
Entah mengapa sejak matahari menyingsing hari ini, sikap Darrel begitu hangat dan manis bagi sang istri. Sebelum Leia bangun dari lelapnya malam, Darrel sudah menggantikan rutinitas yang biasa Leia lakukan setiap harinya. Memandikan Eden dan memberinya susu. Bahkan ia sempat menjemur putrinya yang kian menggempal itu.
Pria itu menempeli Leia seperti permen karet. Mandi saja pria itu mengikuti istrinya, meskipun kamar mandi itu kecil untuk di pakai mandi bersama. Mereka tidak ena-ena ya di sana, sekedar mandi bersama saja. Jangan ngeres!
Sekarang Darrel sudah bisa cebok sendiri. Kebiasaan habis pup cuma diseka pakai tissue pun menghilang semenjak menikah dengan Leia. Setelah di pikir-pikir Darrel suka dengan kebiasaan-kebiasaan baru di rumah istrinya ini.
Banyak manfaat yang ia terima ketimbang mudaratnya. Tentu saja ada beberapa hal yang agak sulit Darrel terima. Salah satunya, yaaa cara membersihkan pup yang langsung menggunakan tangan tanpa perantara tissue. Tapi setelahnya dia sadar, ternyata lebih bersih secara langsung ketimbang pakai perantara. Panty-nya tidak berbekas sisa-sisa pup yang menjiplak dari sumbernya, hehe. Ia sudah bisa sendiri tanpa bantuan Leia sekarang. Tidak merasa jijik lagi semenjak Leia dengan santainya membersihkan sisa pup yang melekat di bokongnya tanpa rasa jijik.
Peran mereka seolah tertukar, Leia yang bekerja di luar, sedangkan Darrel berkerja di rumah. Leia yang mengayomi, Darrel yang super manja. Lebih banyak Leia yang mengarahkan bahtera rumah tangganya, Darrel seperti penumpang yang mangut aja kalau diperintah nahkoda.
Hanya satu yang sedikit mengganggu Leia, kenapa suaminya itu seperti tidak berhasrat dengannya? Padahal kalau di perhatikan, Darrel sudah jadi bucin banget sama Leia. Tapi Darrel tidak pernah meminta hubungan intim layaknya suami-istri lainnya yang selalu terbakar gairah. Apalagi mereka masih termasuk pengantin baru. Walaupun hanya mereka saja yang tau sih.
Apa Darrel menyimpang? Eeheeii... tidak mungkin, Leia kan sudah merasakan kegagahan suaminya. Apa letak masalahnya ada pada diri Leia?
Leia menggelengkan kepalanya, ia melanjutkan aktivitas mengelap tubuh basah suaminya dengan handuk. Dari tadi pikiran Leia mengarah pada benda tumpul yang tak ditutupi sehelai benangpun itu. Leia menegak ludahnya sendiri. Kok kayak Leia sih yang mesum terus pikirannya? Bukannya suami ya, yang harusnya punya hasrat berlebih sampe bisa tembus belasan ronde? Menurut novel online yang Leia baca sih gitu, hehe.
Leia menepuk kedua pipinya agar tersadar. Darrel perlu di lilit pakai handuk supaya anu nya tertutup, sebelum Leia hilang kesadaran.
"Yang ini masih basah, Leia" protes Darrel saat Leia melilitkan handuk di pinggangnya. Punggungnya memang belum di lap Leia karena terlalu fokus sama roti sobek dan sosisnya di depan.
"Lap aja sendiri ih" buru-buru Leia keluar kamar mandi. Tanpa sadar kalau dirinya sendiri polos tanpa handuk yang membalut, astaga.
"Kamu jangan keluar dulu, ntar lantainya basah!" nah sekarang kebalik. Dulu Leia yang suka mengomel pas Darrel keluar kamar mandi tanpa mengeringkan tubuhnya lebih dulu. Alasannya lantai cepet kotor karena basah, terus bahaya juga, nanti ada yang kepeleset.
Darrel langsung mengambil handuk, lalu membalut tubuh Leia dengan handuk berukuran jumbo itu.
"Aaaaaaah...!" teriak Leia. Dia kaget karena tubuhnya diangkat Darrel lalu disampirkan ke pundak sang suami.
"Kamu kenapa sih? Ga seperti biasanya" Darrel menurunkan tubuh Leia di atas kursi rias. "Kamu kan ga suka kalo lantai kamar basah" Darrel mengambil handuk kecil untuk mengeringkan pundak dan tangan Leia. "Kenapa, hem...?" Darrel mengelap kaki ramping Leia yang jenjang. Lalu naik lagi mengelapi Leher dan dada Leia.
