Traffic Light

Traffic Light
FIRASAT



"Hey" Darrel menjentikkan jemarinya guna menyadarkan istrinya yang sedari tadi hanya melamun selama perjalanan pulang, Darrel takut jika Leia masih sebal terhadapnya.


Leia tersentak dari lamunan masa lalunya, ia berusaha menyembunyikan mimik wajah aslinya pada Darrel, menggantinya dengan rekahan senyum yang begitu elok dipandang.


Sampai saat ini Darrel masih sulit menebak gestur dan perasaan istrinya itu, padahal ia seorang agen yang notabene bersikap peka terhadap sekitarnya. Darrel hanya menghela nafas panjang karena tak kuasa berdebat. Ia saja sudah merasa kewalahan saat menenangkan senjata pamungkasnya tadi. Belum lagi ia masih menerka-nerka, apakah istrinya itu sudah tidak kesal lagi terhadapnya?


Leia yang melihat reaksi Darrel, langsung mengerti isi pikiran suaminya itu, "Aku udah ga kesel lagi kok sama oppa, suer" Leia mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf 'V'.


Darrel begitu takjub dengan istrinya yang seakan-akan paham dengan isi pikiran nya bahkan sebelum mereka saling mengenal pada pertemuan pertama kala itu, saat Leia dengan beraninya melamar dirinya di hadapan bayi Eden.


Bravo, bravo, istriku ini, kalau ikut test intelektual pasti juara pertama deh, duuh bangganya. Tapi sebentar deh, kalau dipikir-pikir dengan tingkat intelegent nya itu, jangan bilang dia udah tau pekerjaan utamaku? Oh my God. Darrel membuka mulutnya, membiarkannya ternganga selama menyetir.


Memikirkan kemungkinan-kemungkinan jika identitas rahasianya ternyata sudah terbongkar di hadapan istrinya, membuat Darrel resah. Jujur saja Darrel masih ragu untuk memberitahukan keseluruhan kisah hidupnya pada Leia. Ia sangat takut jika hal itu dapat menyakiti dirinya dan juga Leia.


"Oppa, mingkem!" ujar Leia yang melihat suaminya melongo dengan mulut yang terbuka.


"Mingkem?" Darrel yang masih belum terbiasa dengan bahasa non baku acapkali kebingungan dengan kata-kata asing yang keluar dari mulut istrinya.


Leia yang paham dengan gurat kebingungan yang di tunjukan Darrel pun langsung menjawab pertanyaan suaminya "Artinya tutup mulut oppa"


Darrel mengangguk-angguk seperti anak kecil yang mengerti ketika orang tuanya ajari. Leia melihat kepolosan suaminya itu, merasa jantungnya kian berdebar. Apa benar Leia telah mengikhlaskan perasaannya terdahulu dan menggantinya dengan perasaan yang jelas-jelas lebih halal dan baru?


Leia hanya membiarkan benang takdir menuntunnya agar dapat menguraikan yang kusut dan memotong yang sudah kusut. Begitulah pikirnya, toh mas Dewa nya itu tak akan kembali. Melupakannya adalah hal yang benar kan?


Di tengah-tengah perjalanan suara perut Leia menjadi pengganti audio player mobil yang berlagu. Darrel terkekeh geli seraya mengelus perut rata istrinya seperti ada makhluk lain bersemayam di dalamnya. Wajah Leia kembali memerah, bukan karena suara keroncongan perutnya, melainkan akibat tangan Darrel yang mengelus perutnya. Membuatnya benar-benar ingin melahirkan anak dari benih cinta mereka.


Pria ini sungguh tak terduga, aku kira dia hanya pria brengsek yang hanya mau menggauli Stevi tanpa mau bertanggung jawab atas hasil benihnya. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan Stevi? By accident kah? Leia terus menatap wajah suaminya dari samping.


"Kita singgah makan dulu ya" ucap Darrel membuyarkan pikiran Leia.


Leia mengangguk sambil memegangi perutnya yang terkadang masih bernyanyi. Darrel memberhentikan mobil di satu restoran bernuansa sunda, terdapat saung-saung yang mengelilingi kolam ikan. Leia memesan cah kangkung tauco, gurame saos asam manis dan udang bakar madu. Sedangkan Darrel memesan Petai bakar, cumi cabe ijo, dan ayam bakar bumbu rujak. Untuk minumannya pasutri tersebut memesan minuman yang sama, yaitu es jeruk kecil dan air mineral botol, tak lupa juga mereka memesan nasi putih satu bakul kecil untuk porsi tiga orang, wajarnya.


