
"Tidak ada cara lain" Kakek Kim duduk di kursi rodanya, menatap keluar jendela kaca besar di ruang tengah.
Sekertaris Nam meragu, rencana pimpinannya itu terlalu ekstrim. "Tapi, hoejangnim... Bagaimana jika doryeonim* membenci anda?" bujuknya.
"Sudah ku bilang! Tak ada cara lain, Nam biseo!" kata-kata Kakek Kim penuh penekanan, membuat sekertaris Nam menegak liurnya.
Tapi pria bujangan itu tak patah arang, ia terus membujuk pimpinannya, agar tak melakukan rencananya itu. "Bagaimana kita bujuk istrinya?" sekertaris Nam sungguh tak mau, pimpinannya merasakan sesal di akhir.
"Apa intelegensi mu memudar, hah?" ucap kakek Kim meninggi. "Setelah kau selidiki sendiri, kau masih tak tau background cucu menantuku itu?" kakek Kim merasa kesal karena sekertaris setianya tak menurut.
"Tapi, ini tidak benar hoejangnim" Sekertaris Nam masih berusaha merubah pemikiran atasannya itu.
"Apa yang tidak benar?"
Kedua orang yang sedang adu argumen tadi jadi terdiam, saat bahan yang menjadi pokok argumennya tiba-tiba muncul.
"Nam biseo?" tatapan mata Darrel seolah berbicara, 'apa yang kalian bicarakan?' menuntut penjelasan.
Adrenalin sekertaris Nam menciut, ia tak berani membuka mulut tentang pembicaraannya tadi. Di lain sisi, ia merasa isi pikirannya sudah terbaca oleh Darrel.
"Jangan katakan ini tentang mengambil alih perusahaan?"
Deg...
Tanpa dijelaskan pun Darrel sudah tau duduk permasalahannya, ekspresi pembenaran dari kakek beserta sekertarisnya terlihat jelas.
"Aku menolak!" tegas Darrel.
"Nikahi Aera!" ini suara kakek Kim, yang ia buat setenang mungkin. Padahal jantung tuanya sudah tak mampu menangani hormon adrenalin yang ia rasakan kini.
Darrel tertawa, tawanya sampai menggema ke kamar yang di tempati Aera. Mendengar suara khas orang yang ia rindukan, membuat Aera bangkit dan meninggalkan pekerjaannya, yaitu mereview terjemahan naskah komik online.
Gadis itu keluar dari kamar mendekati ruang tengah yang tergabung dengan ruang makan. Darrel masih setia menertawai usul kakeknya untuk menikahi gadis antah berantah yang baru di temuinya beberapa kali.
Sadar bang bule! Leia baru sehari kenal juga, udah di jadiin bini. Ini hanya sekedar uneg-uneg Ain selaku penulis sih. Hehe...
Kehadiran Aera membuat Darrel semakin tergelak. Astaga! Apa sih pikiran pria tua renta itu? Darrel sudah beristri! Untuk apa menikah lagi?
Sejurus kemudian, kakek Kim membuka mulutnya "Bukankah kau penderita Alexithymia?" tak terima di tertawai cucunya, membuat kakek Kim meradang, tetapi emosinya masih ia kubur, hal itu sedikit mengangkat wibawanya.
Sekertaris Nam tercengang, informasi yang baru ia dapati dari pimpinannya, sungguh membuat bujang lapuk itu langsung mengotak-atik ponselnya. Ia sama sekali tak mengetahui apa itu alexithymia, mencengangkannya lagi informasi itu tak pernah pimpinannya singgung. Ia tak tau menahu tentang ini.
Skakmat!! Pernyataan kakek Kim berhasil menghentikan tawa Darrel.
"Bukankah kamu dirawat karena itu?"
Diam.
Darrel hanya diam sambil memperhatikan kakeknya yang mengoceh.
"Kamu tidak mencintai istrimu kan? Pasti ada alasan di balik pernikahanmu?" imbuh kakek Kim lagi. Menurutnya, diamnya Darrel adalah jawaban 'benar'.
Benar, perkataan kakeknya tak ada yang salah. Berkat trauma penculikan yang dialaminya, Darrel mengalami fenomena psikologis aneh itu. Insula anterior di otaknya mengalami kerusakan yang menyebabkan hilangnya kepekaan terhadap emosi.
Tentang pernikahan juga benar, ia memiliki alasan yang logis di balik pernikahan itu. Tapi enam bulan terakhir ia seperti diingatkan sesuatu yang pernah ia rasakan dulu, sebelum keadaan traumatiknya muncul. Sesuatu yang pernah ia rasakan sebelum penculikan itu.
