Traffic Light

Traffic Light
DARREL ON QUARREL



Suasana rumah yang sempat membeku beberapa hari lalu, kini mulai mencair. Awalnya, Ayu dimusuhi oleh putri dan suaminya, semenjak terbongkarnya dosa besar yang ia buat kala itu. Berusaha mematahkan ego dan harga dirinya, Ayu beribu kali memohon pengampunan kepada dua jantung hatinya, Neftari dan Baron.


Alhasil, ketulusan Ayu melelehkan amarah Baron yang bercokol atas ketidak jujur-an yang Ayu torehkan. Begitupun Neftari, ia mencoba memahami pemikiran seorang istri yang mendapati anak suaminya dari perempuan yang tak lain adalah kakak kembarnya sendiri. Wanita manapun bisa hilang akal, jika berada dalam posisi ibunya itu. Neftari memakluminya.


Baron tak mempermasalahkannya lagi, dan menutup rapat aib keluarganya ini. Mengingat sang istri menyandang gelar ningrat. Cukup Baron, Ayu, dan Neftari saja yang tau. Baron akan menguburnya dalam-dalam, sehingga anjing pun tak bisa mengendusnya.


Hanya saja, jiwa seorang ayah dalam dirinya memekik keras, rasa bersalah kian mencekiknya lantaran sudah menelantarkan buah hatinya yang lain. Sementara ia selama ini begitu memanjakan Neftari. Ada rasa sesal yang tak terucap, menyalahkan dirinya karena telah begitu lalai, dan masuk dalam jebakan perempuan laknat itu. Lalu lahirlah variabel yang tak pernah ia inginkan sama sekali, anak yang hadir di luar pernikahnya.


Satu-satunya yang tak tau apapun disini hanya Leia. Sedikit curiga dengan suasana rumah yang tiba-tiba mendingin, tak lantas membuat Leia bertanya lebih jauh. Baron, Ayu, dan Neftari mengucap syukur akan hal itu. Setidaknya mereka tak perlu membeberkan aib wanita berdarah biru itu.


Sementara Darrel, dia punya banyak mata dan telinga yang terpasang canggih di setiap sudut ruangan. Tentu saja tak ada yang tidak ia tau tentang kejadian yang terjadi di rumah itu, termasuk aib para tetua dari keluarga istrinya. Mustahil ia tak tau.


_________________________________


Pertemuannya dengan sang mantan, membuat perasaan Leia campur aduk. Jantungnya ternyata masih berdebar cepat untuk mantan kekasih hatinya itu. Hasratnya begitu menggelora di saat Dewa menghirup lekat-lekat aroma kulit tangannya.


Rasa bersalah kian berkecamuk, ketika sentuhan Darrel sama sekali tak membuainya. Holy shit...!!


Apa ini?


Leia merasa berdosa pada suami yang tengah menggempurnya, tanpa ia balas jerih-jerih kenikmatan yang Darrel hujamkan. Air matanya luruh tanpa aba-aba. Rasanya, ia tak sanggup menanggung perasaan bersalah ini.


Saat itu juga Darrel menghentikan aktivitas intimnya dengan sang istri. Sejak tadi, ia memang merasakan kejanggalan dengan sikap istrinya. Namun, ia urung bertanya, pelan-pelan akan ia cari tau sendiri penyebabnya.


Darrel menempelkan bibirnya di dahi Leia, seraya melepaskan penyatuan mereka, walupun belum kelar peraduannya. Di rengkuhnya tubuh yang sedang bergetar itu, sayup-sayup terdengar isakan yang terasa pilu di telinga. Mengusik relung hati oppa bule itu.


"Tenangkan dirimu..." hanya kata itu yang Darrel ucapkan. Seraya mengusap lengan atas yang masih sanggup ia raup dalam dekapannya.


Seperti dikomando, Leia menurut untuk menstabilkan emosinya. Aneh, Darrel seperti memunculkan sikapnya yang seorang komandan di BIN.


Leia sedang gundah, ia butuh bahu untuk ia bersandar, butuh telinga untuk mendengarkan keluh-kesahnya. Hebatnya, pria yang berstatus suaminya ini bisa menjadi tempat untuk melipur laranya. Leia pun memutuskan untuk berterus terang tentang pertemuannya dengan mantan kekasihnya itu.


