
Darrel masuk ke dalam mobil van yang di lengkapi dengan peralatan teknologi mutakhir di dalamnya. Mobil itu meluncur ke kawasan terlarang di sekitar W Castle yang di sebut W point.
"Kau bilang ada wanita mencurigakan di sekitar W point?" tanya Darrel pada bawahannya yang bernama Jeki.
"Iye bang bule. Noh, liat monitor" jemari lincah Jeki mulai menyentuh alat-alat canggih di depannya untuk membuka file cctv dari dua hari yang lalu. "Nih cewe mondar-mandir mulu di sekitaran situ, rentang waktunya juga ga berubah" Jeki menunjuk layar monitor yang menampakkan seorang gadis hilir mudik dalam rentang waktu enam jam sekali. "Mencurigakan kan?" Jeki menaik turun kan alisnya ketika menghadapkan wajahnya ke komandan bulenya itu.
"Identitasnya gimana, udah diselidiki?" tanya Darrel sambil mengamati monitor.
"Ya ampun bang, gua lupa cek" Jeki menggebrak keyboard di depannya, membuat monitor yang menampilkan rekaman cctv itu terlogout.
Darrel langsung menjeplak belakang kepala Jeki lantaran kesal. Darrel saat itu sedang serius memprofile wanita mencurigakan itu. Namun karena tingkah Jeki yang tanpa sengaja melogout rekaman cctv, membuat Darrel hilang fokus pada analisis data yang tadinya sudah ia perhitungkan.
"Ah elah bang, jangan gitu dong!! Ada aset gua di dalem sini" rengek Jeki menunjuk kepalanya yang ditumbuhi rambut berwarna-warni.
"Banyak omong! Cepat scan wajahnya!" perintah Darrel pada Jeki yang kelakuannya luar biasa tengil.
"Iyee" Jeki mendengus, jemarinya tak henti menekan tombol keyboard dan panel yang berada di depannya. "Yeah, i got you" teriak Jeki ketika data identitas wanita itu muncul. "Eeeeeh, Warga negara asing?" Jeki memiringkan kepala nya heran. "Bang, liat deh" Jeki menarik lengan jaket yang dikenakan Darrel.
Darrel pun melihat monitor yang memperlihatkan identitas si wanita, "Sepertinya dia bukan penyusup. Telusuri daftar penumpang pesawat yang masuk indonesia dalam kurun waktu seminggu terakhir"
"Siyap ndan" Jeki kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menggunakan peralatan berteknologi tinggi itu. Selang beberapa waktu, sebuah fax masuk dan mencetak daftar manifest penumpang yang masuk ke indonesia.
Darrel membaca lembaran kertas itu, kemudian meremasnya "Akhiri sampai di sini, dia bukan spy" Darrel memasukan kertas yang tadi di remasnya ke dalam saku jaketnya. Darrel menepuk pundak Jeki lalu pergi meninggalkan van.
Jeki masih dalam mode melongo kebingungan, ia pun menggeleng-gelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya. Saat Jeki sudah tersadar sepenuhnya, lagi-lagi kesadarannya di buat mengambang. Bagaimana tidak? Komandan bulenya itu ternyata menghampiri dan berbincang dengan wanita yang tadi ia selidiki.
..........
Darrel melirik layar monitor, ia menangkap sosok wanita yang sedang diselidikinya telah tiba di sekitar W point. Darrel membaca manifest penumpang yang di kirim melalui fax tadi.
Setelah membacanya, Darrel meremas kertas itu dan memasukkannya kedalam saku jaketnya. Ia pun turun dari mobil van menghampiri wanita itu.
"Di mana Kim Woo Seok?" pertanyaan Darrel mengejutkan wanita itu.
"Eung? Aahh, I--itu, Harabeoji ada di-- rumah sakit" ucap Aera tergagap.
"Kenapa kau membawa pria renta itu kemari??!!" bentak Darrel dengan mata yang melotot, membuat Aera ketakutan. "Rumah sakit mana, cepat katakan?" rahang Darrel mengeras menahan amarahnya. Mengingat kembali kebakaran di villa yang menewaskan ibu kandungnya empat belas tahun yang lalu, karena keserakahan kakek Kim.