"Ambisimu? Ayolah, jika prediksi harabeoji benar, kamu pasti ingin menguasai kerajaan bisnis keluarga istrimu, dia anak emas bukan? Tapi kenapa kamu menolak perusahaan yang memang ditakdirkan untukmu? Apa karena skala perusahaan harabeoji lebih rendah dari perusahaan kakeknya istrimu? Setidaknya, jika di perusahaan harabeoji kamu tak perlu bersusah payah, tak ada perebutan takhta di sana. Perusahaan itu milikmu, mutlak" kakek Kim terus mengoceh tanpa memperdulikan nafasnya yang pendek, bahkan ia sedikit tersengal saat menuturkan khotbahnya.
Masih bergeming, wajah Darrel begitu datar tanpa ekspresi. Tak akan ada yang mampu membaca gurat wajahnya. Sementara otaknya, dengan cepat mengolah informasi yang masuk dari panca inderanya. Menyusun jawaban logis yang akan mematahkan pernyataan kakeknya.
Aera masih tak percaya dengan kata-kata kakek Kim. Alexithymia? Ia tau betul fenomena psikologis itu, ia pernah membacanya. Kata itu ia temukan di salah satu komik yang diterjemahkan olehnya. Senyum cantik tersungging di bibir ombre itu.
Apa benar seperti itu? Apa benar tebakkan harabeoji tadi? Darrel tak mencintai istrinya, karena tak memiliki emosi? Benar juga itu hal yang mustahil. Kalau begitu, apa aku memiliki kesempatan? Aku tinggal menemukan alasan logis agar dia bisa bersamaku, benar bukan? Begitulah Aera terhanyut oleh perdebatan batinnya. Gadis yang baru mekar itu menyukai dunia manhwa, mungkin ia sedang mengatur rencana aneh, seperti yang ada di dunia khayalan itu.
"Harabeoji" intonasi Darrel begitu pelan, tapi berhasil membuat Aera, kakek Kim dan sekertaris Nam bergidik.
"Apakah harabeoji ingin menjadi orang yang aku benci seumur hidup?" Darrel menyibak rambut kebelakang dengan kedua tangannya. Ia berjalan mendekati pria renta yang masih bertahan menantang dirinya.
Darrel bersimpuh di depan kursi roda Kakek Kim, "Aku memiliki alasan yang logis untuk membencimu" ia merem*as tangan keriput, ayah dari ibunya itu.
Kesadaran Aera muncul seketika, pergelutan batin yang barusan terhanyut, mulai timbul ke permukaan. Mustahil, pria matang itu tak punya alasan logis untuk bersamanya. Itu sangat mustahil bagi Aera. Gadis itu merasa pupus, merasa di tipu oleh keadaan, terluka. Cintanya kepada Darrel bertepuk sebelah tangan, mungkin selamanya.
Kini keadaan berputar balik, Darrel memegang kendali penuh. Rasa sesak di dada membuat kakek Kim limbung, "Akh, kepalaku" mungkin emosinya terlalu terkubur dalam, sehingga sensasi sesak itu begitu terasa.
"Hoejangnim!!" sekertaris Nam menahan tubuh renta kakek Kim yang hampir collapse di kursi roda.
Darrel berdiri, melihat sejenak kakeknya yang hampir terjatuh jika tak ditahan oleh sekertaris Nam, "Aku mencintai istriku, sungguh" ucap Darrel berayun. Darrel meninggalkan apartemen itu tanpa memperdulikan kegaduhan yang terjadi di dalamnya. Beruntung sekertaris Nam orang yang sigap. Darrel juga tau itu, makanya ia berlalu.
Ternyata ini topeng yang menutupi jati diri Darrel selama ini. Ia tak mampu untuk mengenali atau menyampaikan berbagai emosi. Ia hanya mengandalkan otak untuk mempelajari dan menganalisis hal yang terjadi di sekitarnya.
Perasaan marah, suka, benci, cinta, sayang, welas asih, iba, dan sebagainya pun hanya bisa ia pelajari dari buku, tanpa merasakan sensasinya. Dia berprilaku sesuai nalar akal sehat dan logikanya dalam menilai keadaan. Ia bukan tak pernah merasakan berbagai emosi itu, lebih tepatnya ia melupakan rasa dari emosi yang pernah ia rasakan sebelum kejadian penculikan nahas itu terjadi.
To be continue...
*Doryeonim \= Tuan muda