Wanita yang telah menyandang status ibu itu mendongak menatap wajah ke-bule-an suaminya, setelah berhasil menetralkan isak tangisnya.


"Aku mau melakukan 'pengakuan dosa'..." perlahan, tangan Leia membelai rahang tegas yang terbalut kulit seputih salju itu.


Darrel menaikkan salah satu alisnya, merasa heran dengan perkataan sang istri. "Pengakuan dosa?" ulangnya lagi.


"Iyaa... Umm, itu..." tampaknya wanita itu masih ragu mengungkap kegamangan hatinya.


Darrel hanya diam tanpa menyanggah, ia biarkan istrinya itu mempersiapkan mental untuk mengungkap pengakuan dosanya.


Alih-alih mengaku perdosaan yang ia buat, Leia malah menanyakan sesuatu yang membuat Darrel terperangah. "Kalau aku minta cerai, oppa kabulin gak?"


Leia seolah mendengar ledakan di balik dada sang suami. Posisinya yang tengah bersandar pada dada bidang Darrel memudahkan wanita itu mendengar detak jantung suaminya.


Oh tidak...!!! Apa yang barusan aku katakan?? Leia


Leia mengulum rapat bibirnya, ia rasakan otot-otot suaminya kian mengeras, memunculkan urat-urat kehijauan.


Salah besar...!!!


Leia bertanya hal yang tidak benar, bahkan itu menjadi tabu semenjak pernikahannya. Darrel sudah pernah mengultimatum sejak awal.


Diamnya Darrel membuat Leia kian gusar, ia memejamkan mata, merasa nyalinya semakin menciut.


Saat Leia merasa nyalinya berada di titik terendah, Darrel membuka suaranya. "Kau bertemu mantanmu?" tanyanya datar tanpa ekspresi. Namun, jantungnya tak terpengaruh oleh topeng yang sedang ia kenakan. Jantungnya memompa cepat, hingga menimbulkan rasa sesak di dada.


Kini giliran Leia yang terperangah. Bagaimana dia tau? Aku bahkan belum bercerita.


"Right??" imbuhnya lagi. "You gonna back together with your ex, uh?" suara Darrel tampak dingin dan tak bersahabat.


Semakin kesini nyalinya semakin minus, sudah berada di titik paling rendah, nyatanya masih tak cukup dalam bagi wanita itu, sepertinya ia harus menggali tingkat ketakutannya semakin dalam, dalam, dan dalam.


Namun saat dirasa rengkuhan hangat dan nyaman itu kian mengendur, Leia merasa dirinya harus menjawab pertanyaan itu.


"Nope, i don't want" lirihnya, nampak ketegasan dalam jawaban pelannya itu. "But... Uh, please... Gimme a time. Aku sedang berusaha memantapkan hatiku. It's not easy!!" Leia kembali berujar walau dirinya masih dilanda ketakutan oleh aura dingin Darrel yang menguar. "You know... Err, i mean... Aarrghh...!! I can't explain it" Leia mengacak rambutnya frustasi.


Leia masih tak paham akan hatinya, di satu sisi, ia begitu mendamba sang mantan kekasih. Namun di lain sisi, ia tak pernah membayangkan kehidupannya yang monoton menjadi ambyar. Tak bisa di pungkiri, ia sangat menyukai Eden beserta appanya, Darrel.


"Alright, set your heart properly" Darrel menyibak selimut yang membalut tubuh polosnya, ia beranjak dari kasur yang menjadi saksi perdebatan barusan. Membersihkan dirinya di kamar mandi kecil yang ada di dalam kamar istrinya. Setelahnya ia memakai pakaian formal beserta jas dan dasinya.


Leia tampak bingung, tak pernah ia lihat suaminya serapi ini. Namun tak sanggup bertanya, ia masih takut, aura di dingin itu semakin mencekam menembus kulit polosnya tanpa busana, hingga ke sumsum tulangnya.


Kemudian, Darrel meninggalkan Leia dengan sejuta rasa sakit yang wanita itu rasakan.


Bukankan Leia mencintai Dewa?


Lantas, kenapa begitu sakit karena di tinggalkan suaminya begitu saja tanpa sepatah katapun? Sebelumnya, Darrel selalu mengabari dan berkomunikasi dengannya, meski itu hal sepele seperti Eden yang pipis saat baru mengganti popoknya.


Tidakkah Leia aneh?


To be continue...