan lengan di atas keningnya, mencoba untuk tidur. Sesaat hampir terlelap, Leia membuyarkan keinginan Darrel untuk terlelap dengan pertanyaan konyolnya.
"Darl, udah sebulan kita menikah... Apa kita tidak melakukan malam pertama?" tanya Leia lirih.
Darrel membuka matanya lebar-lebar, ia menoleh Leia yang berbaring memunggunginya.
Ya Tuhan, apa yang coba wanita ini pikirkan? Apa dia mau menggodaku? Haahh... Baiklah kita luruskan saja. Syukur kalo emang rejeki, hehe. Pikiran mesum mulai memasuki otak Darrel.
"Apa kamu menginginkannya?" goda Darrel sambil mentoel-toel bahu Leia.
"Ehmm..." keringat dingin mulai muncul di dahi Leia.
Waduh, ini mulut celos banget ya? Kok bisa ngomong gitu sih?? Malam-malam gini lagi, nantang banget sih, atau emang kepengen apa yah? Haah... Jiwa jablay ku memberontak. Leia memejamkan matanya, merutuki dirinya yang telah berucap konyol.
"Ingin sekarang??" merasa tak ada tanggapan dari Leia, Darrel mulai menggerakkan tangannya. Bergerilya di bawah piyama Leia yang mulai terangkat.
Leia merasakan tangan hangat Darrel menyentuh pinggangnya membuat dirinya tersentak kaget.
"Tunggu..." sergah Leia sambil menghentikan tangan Darrel yang sudah nakal naik menyentuh payud*ra nya.
"Kenapa?" tanya Darrel yang menyandarkan kepalanya ke punggung Leia.
"Kakimu kan sedang terluka" keles Leia secepat kilat.
"Tak apa" Darrel memeluk pinggang Leia, menghirup aroma camelia yang menyeruak dari tubuh Leia.
Gimana nih... Gimana nih... Akhh... Leia bergidik memikirkan bagaimana cara keluar dari masalah yang ia buat sendiri.
"Darl... Kita tunda yah, sampai kaki kamu sembuh" mohon Leia seraya menepuk lengan kekar yang sedang memeluk perutnya.
Ckckck... Lihatlah kelakarnya yang ingin menghindar itu. Padahal dia sendiri yang memancing adikku keluar. Haah... Baiklah, aku loloskan kamu hari ini. Darrel
"Baiklah, tapi ada syaratnya" Darrel menyeringai licik.
"Apa itu??" Leia mengedip-ngedipkan kedua matanya.
Wanita ini imut sekali. Kekeh Darrel dalam hatinya.
"Panggil aku oppa*"
*Oppa itu artinya kakak laki-laki yang biasa disebut sama adik perempuan dalam bahasa Korea. Biasanya umum di gunakan pasangan yang berpacaran atau sudah menikah juga sebagai panggilan sayang.
"Opa?" Leia memiringkan kepalanya. Dia bingung kenapa Darrel mau di sebut dengan panggilan untuk kakek-kakek itu?
Leia yang salah paham dengan maksud Darrel mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Darrel, ia meletakkan ujung telunjuknya menyentuh kerutan di kening Leia. "Panggil aku oppa, apa kamu mengerti?"
Ah sudahlah ikuti saja, lebih baik meloloskan diri dari malam pertama dulu, hehe. Senyum Leia memekar.
Leia menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
"Sekarang tidurlah, malam semakin larut" Darrel memeluk tubuh Leia, membenamkan kepala Leia ke dada bidangnya.
Perlahan hubungan suami istri dadakan itu semakin dekat. Segala kecanggungan mulai bisa di atasi pasangan pengantin itu.
Seminggu telah berlalu, kedua orang tua Darrel masih menginap di rumah Leia. Kamar yang di tempati Eden sebelumnya di jadikan kamar untuk pasangan itu.
Neftari dan Katie mulai sibuk mempersiapkan pembukaan center Cartier Lagrou cabang asia yang letaknya di indonesia. Sedangkan Smith yang tidak memiliki aktivitas hanya ongkang kaki di taman belakang rumah Leia. Ia memperhatikan Amy, kucing Leia yang sedang aktif bermain bersama pemiliknya, Leia.
"Ekhm.." batuk buatan yang sengaja di lakukan Smith untuk menarik perhatian menantunya itu.
"Mau saya ambilkan air Daddy?" tanya Leia pada Smith sambil mengibas tangan pada rok yang di kenakan nya.
"Tidak usah. Darrel kemana?" Smith berbasa-basi, padahal Darrel sudah berpamitan sebelumnya.
"Oppa pergi kerja Daddy" tanpa sadar kebiasaan memanggil Darrel dengan sebutan oppa terujar begitu saja dari bibir Leia.
"Kau memanggilnya oppa?" Smith terkejut. Bukan tanpa sebab, dulu saat Heena masih hidup ia sering memanggil Smith dengan sebutan oppa juga.
"Ah... Iya daddy, Darrel yang meminta" Leia tertunduk malu.
"Apa kau tau? Oppa itu panggilan sayang dari bahasa ibunya Darrel?"
Leia tersentak, matanya membulat sempurna.
Ahh benar juga, nyonya Katie kan bukan ibu kandungnya. Hampir lupa, ibu kandungnya kan orang korea. Jadi oppa itu panggilan sayang? Akkh malu... Leia menutup mukanya dengan telapak tangan.
Smith yang melihat tingkah Leia, tertawa geli melihat ekspresi menantunya itu.
To be continue...