
Kakek Kim bercerita sampai berurai air mata, sesekali ia memukul dadanya untuk menenangkan emosinya. Darrel tertegun ketika mendengar cerita lengkap versi kakek Kim. Jauh berbeda dengan yang ia dengar dari pamannya. Paman dari sebelah ibunya. Lebih tepatnya anak dari kakak pertama Woo Seok, karena anak Woo Seok ketiganya perempuan.
Darrel memeluk kakek Kim, menumpahkan rasa bersalahnya dalam tangisan. Ia meminta maaf atas perilaku kasarnya. Salahnya yang hanya mendengar sepihak, tanpa mendengarkan penjelasan dari kakek Kim. Padahal kakek Kim sudah sangat lebih dari berusaha untuk bertemu Darrel. Tetapi, Darrel selalu saja melarikan diri dan bersembunyi. ia malah membantu keluarga pamannya untuk melarikan diri. Padahal mereka yang telah merencanakan kematian ibunya.
Darrel menghapus air mata kakek Kim, begitupun sebaliknya. "Harabeoji, nanti Darrel akan kesini lagi bersama istriku" ucapan Darrel mulai menghangat ke kakek Kim. Kakek Kim sungguh senang dengan tutur halus yang keluar dari mulut cucu sulungnya.
Kemudian kakek Kim tersentak, "Istri katamu? Kau sudah beristri?" tanya kakek Kim yang baru terkejut dengan kata 'istri' yang cucunya ucapkan. Ia terlarut dengan kehangatan yang ditujukan Darrel untuknya.
Darrel tersenyum saat menatap wajah keriput kakek Kim, Darrel mengusap kedua pipi kakeknya. "Ya, bahkan Darrel memiliki seorang putri yang cantik. Cicit Harabeoji. Darrel harus pulang sekarang. Darrel sudah berjanji pada istri Darrel untuk pulang sebelum jam sembilan" Darrel melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukan pukul 08.32. "Harabeoji, Darrel pulang dulu ya" pamit Darrel seraya memurus bahu kakek Kim.
Darrel mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada sekertaris Nam, "Nam biseo, jika ada masalah yang terjadi pada harabeoji, cepat hubungi aku" perintah Darrel ke sekertaris Nam.
"Baiklah tuan" Sekertaris Nam menundukkan kepalanya. Darrel pun meninggalkan ruang rawat inap kakek Kim.
Sementara Aera, sedari tadi hanya menyimak adegan dramatis antara kakek dan cucunya di sisi lain bangsal kakek Kim. Ia menaruh sedikit rasa terhadap Darrel yang lagi-lagi merubah penilaiannya. Mulai dari pria yang di awal menakutkan, lalu pria yang membuatnya benci, hingga pria yang di sukainya sekarang.
Mungkin hormon masa remajanya yang labil, mempengaruhi perasaan Aera terhadap Darrel. Ia sangat kecewa saat mengetahui ternyata Darrel adalah pria yang sudah menikah. Tadinya ia mau merengek pada kakek Kim untuk menikahkannya Dengan Darrel. Sudahlah, Aera pun sadar diri, biarlah rasa suka itu ia pendam sendiri.
RUMAH LEIA
Darrel membuka pagar rumah Leia dan masuk ke dalam halaman rumahnya. Darrel melihat Yugi yang sedang memotong rumput secara manual dengan gunting tanaman.
"Yu, kenapa setiap aku masuk rumah, selalu melihatmu berkebun?" sebenarnya Darrel bertanya dengan maksud ingin mengakrabkan diri dengan asisten istrinya itu.
"Halo tuan" sapa Yugi tanpa menjawab pertanyaan suami dari nonanya.
"Hey, bukannya aku bertanya padamu? Aneh sekali kau ini" Darrel ngendumel lantaran pertanyaannya tak di tanggapi oleh Yugi. Padahal niatnya baik ingin akrab dengan orang kepercayaan Leia yang satu itu.
Darrel pun meninggalkan Yugi yang terus mengabaikannya, saat hampir sampai di depan pintu utama, Darrel membalikkan badannya dan meneriaki Yugi "Pakai mesin pemotong rumput biar cepat selesainya! Mau sampai kapan kau menggunting helai per helai rumput itu!"
Yugi menjawabnya "Tidak bisa pakai mesin tuan, nona tidak menyukainya" teriak Yugi yang sedang berjongkok memotong rumput sambil membetulkan topi anyam yang dikenakannya.
"Ya Tuhan, kalau menyangkut nona nya saja, baru dia mau menjawab. Cih, freak boy!" Darrel mengusap dada berototnya, menahan emosinya terhadap Yugi agar tidak meluap.
