
Ada indikasi Syahura memiliki gangguan stres pasca trauma. Tanpa menebak pun, Leia sudah pasti mengenali gejalanya. Lantaran pernah mengalami hal serupa, saat menolong Yugi dari kejadian nahas yang menimpanya dulu, situasinya persis seperti saat ini.
Yugi yang saat itu berusia enam belas tahun, dipaksa memenuhi hasrat wanita-wanita jal*ang, rekan seprofesi ibunya. Dengan buas para penghibur itu mencabik-cabik batang Yugi kedalam pusat inti mereka secara bergantian, sialnya tubuh Yugi menghianati hatinya. Batangnya menantang garang saat wanita-wanita itu menggaulinya, bertolak dengan hatinya yang ingin terlepas dari jerat setan yang memabukkan itu. Dan hal itu dilakukan secara kontinu, membuat Yugi muak dan merasa kotor dan menjijikan.
Itulah sebab Yugi begitu benci dengan hasrat seksualnya. Sebisa mungkin ia menekan ke dasar paling dalam nafsunya. Bahkan ia bersedia di vasektomi, tapi Leia menahannya, ia tak mau Yugi menyesal dikemudian hari.
Yugi yang takut dengan sentuhan wanita dan Syahura yang takut saat melihat pria. Yugi yang berpegang erat pada Leia, meskipun Leia seorang wanita. Begitu pula Syahura, menganggap Yugi sebagai perisai pelindung, karena telah menyelamatkannya saat diambang maut. Meskipun Syahura keliru dengan jenis kelamin Yugi yang seorang laki-laki. Apa Syahura juga akan ketakutan saat melihat Yugi? Setelah ia mengetahui Yugi adalah seorang pria.
Yugi kesulitan mengatur nafasnya, tubuhnya seperti digerogoti ribuan fillum artropoda yang membuatnya bergidik. Matanya masih terbelalak menatap Leia, mencari ketenangan dari sorot mata kelabu nonanya. Tangannya kaku terjulur ke atas, enggan menyingkirkan tangan Syahura yang menggelung pinggangnya. Ia merasa hina jika ia menyentuh balik wanita itu. Resah, gelisah, berbaur menyuarakan hasratnya, ia takut jika tubuhnya bereaksi, bertentangan dengan keinginannya.
"Ka-khak..." Yugi tercekat.
Leia menangkup wajah Yugi, mendekatkan ke wajahnya, sangat dekat, sepuluh centi pun tak sampai. "Tarik nafas... Hembuskan... Tarik nafas... Hembuskan..." Leia mencoba mengatasi serangan panik Yugi tanpa menggunakan suntikan penenang.
Leia mengusap lembut batok kepala Yugi. Diturunkannya tangan kurus Yugi yang berotot ke kedua pundaknya. Perlahan, tangan berkapalan Leia membawa kepala Yugi keatas pundak kanannya. Menepuk-nepuk punggungnya yang tak begitu bidang itu. "Tarik nafas... Hembuskan..." ucap Leia seolah merapal mantra. Keringat dan air mata mengucur deras dari tubuh Yugi.
Tangan Leia yang bebas melonggarkan gelungan tangan Syahura di pinggang Yugi. Leia mengintip Syahura yang berada di sebelah kirinya. Kepala Syahura tertunduk, tersandar pada sisi kanan pinggang Yugi, tangannya begitu erat mencengkram kemeja hitam yang Yugi kenakan. Gadis itu sama gemetarannya dengan Yugi, dia juga berusaha mencari ketenangan batinnya dengan berpegangan pada Yugi. Leia jadi tak tega untuk melepaskan gelungan itu.
Selang beberapa menit kemudian, perasaan Syahura yang sudah agak tenang. Namun ia menangkap kejadian janggal. Pikirannya berkelana mencerna situasi dihadapannya.
Apa yang terjadi? Syahura.
Syahura menurunkan tangannya yang masih melingkar longgar di pinggang Yugi. "Aa, aa..." untuk pertama kalinya Syahura mengeluarkan suaranya, pasca kehilangan lidahnya. Siapapun yang mendengarnya akan mengiba.
Gelombang getaran suara Syahura, merambat pendengaran Yugi. Seperti saat sebelumnya, saat Yugi melihat rongga mulut Syahura. Rasa yang merendap di palung jiwanya terenyuh, bergetar, memberontak untuk dibangkitkan.
Nafas Yugi masih berhembus tak beraturan, tapi tak separah sebelumnya. Nafasnya berangsur normal tatkala matanya mengintip ke bawah dari sela pundak Leia. Matanya menatap mata bening Syahura yang tangannya tertaut gelisah. Perasaan iba berhasil memukul ketakutannya.
