
Darrel memijat pelipisnya, rasa pening tiba-tiba menerjang kepalanya. Ia memandangi kedua orang tuanya secara bergantian, bisa saja sinar laser keluar dari mata Darrel saat melihat orang tuanya yang tak kunjung pulang ke negara asalnya.
Darrel menghela nafas yang dirasanya semakin berat, lalu berkata "Katie, Dad, udah hampir dua bulan loh kalian disini. Kenapa ga pulang aja sih ke Brussel?"
Sepasang suami istri itu saling berpandangan. Bukannya menjawab mereka hanya cengar-cengir cengengesan. Selain menikmati tumbuh kembang cucu tercinta, mereka juga menikmati momen kebersamaan yang baru mereka rasakan. Kenapa Baru? Karena kedua orang itu sudah belasan tahun tidak tidur satu kamar layaknya pasangan suami istri.
Tapi ketika di Indonesia, mereka dikondisikan untuk memakai kamar yang sama. Awalnya memang terpaksa, namun lambat laun mereka menikmatinya. Mereka membuka hati kembali, mengenang masa-masa awal pernikahan yang walaupun tak di bumbui oleh cinta, namun ada rasa tanggung jawab di dalamnya, yang mengharuskan Smith untuk menyayangi istrinya. Sedikit rasa sesal di hati mereka, terutama Smith. Namun, masa lalu tetaplah masa lalu, tak bisa dimaju atau mundurkan kembali.
Sudah lama, lama sekali mereka tak saling merasakan kehangatan tubuh. Akhirnya mereka meleburkan kembali hasrat yang terpendam ego, memadu kasih mereka kembali dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Biarpun mereka sudah tua, bukan berarti mereka tak memiliki hasrat bukan?
Entahlah, yang Smith rasakan saat ini berbeda dari saat awal pernikahannya dengan Katie. Apa ini karma untuknya?
"Ehem" Darrel berdehem untuk menyadarkan lamunan pasangan itu.
"Mommy punya kerjaan di sini baby, tau deh sama daddy mu ini yang terus ngintilin mommy" dengan angkuhnya Katie memalingkan wajahnya dari Smith.
"Ck... Ngarep kamu. Aku cuma mau quality time sama cucu kesayanganku, kenapa? Ga boleh?" Smith mempertahankan egonya tertawa terpaksa saat mendengar Katie yang mengatakan dirinya mengintilinya. Padahal kenyataannya memang benar, hehe.
Darrel meremas rambutnya kesal. Mendengar pertengkaran yang dirasa mesra olehnya. Apalagi saat melihat Katie yang berlagak memukul dada Smith dengan manja. Sedangkan Smith? Jangan di tanya lagi. Dia menangkap kepalan tangan Katie di dadanya lalu mengecupnya mesra.
*Ugh... Pengen muntah. Tangan Darrel menutup mulutnya sendiri*.
"STOP!! KATIE, DADDY, please stop!!" Suara Darrel menggelegar hingga terdengar ke luar kamar.
Leia saja yang sedang bermain dengan baby Eden di kamar sebelah terkejut, sampai mengelus dada akibat teriakan suaminya.
"Daddy" Darrel menatap lekat daddy nya "Perusahaan siapa yang urus kalo pemimpinnya ada di sini? Ga ngurus perusahaan?" tanyanya penuh penekanan.
"Kamu bisa gantikan daddy jadi pemimpinnya" ucap Smith santai "Lagian daddy harusnya udah pensiun kan di umur segini?"
"Cih... Umur boleh tua tapi kan daddy jiwanya muda, jangan berkelit lagi deh" Darrel kembali memijit kepalanya yang makin terasa sakit. "Lagian kenapa sih kalian aneh banget? Biasanya kaya tikus dan kucing berantem mulu, tumben adem ayem?" Selidik Darrel, matanya menyipit.
"Jadi kamu ngusir kami?" Bukannya menjawab, pasangan suami istri itu malah serempak menimpali pertanyaan yang sama kepada Darrel. Mereka sendiri kaget, kok bisa samaan? Katie yang salah tingkah menunduk malu seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Hal yang jarang terjadi pikirnya.
Darrel dibuat melongo oleh pasangan usang yang seperti pengantin baru itu. "Dad, Marriana datang ke indonesia" Satu kalimat yang terlontar dari Darrel berhasil membuat pasangan itu membeku. Katie dan Smith memandangi wajah Darrel dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Baby, are you okay?" wajah Katie tampak khawatir, ia menghampiri putra nya dan menggiring Darrel duduk di pinggir kasurnya.
