
Langit gelap kian memudar, berganti secercah cahaya kelabu, bersiap menyambut kehangatan sang surya. Yugi duduk di satu-satunya kursi yang terletak di dalam ruangan klinik. Sambil menggendong Eden yang berbalut selimut.
Udara dingin menerpa kulitnya, memberikan efek kantuk yang luar biasa. Yugi menguap lebar sambil merenggangkan punggungnya. Seketika bau tak sedap melintasi rongga penciumannya, matanya menyoroti bayi dalam dekapannya, menerka-nerka asal bau busuk itu. "Nona... Sepertinya, Eden pup!!" serunya setelah yakin sumber bau itu berasal.
Leia yang sedang memperhatikan si gadis bisu yang sedang tertidur, menoleh ke Yugi dengan sinis. Ia mengernyit tak suka dengan panggilan Yugi barusan. "Apa? Nona? Ck... Kemarin aja manggilnya 'kak... kakak...' seperti itu. Sekarang manggil nona lagi? Cih, dasar plin-plan" protes Leia. Sejujurnya Leia lebih nyaman Yugi panggil 'kakak', keakrabannya lebih terasa.
Yugi hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya, pria itu mau saja memanggil Leia dengan sebutan kakak seperti saat dulu. Tapi setelah mengenal Leia lebih jauh, rasanya kurang pantas memanggil Leia dengan sebutan kakak, mengingat status sosial Leia yang tinggi. Satu-satunya penerus perusahaan Baron yang bonafit.
Pandangan Leia bergulir ke suaminya, "Oppa, tas Eden mana?" tanyanya panik karena tak mendapati tas Doraemonnya. Leia membolak-balik tubuh besar Darrel. Fokusnya semalam hilang, Leia takut melupakan kantong ajaibnya di rumah.
"Di mobil, bentar oppa ambilkan" pria itu langsung ke parkiran untuk mengambil tas yang berisi perlengkapan Eden yang Leia sebut tas Doraemon, karena memang bentukan tas nya Doraemon. Setelah itu, Darrel kembali ke ruang inap klinik.
Setibanya di ruang inap Syahura, Darrel menyingsingkan lengan sweaternya. Memindai ruang kecil itu, tak ada tempat untuk membaringkan Eden dengan nyaman. Bahkan meja pun tak ada, tidak mungkin Eden ia baringkan di atas lantai yang kotor dan dingin.
Dilihatnya Yugi terkantuk-kantuk, kepalanya oleng kesana-kemari. Sementara Leia sedang duduk di atas brankar, di sisi kaki Syahura. Matanya memelas kasihan melihat kondisi gadis itu. Lalu mata Darrel menangkap benda yang dapat di jadikannya media untuk mengganti popok baby Eden di sisi lain brankar Syahura.
Pada akhirnya, overbed table di bilik tempat Syahura menginap, kini beralih fungsi menjadi tempat untuk mengganti popok Eden. Darrel membentangkan selimut tebal beserta perlak di atasnya. Kemudian mengambil baby Eden yang sedang berada di gendongan Yugi, pria berambut panjang itu sudah tertidur dengan posisi kepala yang terdongak dan mulut yang ternganga. Untung saja Eden di dekapnya erat, hingga bayi itu aman dalam gendongan Yugi meskipun pria itu sudah melalang buana ke alam mimpi.
Darrel meletakkan bayi imut itu diatas overbed table yang telah beralih fungsinya. Darrel yang sudah terbiasa dengan pup, dengan telaten membersihkan bokong bayi itu. Kemudian Darrel memberikan krim anti iritasi serta membaluri minyak telon dan membedakinya. Menggantikan baju lucu berbentuk beruang yang memiliki hoodie dengan telinga di kedua sisinya. Terakhir memberikan wewangian khas bayi di baju karakter berwarna coklat itu.
"Selesai...!" ucapnya bangga.
Gadis kecil itu menghentak-hentakkan kakinya kesenangan. Kedua tangannya bertaut di depan mulut, lidahnya terjulur hendak meraup tangan mungilnya.
"Eeittss... Tidak boleeeh~" Darrel menarik tangan Eden menjauh dari mulut kecilnya. Bayi itu menyemburkan air liurnya tanda tidak suka, ia tidak terima kesenangannya di ganggu. Mengulum tangan adalah hobi Eden, tapi Darrel malah melarangnya.