Saat sampai di kamar, Darrel tak menemukan istri dan putrinya di sana. Darrel pun memutuskan untuk membersihkan diri, karena ia habis dari rumah sakit. Maklum lah, bayi cukup rentan dengan penyakit, Darrel tak mau anaknya menjadi sakit karena dirinya yang kurang menjaga kebersihan diri.
Leia habis menjemur baby Eden di halaman belakang. Jika Leia melihat pohon ek yang menjadi saksi kematian ayahnya itu, ia jadi teringat saat-saat kesepian menghampirinya. Ia begitu rapuh saat itu, ayahnya pergi, begitu pun ibunya. Ia sendirian di rumah besar buatan ayahnya itu. Terkadang saking rindu dengan ayahnya, Leia sampai tidur sambil berjalan menghampiri pohon ek itu, dan tidur di bawah rindangnya pohon ek, beralaskan tanah dan rerumputan. Leia mengenang masa-masa kesepiannya sambil tersenyum.
Kini, ia tak sendiri lagi. Ada Eden, ada Darrel, dan ada Yugi di sisinya, menghangatkan rumah peninggalan sang ayah. Jika ibunya kembali ke Brussel pun, sepertinya Leia tidak terlalu sedih.
Darrel mencium pucuk kepala Leia, menghirup aroma shampo familiar, yang dipakainya juga. Tapi entah mengapa, tercium berbeda jika Leia yang mengenakannya. Seperti terdapat kandungan opium di dalamnya, membuat Darrel ingin terus-terusan menciumnya.
"Aku suka sekali baumu" puji Darrel sambil mencubit pelan hidung Leia.
Leia tergelak mendengar pujian Darrel, itu terdengar seperti gombalan receh baginya. Padahal Darrel serius dengan pujiannya terhadap sang istri. "Oppa seperti pemain yang ahli" kata Leia mengejek yang masih diselingi kekehannya.
Darrel menghela nafasnya malas, membuat Leia perlahan menghentikan kekehannya. "Kau tau? Bunga opium itu, ketika mekar saaangaaaat terlihat cantik. Tapi sayang---" Darrel menggantung perkataannya, ia melirik Leia yang menunggu kelanjutan dari perkataannya.
"Sayang kenapa? Kenapa sayang?" tanya Leia yang penasaran.
"Aku gapapa sayang" ucap Darrel menggoda istrinya.
"OPPA!!" teriak Leia sambil mencubit pinggang suaminya yang ternyata keras.
"Aaahh... Hahaha" teriak Darrel memegang pinggannya yang di cubit sambil tertawa. Darrel sungguh suka mengganggu Leia.
Neftari yang akan pergi bekerja melihat menantu dan anaknya di penuhi cinta. Neftari menggelengkan kepalanya. "Jadi pengen" gumam Neftari. Neftari menghampiri Eden yang berada tak jauh dari Leia dan Darrel.
Baby Eden mengembang-nguncupkan telapak tangannya seperti minta di gendong. Neftari pun mengambil Eden dari baby stoller dan menggendongnya.
"Mami sama appa mesraan mulu ya de, dedenya di anggurin, iyaaa? Kesel ya de liatnya, iyaaa?" kata Neftari berbicara pada Eden yang masih belum mengerti perkataannya.
Tentu saja Darrel dan Leia mendengar sindiran Neftari, Leia mengerutkan bibirnya. "Ibu kaya ga pernah gitu aja sama ayah" kata Leia dingin, ia tak terima dengan sindiran ibunya.
"Darrel, yang tabah yah" ucap Neftari sambil menepuk-nepuk bahu menantunya dengan sebelah tangannya. "Siapin selimut yang banyak, takutnya kamu kedinginan. Ibu aja udah menggigil ini, bbrrr" Neftari berakting seolah-olah sedang kedinginan sambil memeluk baby Eden.
"Ibu ga berangkat? Udah jam sembilan lewat loh" kata Leia untuk menyadarkan ibunya itu.
"Astaga" ucap Neftari seraya melihat jam kecil desainnya sendiri yang melingkar indah di tangannya. "Ibu pergi dulu ya sayang" pamit Neftari sambil meletakkan Eden di pangkuan Leia. Neftari mencium kening putri dan menantunya, lalu melengos dengan kecepatan cahaya.
Darrel tertawa melihat tingkah ibu mertuanya yang lucu itu. Neftari pada dasarnya memang wanita yang easy going. Tapi karena masa lalunya yang menyakitkan, membuatnya jadi enggan membuka diri, kecuali dengan orang terdekatnya saja.
"Ekkhmm... Leia, oppa mau bicara. Ke kamar aja yuk, Eden juga udah mulai kepanasan" ajak Darrel.
Leia mengangguk dan beranjak pergi dari halaman belakang, sambil menggendong Eden, yang sepertinya minta enen.
To be continue...