"Dia membawa tunangannya, Katie"
"Kamu tau dari mana?" tanya Katie dengan kerutan di pangkal alisnya.
Jleb... Darrel membelalakkan matanya menatap Katie.
Pertanyaan yang tak bisa dia jawab atau jelaskan, selama ini keluarganya tak ada yang tau kalau dia seorang agen BIN. Hal yang terpenting sebenarnya yang di awasi itu bukan Marriane melainkan Nicholas, tunangannya.
"Remember Smith, Ann itu anakmu juga!" balas Katie dengan penekanan dan raut wajah yang kesal. Seolah-olah Marriane terlahir dari dirinya seorang, padahal mereka membuatnya bersama.
"Ck..." Smith berdecak.
Apa-apaan Katie dan daddy ini? Perasaan barusan akur banget, mana mesra lagi. Sekarang udah ribut lagi kaya Tom and Jerry, ckckck... Darrel
Sebenarnya yang di takutkan Darrel bukan kedatangan Marriane, melainkan Nicholas. Ayah biologis Eden.
Apa dia akan sadar? Tidak, tidak, untungnya Eden dominan lebih mirip Stevi. Rambutnya hitam sepertiku, tapi matanya bernetra hijau seperti Nick. Hmm... Ibu, daddy dan Kattie saja tidak curiga. Ahh... mungkin ini hanya kegelisahan ku saja. Semoga Nick tak mengetahui soal Eden selamanya. Darrel meremas sprei karena hanyut dalam pikirannya.
"Oppa..." suara Leia memecah keheningan di kamar itu. Leia sedang menggendong Eden sambil menepuk-nepuk pelan punggung kecil bayinya.
"Leia" Darrel langsung berdiri menghampiri istrinya. "Ada apa?" tanya Darrel seraya merapihkan rambut Leia yang menghalangi wajahnya.
"Ibu nelpon, katanya mommy dan daddy di suruh mengaktifkan ponsel kalian" Leia mengambil getah rambut di sakunya dan memberikan pada Darrel. Lalu menunjuk rambut blondenya yang tergerai aut-autan.
"Lebih baik kalian aktifkan ponsel kalian, sebelum dia berulah" ucap Darrel seraya mengikat rambut Leia.
"Dia? maksudnya ibu? Ibu berulah apa?" tanya Leia yang tak mengerti.
"Bukan, kakak sulungku Marriane. Hari ini dia sampai di Indonesia" jelas Darrel.
"Ya ampun!!" Leia menyerahkan Eden ke gendongan Darrel. "Jaga Eden sebentar, aku mau siapkan kamar untuk kakakmu" secepat kilat Leia kembali ke kamar mengambil ponselnya dan menelpon Yugi.
"Yugi, kau di mana?"
"Saya di kebun depan nona. Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Yugi dengan ramah.
"Baiklah, pesankan kasur berserta bedcover sekalian bantal dan guling nya, paviliun belakang mau aku jadikan ruangan untuk kakak iparku" Leia langsung memutus telponnya, lalu berlari ke kebun depan rumah untuk menemui Yugi.
"Nona!! Kenapa anda berlari-lari di dalam rumah? Kalau anda jatuh bagaimana?" Yugi sedikit berteriak karena menghawatirkan Leia yang terkadang sedikit ceroboh.
"Bukankah sudah ku bilang untuk membeli kasur, bed cover serta bantal dan guling? Kenapa belum pergi juga?" Bentak Leia kesal karena Yugi masih saja membereskan kebun halaman depan rumahnya.
"Saya sudah memesannya nona, tinggal tunggu barangnya datang saja, nona tak perlu khawatir"
"Good job Yugi" Leia mengacungkan kedua jempolnya pada Yugi. "Sekarang bereskan paviliun di belakang" Perintah Leia pada Yugi.
"Baik" Yugi membereskan peralatan kebunnya dan mulai membersihkan paviliun yang memang sudah bertahun-tahun tak terpakai. Karena di rumah utama, kamar sudah penuh, jadi paviliun belakang yang dulunya ditempati oleh seseorang yang di anggap adik oleh Amrali. Namun setahun sebelum kematian Amrali, orang yang di anggap adik itu pergi entah kemana. Leia sempat bertanya pada kedua orang tuanya tapi tak sekalipun di tanggapi, sebab Leia lumayan dekat dengan orang itu. Wajar saja kan, jika Leia bertanya sebab kepergian orang yang biasa dia panggil Om itu?
To be continue...