
"Brengsek gila!!" Dada wanita itu naik turun mengatur deru nafasnya yang tak beratur.
Pria yang di maksud, dengan wajah santainya semakin mendekatkan diri dengan wanita yang mengumpatnya. Pria itu menunjukkan senyum termanisnya, membuat si wanita semakin terkuras emosinya.
"KAU!!" tunjuk wanita itu tepat di hidung bangir pria eksotis di depannya. "MATI SAJA, BIAR KU TENDANG KE NERAKA JAHANAM NICK BRENGSEK!!!" hidung Marriane kembang kempis meraup oksigen yang hampir habis di pembuluh darahnya.
Pria itu tak acuh dengan kata nista yang keluar dari mulut Marriane. Ia malah semakin mendekatkan tubuhnya ke Marriane, mencari kehangatan yang terbiasa ia dapatkan dari wanita itu. Nick tak perduli bila harus merasakan sakit, jika Marriane memukuli tubuh cederanya itu.
Berbeda dari prediksi Nick, Marriane tak menolak masuk ke dalam pelukan tubuh kekarnya, meskipun Marriane tak membalas pelukan Nick. Tangan kekar Nick bergerak mengelus punggung favoritnya tanpa sadar.
Kepala Nick bersandar di bahu Marriane yang tampak bergetar. Nick semakin mengeratkan pelukannya, menghirup aroma infus dan obat-obatan dari tubuh tunangannya.
Aahh...
Sejak kapan?
Sejak kapan pria brengsek ini mulai terbawa perasaan?
Tak tau lah, otak Nick menjadi bodoh dadakan.
Yang jelas mulai sekarang, pria keji itu akan melancarkan seribu satu rencana, demi mengikat wanita kuman yang sudah menjadi bagian dari kebiasaannya.
"I'll marry you babe" ucap Nick seraya melepaskan pelukannya, lalu mengecup bibir yang sedang di gigit pemiliknya.
________________________________
"Bunda" lirih Dewa, melirik bundanya.
"Oh God, anak ini!" Lexia memutar bola matanya malas, seraya bercekak pinggang. "Dia pria yang selalu kamu paksa nonton Dragon Ball bareng, Dewa Chandra Gusito!!" Wanita dengan wajah oriental itu menunjuk Luke dengan dagunya.
"Da-daidi...?"
"Yes, it's me. Come here Goku boy" Luke merentangkan tangannya, bersiap menerima pelukan anak dari teman yang pernah jadi partner di ranjang panasnya itu.
Ragu-ragu Dewa memeluk Luke, yang memiliki tubuh lebih besar dan tinggi darinya. Luke menepuk punggung bocah kecil yang selalu merengek padanya dulu. Dewa tersenyum canggung.
Saat kecil dulu, saking senang bundanya membawa pria ke apartemen, ia sempat beranggapan bahwa Luke adalah ayah kandungnya. Kerinduan sosok ayah membuat Dewa kecil melimpahkannya pada pria yang di bawa pulang oleh ibunya. Makanya Dewa memanggil Luke dengan sebutan daidi, kata daddy dalam bahasa Irlandia, ketika ia dan bundanya pindah ke negara tersebut.
"Kudengar kau sudah menjadi seorang dokter? Apa kau mengikuti jejak ibumu?" Luke melepaskan pelukannya, tangannya masih bertengger di bahu bocah lucu yang dulu selalu berlari memeluknya jika bertemu.
"Emm, bisa di bilang iya, bisa di bilang tidak. Yaah, begitulah" Dewa mengusap tengkuknya salah tingkah. "Mmm... Itu--- daidi, aku minta maaf atas ketidaksopanan ku tadi" Dewa menunduk, menyesal.
"Kau cemburu?" goda Luke.
"Tentu saja!! Bunda hanya milikku!"
"Oh God!! Sudah berapa usiamu nak? Masih saja kau seperti itu" Lexia memijit pelipisnya. "Sebaiknya kau ku nikahkan saja, jadi kau bisa menaruh sifat posesifmu itu pada orang yang tepat"
"Yaa, yaa... Aku pasti menikah bun, tenang saja. Aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menemui pujaan hatiku" Dewa tersenyum tampan, tapi tersirat kegundahan di sana. Tiba-tiba, ia menutupi telinganya yang perlahan memanas. Aah, sebenarnya ia hanya mengantisipasi jika telinganya mulai memerah. Jika bunda melihatnya, sudah pasti ia akan di jadikan bahan ejekan di hadapan teman-temannya.
Lexia dan Luke bersitatap, Rahang bawah Lexia terjatuh tanpa aba-aba, membuat mulutnya terbuka, tak bisa di kondisikan. Wanita yang memiliki dua gelar kedokteran itu sangat shock saat mendengar penuturan putranya.
