
Truk jasa kebersihan terparkir rapi di depan rumah Leia. Tiga orang berseragam hijau masuk ke dalam rumah dengan berbagai peralatan kebersihan dan kotak perkakas di tangannya.
Mereka bertiga di sambut oleh Yugi dengan gaya khas ala butler-nya. Berperan sebagai kepala pelayan, mulut dan tangan Yugi tak henti memerintah ketiga orang itu. Sampai membuat salah seorang dari mereka merasa jengkel.
Yaah, namanya juga pekerjaan. Selain itu, ketiga orang berseragam hijau itu memiliki misi dari Darrel. Walaupun berbeda divisi, tetapi mereka berasal dari satu institusi yang sama. Kedudukan Darrel juga jauh di atas mereka, ini perintah.
Mereka membersihkan kekacauan yang terjadi sebelumnya di paviliun. Memperbaiki engsel pintu paviliun yang terlepas dari naungannya. Mereka juga menyelipkan kamera dan penyadap suara di berbagai sudut ruangan di rumah Leia, rumah utama tak luput dari alat khas spy itu.
________________________________
Punggung Leia bersandar di sandaran ranjang, kakinya bersilang selonjoran di atas kasur, sambil memperhatikan wajah putrinya yang begitu pulas.
Sebelumnya, Yugi sudah menceritakan insiden Marriane ke Leia, hanya saja ia tak menceritakan kejadian brutal Leia yang memukuli Nick. Darrel sudah mengode agar Yugi menutup mulutnya rapat-rapat tentang kejadian itu. Ini demi Leia, diceritakan pun hanya akan menambah pikiran wanita cantik berumur dua puluh empat tahun itu.
Mata Eden sembab, hidungnya memerah begitu pula pipinya. Hati Leia mengiba saat melihat kondisi putrinya yang belum genap lima bulan itu. Diusapnya surai hitam lebat sang putri, seraya meletakkan tangannya yang dingin di mata Eden, seolah sedang mengompres mata Eden lewat sentuhan dingin tangannya.
"Mesra banget" goda Darrel, menginterupsi keintiman ibu dan anak perempuannya itu.
"Cemburu?" kini balik Leia yang menggoda suaminya.
"Cih..." Darel mencebik, memalingkan wajah dari putri dan istrinya.
"Ciiee, ciee... Ngambek" Leia terus-terusan menggoda siberian husky besarnya itu.
"Apaan? Orang biasa aja" bantah Darrel.
"Udah dong ngambeknya, sini!" bujuk Leia seraya menepuk-nepuk bibir ranjang di sampingnya. Darrel menuruti perintah istrinya, pria bermata sayu itu duduk di bibir ranjang samping Leia.
Leia meraih wajah suaminya, menuntunnya agar lebih mendekat. Jemarinya menyusur surai hitam pekat dan tebal milik Darrel. "Tampan" mata indah Leia menyusuri rupa suaminya yang menawan. Leia tersenyum puas saat menikmati karya Tuhan di depannya.
Darrel tersentak atas pujian yang istrinya tuturkan, netra biru gelap itu menatap netra Leia lekat. Tak tampak kebohongan di mata Leia, wanita itu bersungguh-sungguh memuji dirinya.
Ada rasa menggelitik di dada Darrel, ia melempar senyum tulusnya yang jarang ia tunjukkan ke orang lain. Ia menahan getaran aneh dari tubuhnya. Penuh, rasanya sungguh penuh sampai mau tumpah. Tapi ia tak tau bagaimana cara untuk meluapkannya.
Apa yang harus Darrel lakukan? Apa dia perlu pengakuan cinta? Mengeluarkan seluruhnya agar rasa penuh itu bisa ia tumpahkan.
Entahlah...
Darrel masih menatap intensif wajah istrinya, begitu cantik. Jemarinya menyisipkan rambut blonde itu ke belakang daun telinga Leia. "Apa kamu sudah puas menatap wajahku? Terpikat, hem?" goda Darrel seraya mencubit kedua pipi Leia. "Aku tampan, tentu saja kau terpikat" ucapnya menyombongkan diri.
Leia hanya tersenyum, tangannya ia tangkupkan di atas dengkulnya. "Percaya diri sekali" Leia terkekeh dalam tunduknya. Menyembunyikan rona pipinya yang memerah.
Dalam hatinya, ia membenarkan itu. Nyatanya memang suaminya itu begitu tampan dan memikat, buktinya Darrel mampu menarik Leia yang kokoh dan dingin seperti gunung es.
Darrel mengecup pucuk kepala Leia, hembusan udara panas dari hidungnya menyentuh lembut ubun-ubun Leia. Sepersekian detik tubuhnya sempat bergetar menerima rangsangan itu. Leia terbuai, merasakan kasih sayang yang dalam dari suaminya.