Leia pun merasa iba mendengar lirihan suara Syahura. Ia pun mengalihkan pandangannya ke gadis malang itu.
Jantung Leia berpacu cepat, matanya menyorot sesuatu yang membangkitkan hormon adrenalin-nya. Mata indah itu tak henti mengamati bekas luka yang tercetak di leher Syahura. Ia baru menyadari bekas luka itu saat Syahura mendongakkan kepalanya. Ada bekas tusukan yang pernah ia lihat sebelumnya.
Netra abunya bergetar, ketakutan itu kembali ia rasakan. Keringat dingin bercucuran di dahinya.
Bukan!!! Pasti bukan!!! Serupa tapi tak sama. Ya, pasti begitu. Leia
Perdebatan batin Leia terhenti, saat dokter dan perawat yang datang begitu terlambat untuk memeriksa keadaan Syahura.
_________________________________
Ketika akan memasuki ruang itu, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu. Sorot mata birunya tak luput dari pergerakan ketiga orang di depannya. Rahangnya mengetat tatkala telapak tangan kasar sang istri membelai penuh kelembutan pria kurus. Naparnya mengacuhkan sosok lain, yang juga memeluk pinggang pria kurus itu. Kepalanya begitu panas melihat romantisme di depannya, itu menurut persepsinya.
Seorang dokter dan dua orang perawat tergesa-gesa masuk ke bilik itu. Menyiapkan peralatan medis dan segala obat-obatan yang akan membantu pekerjaannya. Tubuh kekar Darrel tersenggol oleh salah seorang petugas medis, membuatnya sedikit oleng dan terbentur kusen pintu cukup keras di belikat kirinya.
Darrel meringis, rasa sakit di punggung kirinya amat menyengat. Namun rasa itu tak sebanding dengan sakit yang tiba-tiba menggrogoti jantungnya. Entahlah, jantungnya serasa diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.
Otaknya sungguh tak sanggup mengartikan perasaan yang sedang ia rasakan kini. Nalarnya tak sanggup menjabarkan penyebab rasa terbakar di dadanya. Ingin sekali rasanya mematahkan leher pria yang sedang di peluk istrinya, saat ini.
"Ck... Otak dan hatiku seperti sedang bermusuhan sekarang. Aku ingin meratakan wajah tampannya itu, argh..." decaknya kesal. Ingin mengumpat, tapi ada bayi dengan jutaan sel baru dalam membran otaknya. Tentu saja umpatan itu akan terserap dalam otak yang masih suci itu, jika ia mengungkapkannya.
Darrel menarik balik rasionalitas yang sempat keluar dari otaknya. Memantapkan tujuan awal pernikahannya dengan Leia, itu harus ia genahkan. Bersiap jikala harus membuang jauh perasaan yang akan menghambatnya di kemudian hari. Keputusannya harus mantap. Demi Leia, demi Eden, demi keluarga kecil yang telah dibinanya. Darrel begitu bimbang dengan kelangsungan rumah tangganya, ia hanyut akan pikirannya sendiri.
"Oppa..." suara lembut sang istri berhasil merenggut alam bawah sadarnya.
"Huh...?" Darrel celingukan saat tersadar akan lamunannya.
_________________________________
Ada yang aneh dengan istrinya, tiba-tiba Leia menautkan jemarinya kedalam ruas jari Darrel. Wajah datarnya yang sekian lama tak dilihat Darrel lagi, kini muncul di permukaan wajah Leia. Darrel tebak, istrinya itu sedang tenggelam akan pikirannya.
Tapi apa yang dipikirkannya?
Lagi-lagi Darrel tak bisa menerka jalan pikiran otak cantik istrinya. Pikiran menjalani pelatihan non verbalnya jadi tak berguna di depan wanitanya ini. Belum lagi, pengaturan emosinya kini belum stabil. Ia jadi sukar berkata, apalagi bertanya. Topeng yang selama ini ia sembunyikan hampir saja pecah menunjukkan sisi kejamnya. Semua itu karena cemburu.
Ya, yang Darrel rasakan itu adalah sebuah kecemburuan, hanya saja otak jenius Darrel tak menyadarinya. Atau mungkin, kosa kata itu memang tak diarsipkan oleh si otak, entahlah.
Pasangan itu berpegangan tangan dalam kesunyian di koridor klinik, memandang jauh entah kemana, yang jelas itu tidak penting. Di balik diamnya sepasang suami-isteri itu, ada pergolakan serius antara otak dan hati mereka.
To be continue...