Mata Leia terpejam menikmati sensasi aneh yang timbul akibat pergesekan kain handuk yang lembut di kulit sensitifnya. Apalagi saat kulit Darrel tanpa sengaja menyentuh kulitnya. Rasanya seperti tersengat listrik tegangan rendah yang bisa membuat kejang.
"Kok ga di jawab?" Darrel menangkup wajah Leia. Menghadapkan wajah cantik itu ke wajahnya. Nafas hangat Darrel menyerbu pori-pori wajah Leia, membuat bulu roma Leia merinding.
"Hey..." tegur Darrel lagi. Kini jemari besar Darrel mengelus pipi Leia yang memerah dengan lembut. "Kenapa...?" lirihnya, Darrel menyatukan kening mereka hingga saling merasakan kehangatan tubuh masing-masing. Aroma menthol dari nafas Darrel menyusup masuk ke indra penciuman Leia.
"Apa aku wanita yang tidak bisa membuatmu bergairah?" pertanyaan itu meluncur begitu saja sejak pertahanan harga dirinya runtuh. Ia perlu menuntaskan hasratnya. Tapi egonya berteriak, karena anu Darrel tak pernah berdiri, sekalipun Leia dalam keadaan tanpa busana seperti tadi di kamar mandi. Baru kali ini Leia merasa rendah diri, ia tak mampu membangkitkan gairah suaminya. Hanya sekali, hanya sekali saat jebol gawang pertama kali waktu itu. Hanya saat itu ia dan Darrel melakukan hubungan intim suami istri.
"Pfffttt..." Darrel menahan tawanya. Pipinya menggembung seakan ingin menumpahkan sesuatu.
Leia memiringkan kepalanya, heran dengan suaminya itu. Wajah Darrel memerah, matanya menyipit, kerutan di hidungnya terlihat jelas.
"Bhuaahahahaha..." Darrel tak mampu menahannya lagi, pipinya terasa kebas karena mengembungkan nya terlalu lama. Leia hanya menatap suaminya yang terbahak itu dengan tatapan bingung.
Apa pertanyaan ku lucu? Sampai membuatnya tertawa lebar seperti itu? Leia
"Aaahh... Maaf istriku. Aduh..." Darrel memegang perutnya, mungkin sedikit keram karena terlalu banyak menertawakan Leia. "Kamu ingin melakukannya lagi?" tanya Darrel setelah berhasil meredakan ledakan di kantong tertawanya. Telunjuk Darrel menari-nari di atas permukaan wajah Leia seraya menunggu jawaban sang istri.
Leia mengangguk lesu, "Tapi gimana?" Leia melirik sosis Darrel yang masih lempem. Darrel menarik keningnya dari permukaan dahi sang istri, lalu mengikuti arah pandangan Leia yang lesu.
Darrel kembali tertawa saat melihat ekspresi istrinya saat itu. Darrel begitu gemas dengan tingkah Leia. Entahlah, semakin hari keberadaan Leia semakin tertanam di hati Darrel yang sempat membeku. Seolah lupa dengan Alexithymia yang ia derita selama ini. Mungkin Leia adalah obatnya.
"Oppa menahannya sayang" Darrel menciumi wajah sang istri. Ia memeluk Leia, lalu mengangkat tubuh istrinya dari atas kursi rias. Kecupan berakhir di bibir, Darrel mencium bibir Leia dengan panas. Mata mereka saling berkesinambungan, beriringan dengan langkah kaki Darrel yang membawa tubuh keduanya ke atas ranjang.
Darrel meletakkan tubuh Leia di atas permukaan ranjang yang empuk dengan perlahan. Ada bara gairah yang sedang membakar keduanya. Leia enggan membebaskan tangannya yang menggelung leher putih Darrel. "Kenapa di tahan?" nafas Leia semakin berat, seolah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Jangan ditahan oppa... Sekarang, lakukanlah!!" imbuh Leia lagi.
Darrel menegak liurnya, suara Leia terdengar sexy di telinga Darrel. Ia pun melepaskan hormon yang akan membuatnya melayang tinggi. Mulai sekarang ia tak akan pernah menahannya lagi.
Istrinya sungguh menggoda, perlahan benda yang tadinya lempem jadi membesar dan keras. Pusaka milik Darrel mengenai permukaan kulit perut Leia yang handuknya sudah tersingkap.
Leia tersenyum, ternyata tak ada yang salah dengan dirinya dan Darrel. Suaminya itu hanya sedang menahannya saja. Rona kebahagiaan memancar dari kamar Leia. Desahan halus mengiringi tubuh mereka yang aktif bergerak melancarkan serangan cinta.
To be continue...