Traffic Light

Traffic Light
RECORDER PELAKU



"Menyenangkan..." sumringahnya.


Dia hirup udara sedalam-dalamnya, menikmati kandungan oksigen yang mengudara pagi ini. Matanya menyoroti amplop dokumen berwarna coklat yang tegeletak di atas meja bundar klasik berbahan mahoni. Lagi-lagi, senyum sumringah terpapar di wajahnya.


"Ah... Aku ingin melihat ekspresi terkejut di wajah gadis itu. Phufftt..." Ia menutup mulutnya yang hendak terbahak. Sejujurnya, dia tak bisa lagi mengkondisikan ekspresinya. Ia senang, tapi ia menawan tawanya. Rasanya kurang tepat, menertawakan permulaan kehancuran rivalnya.


Setelah berhasil mengendalikan gejolak kesenangannya, ia kembali bergumam, "Apa dia bisa terima kenyataan itu?". Kakinya yang menjuntai ia gerak-gerakkan secara bergantian. Duduk di pagar balkon lantai tiga kamarnya, tak membuat orang itu takut akan ketinggian. Gaun putih yang dikenakannya pun terjuntai, terjirus arus angin yang membelai ujungnya.


Sorot mata itu menatap tajam, titik terjauh pandangannya, "Berani sekali dia menyentuh priaku, tsk..." akhir monolognya dengan raut penuh kebencian.


_________________________________


Luke, Neftari dan Ayuningtyas sedang dalam perjalanan pulang. Ayu sibuk mengoceh di dalam mobil perihal pernikahan putrinya. Rencana pernikahan Neftari kali ini, membuat Ayu lebih sumringah dari pernikahan Neftari yang sebelumnya. Ia menginginkan pernikahan terbaik, walaupun putrinya sudah tidak muda dan bukan pernikahan pertamanya pula.


"Jadi... Kapan rencana prosesi pernikahan kalian, hem?" tanya Ayu penuh antusias.


"Saya sih terserah Tari, mah" Luke sedikit mengintip Neftari yang duduk di sampingnya. Wajahnya datar dan terlihat enggan menanggapi pertanyaan Ayu.


Ayu menepuk tangannya sekali, saat terbersit hal dalam benaknya, "Ah, mamah baru ingat. Leia gimana? Udah di kasih tau?" biarpun Ayu tak menyukai ayah dari cucunya. Namun tetap saja Leia itu keturunan mereka satu-satunya.


Luke menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia agak ragu dengan hal yang satu itu. Rasanya sulit sekali mengganti posisi Amrali di hati Neftari dan Leia. Helaan nafas tak luput pria itu hembuskan.


"Leia mungkin ga ngerestuin kalian. Dia kan cinta banget sama ayahnya. Tsk, ga abis pikir mamah, punya cucu kok tingkahnya mirip banget kayak ayahnya ga ada mirip-miripnya sama Tari" dengus Ayu mengemukakan pendapatnya.


Tentu saja, fisik Leia lebih mirip dengan ku. Kenapa sampai sekarang tidak ada yang menyadarinya? Astaga... Batin Luke


Luke hanya menanggapinya dengan anggukan. Memang benar Leia sama sekali tak mirip dengan ibunya, karenanya ia setuju dengan pendapat Ayu. Walaupun amrali bukan ayah kandung Leia, tapi karakter dan sifatnya, telak menurun dari Amrali.


"Maah...!" Neftari sedikit menekankan nada suaranya, dia tak suka almarhum suaminya di jelek-jelekkan. Apalagi putri tercintanya ikut terseret gunjingan ibunya.


"Yaaa, emang bener kan?? Buktinya saat ibunya berjuang melawan depresi, Leia ga ada tuh buat kamu, nemenin kamu. Padahal kamu sebenarnya ga bisa jauh kan dari Leia, kamu tersiksa, kan? Kamu keluar negri bukan karena mau happy-happy. Ini si anak bukannya nyemangatin malah lebih milih tinggal sama batu nisan bapaknya" jawab Ayu telak. Nenek cantik itu terlihat kesal dengan Neftari yang selalu membela cucunya. Padahal Ayu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa tersiksanya Neftari, saat-saat awal dirinya menetap dan menyesuaikan dirinya di luar negri. Juga saat dirinya berjuang selama beberapa bulan mengatasi depresinya di rumah sakit jiwa.


Neftari malas berdebat dengan ibunya, akhirnya selalu jadi pertikaian yang akan merenggangkan hubungan mereka lagi. Sungguh keras kepala ibunya itu, beruntung Ayu menikah dengan Baron. Bule Amerika yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Namun juga tegas dan penuh wibawa, betapa bersyukurnya Neftari memiliki sosok ayah terhebat yang berhasil menaklukan hati batu ibunda tercintanya. Dibiarkan ibundanya berceloteh sendiri, sesekali Luke yang menanggapi dikala sang ibu merasa teracuhkan oleh putrinya.