"A--aku antar" jawab Aera, ia menundukkan kepalanya. Aera tak berani menatap Darrel karena menurut Aera pria itu menakutkan.
RS. MEDIKA
Aera memimpin jalan di depan, sebab hanya dia yang tau letak ruangan kakek Kim. Sampailah mereka di depan pintu ruang rawat inap. Aera membuka kenop pintu kamar pasien itu, ia masuk menghampiri kakek Kim yang sedang berbincang dengan sekertaris Nam. Kakek Kim mengalihkan pandangannya ke arah Aera, ia melihat sosok yang begitu dirindukannya.
"Darrel, kau kah itu?" kakek Kim mencoba turun dari bangsalnya.
"Apa yang harabeoji lakukan di sini?" tanya Darrel dengan nada yang dingin.
Darrel memandang kakeknya dengan tatapan yang kosong. Ia enggan menanggapi kakek dari sebelah ibunya itu. Darrel hanya membiarkan pria tua itu memohon sampai bersimpuh di kakinya, ia sama sekali tak mengiba, seolah perasaan itu telah lenyap dari dirinya.
Aera terkejut saat melihat kakek Kim bersimpuh di kaki Darrel sambil menangis memohon ampun. Apa yang sebenarnya terjadi antara cucu dan kakek ini? Bergegas Aera membantu kakek kim untuk berdiri dan memapahnya kembali ke bangsal. Aera sedikit kesal dengan sikap cucu rahasia kakek Kim, sungguh angkuh. Aera yang tadinya terlihat takut dengan Darrel, kini berubah menjadi benci.
Aera sungguh ingin menendang tulang kering kaki pria yang tak bergerak dari posisinya, meskipun kakek Kim yang tengah sakit, berlutut di depannya. "Apa kau bisa lebih sopan sedikit!! Kakek Kim ke sini demi dirimu!!" teriak Aera yang kesal. Kakek Kim memegang tangan Aera, menggelengkan kepalanya, menyuruh Aera berhenti bicara.
Kini sekertaris Nam yang angkat bicara, "Tuan Darrel, Kim hoejangnim sangat ingin bertemu dengan anda dan telah mencari keberadaan anda selama ini untuk meminta maaf. Saya mohon dengarkan dulu penjelasan dari hoejangnim tentang kejadian di vila dulu"
"Nam biseo" Darrel.
Sekertaris Nam yang tadinya menunduk mengangkat kepalanya memandang tuan muda yang belum pernah ia layani itu, "Anda mengingat saya tuan?" ada sedikit perasaan haru saat tuan mudanya itu ternyata masih mengingat dirinya.
"Ya, aku mengingatmu" jawab Darrel datar. "Apa yang mau harabeoji jelaskan, cepatlah katakan. Aku harus segera pulang sebelum jam sembilan" Darrel mendudukkan dirinya di sofa yang tak jauh dari bangsal kakeknya.
"Kau salah paham cucuku, bukan aku yang membunuh putriku sendiri. Bagaimana mungkin!!" kakek Kim menatap mata Darrel dari kejauhan, kejujuran terpancar jelas di mata renta kakek Kim. Membuat hati Darrel sedikit melunak, tapi dengan cepat di tepisnya karena rasa sakit yang teramat dalam sejak dulu.
"Itu bisa saja terjadi, jika itu berhubungan dengan ahli waris pria terkaya di korea waktu itu. Tak masalah membunuh satu putrimu, toh kau masih memiliki putri yang lain" bantah Darrel dengan sindiran yang kasar.
Kakek Kim memukul-mukul dadanya yang penuh dan sesak dengan rasa bersalah. Tak dipungkiri kejadian saat itu memang karena dirinya yang kurang waspada.