"Sebentar lagi aku akan pergi menjenguk Marriane" ucap Darrel memecah keheningan. Tangannya mengusap rambut di belakang kepala Leia. "Bisakah kamu menjaga Eden dulu? Saat ini Handoko sedang bersama Ann di rumah sakit, aku tak bisa mengajakmu" jelasnya Lagi.
Darrel sengaja tak mengajak Leia, selain karena Eden tak ada yang menjaga, ada satu kekhawatiran lagi yang membuatnya gamang. Ia takut Leia menggila lagi, sebab Nick juga di rawat di rumah sakit yang sama.
Tanpa Luke beri tau, Darrel sudah mengetahui isi kepala sang dokter. Jiwa agen terlatihnya memaparkan, bahwa Leia memiliki riwayat penyakit psikis, sama sepertinya dulu. Ada luka hati yang sukar untuk di sembuhkan, apalagi kasus seperti Leia ini, mungkin saja wanita itu tidak sadar kalau dirinya sedang mengalami gangguan kejiwaan. Dan Darrel sadar, istrinya itu perlu pengobatan lebih lanjut.
Leia terdiam sejenak tak menjawab suaminya, Leia menangkap kebimbangan di sana. Mencari kebenaran lewat gestur suaminya. Sayangnya, Leia tak bisa menebak dengan tepat seperti sebelumnya. Darrel seperti meletakkan perisai agar pikirannya tak terbaca oleh Leia.
Leia menghela nafasnya, kali ini ia gagal membaca suaminya itu.
"Tak perlu khawatir, nanti aku akan memberitahukan semuanya padamu, kamu berhak tau. Tapi, ini belum saatnya Leia" Darrel menggenggam tangan istrinya yang berada di atas dengkul Leia. Meyakinkan istrinya agar percaya dengan tindakkan nya.
Haa... Baiklah, jika sudah seperti itu Leia bisa apa? Wanita itu mengangguk sebagai jawaban, ia merentangkan tangannya berharap mendapat pelukan nutrisi dari suaminya.
Darrel terkekeh dengan tingkah manja istrinya itu. Masa bodoh lah, pikir Leia, ia hanya ingin Darrel menyalurkan kehangatan tubuh kekarnya di tubuh Leia yang dingin. Instingnya lebih dominan di banding akal sehatnya. Tidak salah bukan mencintai suami sendiri?
Darrel memeluknya, mengusap-usap punggung yang begitu kecil, Darrel seperti memeluk guling. Sampai sekarang Darrel masih tak percaya, dengan tubuh Leia yang kurus itu, ia bisa membuat meubel-meubel indah yang lahir dari tangannya. Menakjubkan!
Tanpa kata-kata, Darrel menyalurkan kasih sayangnya lewat sentuhan hangatnya. Setelah mencium bibir sang istri sekilas, ia berpamitan untuk pergi ke rumah sakit.
________________________________
Brankar Nick di dorong oleh beberapa perawat, Jeki berjalan dengan santainya di belakang sambil memainkan ipad di tanganya. Tugasnya hanya menjaga tawanan saja bukan?
Brankar itu melewati Handoko, pria paruh baya itu memperhatikan kondisi Nick yang tak sadarkan diri sedang tidur menyamping.
"Brengsek" umpat Handoko saat melihat seulas senyum di wajah Nick. Dalam hatinya terus mengumpat pria yang sudah menghamili putri tercintanya itu. Seperti terulang kembali, kini Marriane yang harus merasakan penderitaan yang putrinya rasakan. Bedanya kini, nyawa bayi Marriane yang tak bersalah menjadi korban.
Saat tak sadarkan diri pun ia masih bisa tersenyum, apa dia begitu menikmati kesakitan itu? Haah... Benar-benar pria bejat yang tak tau diri.
Jeki menepuk pundak Handoko, pria gulali itu memahami perasaan atasannya itu. "Bagaimana keadaannya? Apa kakak bang bule udah sadar?" tanya Jeki pada Handoko.
Pria berwajah tegas itu menggeleng sebagai jawabannya. Jeki menghela nafasnya panjang.
Tak lama kemudian, Darrel datang dengan wajah datarnya. Tak ada yang tau bagaimana perasaan pria blasteran asia itu sekarang. Pria itu menutup ekspresinya, bersikap normal tanpa celah. "Dimana Ann?" suara beratnya memecah keheningan antara Jeki dan Handoko.
"Ikuti aku!" Handoko memimpin jalan, sementara Jeki menyusul rombongan yang membawa Nick ke ruang operasi.
To be continue...