
Pria tampan berparas manis itu sedang mengobati golden retriever yang ia tabrak beberapa waktu lalu. Tangannya begitu lihai menangani fraktur tulang di kaki anjing berbulu coklat keemasan itu. Setelah selesai melakukan operasi kecil pada si golden retriever, pria berkulit sawo matang, memeriksa cairan infus dan membereskan peralatan medis yang barusan ia gunakan.
"Pinjam dulu ya kliniknya, kasihan si guguk" ujarnya lembut pada orang yang disinyalir sebagai pemilik klinik atau dokter hewan dan seorang pria yang diduga perawat. Mereka berdua terkulai tak sadarkan diri di kursi kerja masing-masing.
"Hmm..." si pria beralih memperhatikan wanita penolong yang membawanya ke klinik hewan. "Apa yang sebaiknya aku lakukan padamu?" Ia tersenyum, membayangkan berbagai macam hal yang akan ia perbuat pada wanita tersebut.
Wanita yang sudah bergelimang air mata itu bergidik ngeri. Seolah senyuman pria itu akan menjadi mimpi buruknya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bergumam tak jelas karena kain yang menyumpal mulutnya.
Pria itu sengaja membiarkan si wanita tetap sadar karena wanita itu sudah terlanjur mengetahui wajahnya. Sedangkan pemilik atau dokter dan perawat itu, mereka tak melihat secara langsung pria itu. Karena sudah terbius minuman energi yang di berikan wanita penolong.
Tentu saja minuman itu berasal dari pria berwajah adem itu, di mobilnya memang tersedia minuman energi botol yang sudah di campurkan obat tidur. Ia bermain cantik, sebagaimana yang telah diajarkan kepadanya.
_________________________________
"Cincin?" kernyit Hasna saat melihat Leia mengukir sepasang cincin berbahan kayu.
Leia berdehem pengganti jawaban iya, dia masih fokus dengan ukirannya.
"Aromanya..." Hasna mengendus aroma wangi yang jarang ia cium dari kayu-kayu yang biasa ia olah. "Gaharu? Hmm... Bukan deh kayanya, atau mungkin pinus? Ah, lebih ga mungkin" Hasna penasaran. Jarang sekali ada kayu yang memiliki aroma wangi seperti ini.
"Ini batang kayu lilac. Coba lihat..." Leia menunjukkan batang kayu dengan gubal berwarna cream itu. "Inti kayunya bercorak ungu kecoklatan, cantik kan?" Leia tersenyum, mengingat arti dari bunga lilac, begitu kontras dengan mitologinya. Dia jadi teringat dongeng yang pernah ayahnya ceritakan tentang asal terciptanya bunga lilac.
Syringa nama lain dari bunga lilac, dinamakan syringa karena berasal dari mitologi dewa dewi Yunani. Seorang dewi bernama Syringa, membuat dewa hutan Pan, jatuh cinta pada pandangan pertama karena kecantikan sang dewi. Namun sayang, dewi Syringa menolak dewa Pan dengan cara melarikan diri. Tak putus asa, dewa Pan mencari dewi Syringa hingga ke seluruh pelosok hutan. Pada akhirnya, dewi Syringa tak memiliki tempat persembunyian lagi. Tak habis akal, ia mengubah dirinya menjadi semak pohon dengan bunga yang cantik dan harum. Menjelma sesuatu yang begitu padu dengan parasnya.
Konon katanya, saat itu sedang musim semi. Oleh karena itu, sebagian orang menganggap bunga lilac sebagai simbol cinta pertama yang murni. Musim semi, dimana bunga-bunga bermekaran indah, sering dijadikan alasan bagi manusia untuk memulai cinta baru nan manis.
"Sedih, tapi indah" gumam Leia, tapi masih terdengar di telinga Hasna.
"Apanya mbak?"
"Syringa"
"Apa sih mba, Hasna ga ngerti"
PLAK!!
Satu jeplakan berhasil tercetak di kepala Hasna, membuat wanita itu mencibir kesal seraya mengusap kepalanya yang tak begitu sakit sebenarnya.
"Bodoh!! Lilac itu nama aslinya Syringa. Berasal dari nama seorang dewi di mitologi Yunani. Keliatan banget waktu kecilnya ga pernah di bacain dongeng!" ternyata Gagit yang menjeplak kepala Hasna.