Kakek Kim mulai bercerita asal muasal yang menyebabkan kebakaran di villa empat belas tahun yang lalu. Tahun itu, di keluarga besar Kim terjadi pertentangan ahli waris yang melibatkan Woo Seok dan Heena di dalamnya. Padahal saat itu ayah Kim Woo Seok masih sehat walafiat dan masih memimpin perusahaan.
Kim Woo Seok hanyalah anak dari hasil hubungan gelap dari pemilik Sesang Grup. Entah mengapa ayah Woo Seok mengalihkan hak ahli warisnya kepada Heena, dengan Woo Seok sebagai wali sahnya. Padahal saat itu Woo Seok hanya menjabat sebagai pimpinan di satu anak perusahaan yang terancam kolaps, hubungan Woo Seok dan ayahnya juga tak terlalu akrab.
Putra pertama yang harusnya menjadi ahli waris menjadi murka, tak terima dengan keputusan ayahnya yang semena-mena, harusnya semua harta dan kekuasaan itu miliknya. Apa maksud pemilik Sesang Group yang sebenarnya? Menjadikan atlet wanita yang tak mengerti ilmu manajemen untuk memimpin perusahaan besar seperti Sesang Group. Belum lagi wanita itu memiliki skandal yang akan mencoreng citra perusahaan. Tentu saja jawaban dari semua pertanyaan itu hanya ayahnya yang tau.
Kakak pertama Woo Seok melakukan tindakan ekstrim demi mendapatkan posisinya kembali. Ia pernah menyabotase mesin mobil yang di kenakan Woo Seok agar terjadi kecelakaan. Sayangnya hal itu lebih dulu di ketahui Woo Seok dan membuat Woo Seok lebih berhati-hati. Pikir Woo Seok, kakak pertamanya itu menginginkan posisinya sebagai wali ahli waris untuk mengendalikan putrinya lalu merebut Sesang Group.
Woo Seok berpikir saudara-saudaranya tak akan berani menyentuh Heena, dikarenakan dalam pasal surat wasiat, ayahnya mengatakan:
Jika ahli waris meninggal, akibat kecelakaan atau sakit, sebelum pembuat surat wasiat meninggal. Maka harta yang di wariskan akan di sumbangkan ke yayasan amal.
Tapi kenyataan tidak sejalan, saudara-saudaranya bersekongkol mencelakai putrinya hingga kehilangan nyawa. Hal ini membuat Woo Seok murka dan melepaskan hak wali ahli waris yang ayahnya berikan di hadapan ayahnya sendiri. Woo Seok juga melaporkan perbuatan saudara-saudaranya ke pihak yang berwajib.
Lagi-lagi keadaan seakan mempermainkannya, kasus heena di tutup tanpa penyelidikan lebih lanjut, hanya dinyatakan sebagai kebakaran akibat arus pendek listrik. Belum lagi cucu satu-satunya saat itu, dinyatakan menghilang.
Woo Seok sungguh tak terima dengan penutupan kasus putrinya, ia mengacak-acak kantor polisi setempat untuk memaksa para polisi itu melakukan penyelidikan ulang. Hasilnya malah ia di jebloskan ke penjara, karena menghambat pekerjaan polisi dan melanggar ketertiban umum.
Ayah Kim Woo Seok mendatangi putranya yang sedang mendekam di sel penjara, ia turut menyesal terhadap kejadian yang menimpa Woo Seok selama ini. Ia mengakui turut andil dalam rentetan kejadian mengenaskan yang terjadi di keluarga anaknya itu. Bagaimana tidak? semua berawal dari dirinya, jika ia tak mengubah surat wasiat itu, semua hal mengerikan ini tak perlu terjadikan?
Bagaimanapun, ia akan mengeluarkan putranya dari balik jeruji besi itu. Ia pun membatalkan surat wasiat sebelumnya, dan menyerahkan tahtanya pada Woo Seok beserta seluruh asetnya. Ia juga berjanji akan mengusut tuntas kasus cucu perempuan yang nyawanya telah terenggut itu. Walaupun harus membuat anaknya yang lain mendekam di balik jeruji.
To be continue...