Setibanya di rumah, Neftari mendapati mobil yang tak asing, terparkir di depan rumahnya. Wanita itu mengernyitkan dahinya, sepertinya ia tau siapa pemilik mobil itu.


Neftari langsung turun dari mobil, membuka password keamanan rumahnya yang telah di setting sang menantu dengan teknologi mutakhir paling terkini.


"Kenapa? Ada apa?" tanya mamah.


"Ga kenapa-kenapa mah, Tari cuma mau nelpon aja"


"Ya sudah, ayo Luke kita masuk duluan saja" perintah kanjeng Ayuningtyas.


Setelah itu, Neftari membukakan pagar rumah. Luke mengendarai mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah Neftari.


Mata Neftari melirik kembali mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ia mendekati mobil itu dan mengetuk kaca mobil itu.


"Papah...!!"


_________________________________


Harus dari manakah saya bercerita, tentang pertemuan dengan 'Dia'? Semuanya berawal dari panti asuhan tempat saya di besarkan.


Hmm... Saat itu usia saya sekitar belasan tahun. Saya sudah lima tahun menetap di panti asuhan ini. Kala itu saya mengetahui sesuatu hal yang harusnya tak saya ketahui. Di balik panti asuhan yang saya tinggali, ternyata ada yang mengbackup kelangsungan panti ini, bukan donatur yayasan atau apapun lembaga yang berbau sosial. Tetapi sesuatu yang bahkan tak pernah saya bayangkan. Ternyata berdirinya panti ini hanya sebuah kedok untuk menutupi wajah asli komunitas tentara hitam yang dikomandoi pria berkulit hitam yang berasal dari Nigeria.


Kepala suster yang biasa kami panggil bunda Theresa, yang merawat kami setulus hati, ternyata seorang pembunuh berdarah dingin. Mata saya melihat dengan jelas saat beliau mengiris telinga pastor Braham, ekspresi wajahnya biasa saja, seperti memfillet daging ikan saat memasakkan makanan untuk kami di dapur. Lalu mencabuti rambut pastor Braham seperti mencabuti bulu ayam dari perterakan kecil kami yang terletak di belakang panti. Tidak dapat saya bayangkan, jika bunda Theresa juga mencelupkan kepala pastor ke didihan air panas, seperti yang ia lakukan untuk mempermudah bulu ayam itu tercabut bersih. Untung saja saat itu tidak ada panci dan kompor.


Hanya terdengar erangan kesakitan dan rintihan di dalam gereja. Aku mengintip dari celah lubang pintu ruang pengakuan dosa. Saat itu saya merasa, darah saya berhenti mengalir, bunda Theresa seakan menatap mata saya dari celah itu, tatapan matanya keibuan. Namun, bukan keteduhan yang saya rasakan, tapi ketakutan yang menjalar bagai morning glory yang cantiknya hanya saat terpapar sinar matahari saja, sulurnya melilit dan terus menggeluti ketakutan saya. Sungguh demi apapun!! Meski saya bisa lolos dari panti ini, tak ada satu orangpun yang mempercayai cerita ini. Semuanya menganggap saya hanya berdelusi. Pada akhirnya saya dikembalikan lagi ke panti.


Saya hanya menggelung dalam selimut, tubuh saya tak berhenti bergetar, sampai gigi saya bergemeletuk menahan ketakutan ini. Saat itu saya sempat berpikir, "Kenapa saya masih dibiarkan hidup? Apa beliau mengasihi saya?".


Sampai saatnya tiba, bunda Theresa dengan pakaian khas susternya yang berwarna abu-abu menghampiri kamar saya. Saya mengintip dari celah selimut saat kaki yang jalannya menyeret itu mendekati dipan saya. Ketakutan itu kembali menyusup, hingga membuat saya mengompol di atas kasur dipan yang biasa saya tiduri. "Apa beliau akan membunuhku, sekarang?" begitulah isi pikiranku saat itu.


Suara lembut bunda Theresa membelai telingaku, "Apa kamu ingin tau identitas aslimu?" katanya, seraya meletakkan dokumen ke atas tubuh saya yang gemetaran di dalam selimut. "Bacalah, lalu putuskan. Ingin menjadi bagian dari kami, atau..." ucapnya tertahan.


"Atau apa?" saya menyahutinya masih gemetaran.


Bunda Theresa menyingkap sedikit selimut seray tersenyum, "Nanti kamu akan tau" ujarnya, terdengar penuh kasih namun membuat bulu kuduk saya berdiri. Entahlah, saya bingung dengan kepribadian bunda Theresa ini, kelakuan yang saat itu saya lihat dengan yang sekarang sungguh berbanding terbalik. Saya tidak tau bagian mana jati diri beliau yang sesungguhnya.


Handoko mematikan tape recorder yang sedari tadi ia dengarkan. Baru satu kaset dengan penomoran yang tidak lengkap. Entah ada berapa seri dari kaset yang diketahui sebagai barang bukti itu, yang susah payah Amrali dapatkan, tepat sebelum ajal menjemputnya.


To be continue...