Lexia dan Luke saling berpandangan syarat arti, mereka tak bisa menahan gelak tawanya lagi, menghambur lah suara cekikikan kedua orang paruh baya itu.
Terkejut? Jelas, selama ini putranya tak pernah berkeluh kesah tentang wanita. Lexia tak pernah mengekang Dewa, selama yang dilakukan anaknya masih bisa dimengerti, termasuk urusan sek*s.
Berkaca dari dirinya sendiri yang bebas, pikir Lexia putranya itu akan mengikuti jejaknya. Tapi nyatanya tidak, justru Dewa sangat jarang berinteraksi dengan wanita. Oleh karena itu, Lexia begitu terkejut, saat putra semata wayangnya mengatakan akan menemui pujaan hatinya.
________________________________
Pesanan customernya sudah selesai dari setengah jam yang lalu, dipikir masih ada waktu untuk membuat maha karya lainnya, ia pun membuat sesuatu karena teringat akan Eden.
Leia sedang memotong bagian kayu yang sudah ia beri pola untuk di jadikan kursi makan untuk bayi. Wanita itu begitu tak sabar, melihat sang putri yang duduk di atas kursi buatannya. Sampai tak sadar waktu telah bergulir dengan cepat.
Waktu menunjukkan pukul enam petang. Dua karyawan Leia sedang menunggu bosnya selesai dari kegiatan membuat kursi bayi yang entah buat siapa pikir mereka. Kedua orang itu baru tiga bulan membantu Leia dalam pekerjaannya. Karena beberapa bulan terakhir banyak orderan masuk untuk custom meubel buatannya. Dulu memang Leia hanya bekerja sendiri, karena pesanan tidak begitu banyak seperti sekarang.
Karyawan pria yang biasanya di panggil Gagit itu, menyikut lengan karyawan wanita yang bernama Hasna. "Kamu ga mau pulang apa? Buruan sadarin bos yang tiba-tiba kesambet setan rajin itu!" bisik Gagit di telinga Hasna.
Hasna menepis kupingnya yang berbalut jilbab. "Kebiasaan!! Jangan deket-deket, bukan muhrim!!" protes Hasna garang. Wanita pendek berwajah bulat itu sangat berpegang teguh pada ajaran agamanya.
"Kan orang ngebisik, gimana caranya kalo ga deket-deket?" protes Gagit balik karena sudah tak sabar ingin pulang untuk merebahkan tubuh lelahnya.
Karena bos cantiknya seperti tak ingin di ganggu ketika sedang membuat maha karyanya, kedua karyawan itu tampak ragu sekedar mendekatinya untuk meminta ijin pulang lebih dulu.
Ditengah perdebatan kedua karyawan Leia itu, samar terdengar suara mesin vespa matic dari luar studio. Seorang pria dengan bayi lucu yang terbalut hipseat di depannya turun dari kuda besi itu setelah menurunkan standar motornya. Pria itu membuka helm bogo berkaca hitam yang menutupi kepala dan wajahnya. Lalu mengubah letak bayi di dalam hipseat yang sebelumnya menghadap dada bidang pria tu, menjadi ke depan.
"Ngapain tuh bule?" celetuk Gagit, bergegas ia keluar untuk mengantakan maksud dan tujuan pria bule itu. Hasna yang sempat terpanah pesona pria bule itu, mengikuti Gagit dari belakang seraya beristighfar, takut imannya goyah.
Belum sampai di depan pintu, pria bule itu telah membuka pintu hingga terdengar bunyi kemerincing. Mata biru pria itu mencari sosok wanita pemiliknya. Senyumnya terbit, tatkala melihat wanita yang tengah menyatukan bagian-bagian kayu membentuk kursi kecil dengan kaki tinggi.
"Excuse me Sir, can i help you?" tanya Gagit.
Pria bule itu tak menghiraukan Gagit yang sudah begitu sopan bertanya padanya. Langkah kakinya melebar ke arah sang istri yang hanyut pada kursi ciptaannya, Darrel tebak pasti untuk bayi yang sedang menggantung di depan dadanya.
Gagit begitu kesal karena di acuhkan, ia pun menyusul Darrel yang bertubuh lebih besar darinya tanpa takut. Saat tangannya terjulur hendak meraih bahu bidang itu, tiba-tiba gerakan tangannya terhenti karena ada yang menarik belakang baju yang dikenakannya. Gagit menoleh kebelakang, mendapati Hasna yang menggeleng seraya menunjuk ke arah bosnya.
To be continue...