Gadis kecil itu menghentakkan kakinya lagi, bedanya kini bayi itu bukannya sedang kesenangan. Tapi sedang marah dan merajuk dengan appa-nya.
Darrel tertawa gemas, di ciuminya wajah Eden membabi buta. Makhluk kecil yang sudah wangi ini sudah menjadi mood booster-nya.
Darrel memandang sang istri yang sudah berubah posisi ke sisi kepala Syahura. Menyisir lembut, rambut wanita yang masih tertidur di brankarnya. "Istriku" panggil Darrel yang di balas deheman oleh Leia. "Apa gapapa Eden lama-lama di sini? Biarpun bukan rumah sakit, tetap saja ini tempatnya orang sakit" ngomong apaan Darrel? Bahasnya harus di sempurnakan nih, biar ga amburadul tata katanya.
"Oppa saja yang bertanya" Darrel mengambil gendongan Eden dan memasangkan di tubuhnya. Dengan riang ia meraih sang putri lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat gadis kecil itu tertawa menampakkan gusi merah mudanya. Darrel menciuminya bertubi-tubi lalu mengangkatnya lagi, menimbulkan suara berisik dari ayah dan anak itu. Barulah Darrel memasukan tubuh mungil nan gempal itu kedalam hip seat yang sudah terpasang di tubuhnya.
Leia tertawa renyah melihat interaksi suami dan putrinya yang menggemaskan itu. Tanpa mereka sadari, gadis yang sedang terbaring di brankar sedang mengerjap-ngerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
Matanya menangkap sosok Leia bak bidadari yang turun dari surga. Kecantikan wanita itu tak memandang gender penikmatnya. Tanpa sadar tangan gadis itu terjulur menarik ujung baju Leia.
Leia menoleh, lalu menutup mulut dengan tangannya. "Kamu sudah sadar?" tanyanya antusias.
Mata gadis malang itu begitu bening menatap netra abu-abu milik Leia, usianya pasti masih muda kalau melihat dari perawakan gadis malang ini.
Kakak cantiknya berubah, kemana kakak cantik berambut hitam kemarin? ucapnya. Namun sayang, itu hanya diucapkan dalam hati, pertanyaan itu tidak tersuarakan. Ia bisa bersuara, namun tak bisa berlafal karena fungsi lidahnya dicabut paksa dengan kejamnya. Gadis itu juga malu jika ia bersuara terdengar seperti lolongan binatang yang tak jelas pengucapannya, lebih baik jika dia diam saja pikirnya.
Tenaga gadis itu sudah terisi walaupun belum terlalu penuh. Tapi ia bisa mendudukkan tubuhnya sendiri tanpa bantuan Leia. Saat hendak menyilakan kakinya di atas bed. Matanya menangkap sosok Darrel yang juga menatap dengan netra birunya.
Gadis itu membelalakkan matanya, tubuhnya otomatis bergetar sampai brankar pun ikut terimbas getarannya. Ia meringsek ke sandaran brankar, memeluk kakinya menundukkan pandangannya, nafasnya pendek terputus-putus. Mengingatkan Leia akan reaksi serangan panik yang Yugi alami.
"Panggil dokter!!!" teriak Leia ke Darrel. Membuat Yugi yang pulas dalam tidurnya tersentak kaget, tubuhnya sampai melorot dari kursi. Pandangan Leia beralih ke Yugi, "Kamu keluar temani Darrel!!" titahnya. Darrel menuruti perintah Leia, ia keluar untuk memanggil dokter bersama Eden yang sedang anteng dalam hip seatnya.
Yugi yang masih setengah sadar masih belum bisa mencerna informasi yang masuk ke otaknya. Pria itu mengedip-ngedipkankan matanya, lalu mendekati Leia ke tepi brankar. "Ada apa kak?" tanyanya setengah sadar.
Kesadaran Yugi langsung pulih tatkala sepasang tangan kurus melingkar di pinggangnya. Mata pria itu membeliak.
"Astaga!!!" pekik Leia panik.
To be continue...
Terimakasih untuk pembaca yang ringan tangannya menekan tanda 👍 dan memberi vote sebagai penghargaan. Tanpa kalian tulisan saya hanya sekedar tulisan, tanpa ada penikmatnya.
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih sudah menghargai karya saya. 😌