"Emang dongengnya gimana? Kok mba Leia bilang 'sedih, tapi indah' sih?"
"Mau tau?" Gagit menggoda Hasna dengan senyum jahilnya.
Hasna mengangguk, menanggapi pertanyaan Gagit.
"Kenain gigi aja ya sekalian, biar makin dalem" Hasna menggeram, berbicara dengan mengatupkan giginya. Saking kesal dengan Gagit yang jahilnya bukan main. Hasna memasang pelototan matanya yang begitu besar. Hmm... Bukannya nyeremin, Hasna malah keliatan imut, seperti mata kucing yang besar.
Gagit yang gemas dengan polah Hasna tak bisa menahan tangannya yang secara refleks mengusap kepala Hasna yang terbalut jilbab. "Awuuhh... Lucunya, jadi pengen bawa pulang" celetuknya tanpa sadar.
Kepala yang di usap Gagit terasa panas, wajah Hasna menjadi merah karena mendidih dengan tangan laknat yang berani menyentuh permukaan jilbabnya. Ia pun meraih sesuatu yang tergantung di sampingnya. "DON'T TOUCH ME!!! DON'T TOUCH ME!! BERAPA KALI AKU PERLU BILANG, HAH?!!" Hasna memukuli Gagit dengan penggaris plastik besar yang ia raih.
Gagit kembali tersadar karena mendapatkan amukan dari singa betina yang satu ini. Terjadilah baku hantam dua orang manusia yang terlihat sangat kekanak-kanakan. Leia hanya menggeleng melihat tabiat karyawannya.
Leia kembali fokus dengan cincin couple yang ia buat. Setelah beberapa bulan menikah, Leia baru tersadar. Mereka pasangan yang menikah tanpa ada cincin pernikahan, konyol bukan?
Konflik yang menimpanya bertubi-tubi membuat Leia melupakan cincin pernikahan. Bahkan, suaminya juga melupakan itu.
_________________________________
Pria berambut ikal bersiul seraya menarik kandang hewan besar yang memiliki roda di bawahnya. Tangan satunya memutar kunci mobil dengan jemarinya.
Sesampainya di depan dinding yang terbuat dari batu bata. Pria itu tampak menginjak-injak tanah, mencari spot yang tepat untuk membuka pintu rahasia.
Kiik...
Pria itu menemukan spot yang tepat, ia berhasil membuka pintu rahasia yang ada di dinding itu.
Ia kembali menarik kandang besar itu. Tali yang menjadi alat untuk menarik kandang tersebut, disampirkan ke bahu bidangnya. Tangan yang memegang kunci mobil, ia masukkan ke dalam saku celana jeans, beserta kunci mobilnya.
Pintu rahasia itu kembali tertutup dengan otomatis. Setelah melewati sebuah lorong, terdapat pintu cermin berteknologi mutakhir, yang memiliki alat pendeteksi wajah. Pintu cermin otomatis terbuka setelah pemindaian dilakukan.
Pintu itu bergeser, memperlihatkan berbagai orang warga negara asing, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Nuansa putih yang menyeluruh, dengan berbagai macam alat canggih dan senjata terpampang disana. Serta kubikel-kubikel yang lazimnya kita temukan di perkantoran, ada di sini.
Tempat apa ini?
Pria itu masuk, wanita bermata sipit menyambutnya. Ia menggamit tangan pria itu dengan wajar, seolah itu hal yang biasa. "Apa yang kamu bawa?" tanyanya dengan antusias.
"My pet"
Wanita itu menyingkap sedikit kain yang menutupi kandang, dilihatnya seorang wanita yang di sekap mulutnya dan berurai air mata. "Berhentilah bermain-main, tujuan kita belum tuntas. Ingat itu!" suara yang anggun, kharismatik. Wanita bermata sipit itu mengintimidasi.
"Aku tau, tenang saja" pria itu tersenyum lagi. "Aku mau pakai ruangan itu" ia menunjuk sebuah ruangan kedap suara, yang berisi single bed dan sebuah kursi.
"Bereskan dengan tenang" wanita bermata sipit itu berlalu meninggalkkan si pria berkulit sawo matang.
Selepas wanita itu pergi, si pria membuka kain penutup kandang itu dan mulai membuka pintu kandangnya. "Aku berdebar" seringai itu lagi-lagi muncul membuat wanita yang sedang terisak itu merinding.
To be continue...