Sambil menunggu pesanan datang, pasangan suami istri itu ngobrol ngalor-ngidul. Tanpa mereka sadari seorang wanita memperhatikan keakraban pasangan itu dengan sinis.


Perempuan itu mendekati Darrel dan Leia, ia mengetuk meja di sisi Darrel dengan buku jarinya. Sontak pasutri itu menoleh ke arah orang yang menginterupsi percakapan mereka dengan ketukan itu.


"Hestia?" Darrel mengenali wanita itu, ia adalah teman satu angkatan saat Darrel sedang menyamar di suatu universitas ternama.


Leia menyambut tangan Hestia dan menjabatnya "Leia" Leia menyunggingkan senyum tercantik nya.


"Boleh gabung?" tanya Hestia pada Darrel.


Sebelum menjawab, Darrel meminta persetujuan dari istrinya dahulu. "Boleh sayang?" Darrel memegang tangan Leia.


Sayang? Apa hubungan wanita ini dengan Darrel? gumam Hestia dalam hati.


"Hmm, terserah oppa aja deh" Leia menepuk punggung tangan Darrel yang sedang menggenggam tangannya.


"Ya sudah, silahkan gabung Hestia" Darrel memindahkan posisinya yang sebelumnya berhadapan dengan Leia, kemudian pindah ke sebelah istrinya itu. "Waiters" Darrel melambaikan tangannya pada pria dengan pakaian khas waiters di tambah udeng khas sunda di kepalanya. "Mau tambah pesanan" ucapnya pada pelayan itu. "Pesan makanannya dulu Hes" Darrel menyerahkan buku menu pada Hestia.


Hestia masih sibuk memilih makanan yang akan di pesannya, ia terlihat membolak-balikkan buku menu tersebut. Karena canggung dengan keberadaan orang ketiga, siapa lagi kalau bukan Hestia. Leia lebih memilih memainkan ponselnya, tiba-tiba ia teringat dengan Eden. Sudah lumayan lama mereka meninggalkan anaknya yang sedang tidur dalam pengawasan sang ibu, Neftari. Leia menghubungi ibunya via video call.


"Kamu video call sama siapa?" tanya Darrel berbisik, bersamaan dengan itu pesanan pasutri itu sudah datang dan mulai di sajikan.


"Ibu, mau ngecek keadaannya Eden. Kan oppa bilang tadi ada firasat Eden bakal bangun dan nyariin kita" jawab Leia ikut berbisik, Hestia yang tadinya sibuk melihat menu, kini merubah haluan matanya ke arah Leia dan Darrel yang tengah bisik-bisikan.


Saat dering ke empat, ibunya menjawab panggilan video call dari putri tercintanya. "Halo sayang" sapa Neftari dari layar ponsel.


Leia melambaikan tangan ke arah kamera ponselnya. "Eden mana bu? Udah bangun dia?" Leia mengintrogasi ibunya.


"Udah kok, barusan abis enen dia. Kamu kayanya lagi di restoran yah?" Neftari menilik tempat yang menjadi background putrinya.


Darrel tiba-tiba merebut ponsel dari tangan Leia dan mengarahkan kamera depan ponsel itu ke arah wajahnya. "Bu, kasih liat Eden dong"


"Ya ampun mantu! Bikin ibu kaget aja. Makanya cepet pulang sebelum Eden rewel nih, kalian ngapain aja sih sebenarnya?"


Darrel cengengesan mendengar celoteh dari mertuanya itu, "Kita lagi di 'Sesuguhan' ini bu. Quality time sama istri, masa ga boleh sih"


Pyass... Gelas kaca berisi air putih yang di pegang Hestia merosot dari tangannya yang tiba-tiba melemas. Untung saja gelas kaca itu tidak pecah karena jatuh di atas meja, sementara airnya, ada yang jatuh di lantai, ada yang tergenang di atas meja, bahkan makanan yang sudah tersaji terkena tempias air yang tumpah.


ISTRI??? Pekik Hestia dalam hati


To be continue...