
"Ngapain kamu di situ? ngehalang orang mau lewat saja. Ada apa pula dengan raut wajah mu itu? Jangan begitu! Itu menakutkan" Nick bergidik ngeri tatkala melihat senyuman Marriane yang bukannya terlihat cantik, malah terlihat lebih menyeramkan.
"Hehe... Honey, sebaiknya kita percepat saja pernikahan kita" ujar Marriane sambil menyenderkan tubuhnya di pinggir pintu kamar mandi.
Langkah kaki Nick yang hendak ke kamar mandi terhenti, ia memicingkan matanya, "Bukannya sudah ku katakan jangan bahas pernikahan lagi?"
"Kalau tidak menikah untuk apa pertunangan ini? Lalu, hubungan kita yang layaknya suami istri ini, untuk apa?" Marriane tertunduk sedih, dipikirnya Nick sudah mulai takluk terhadapnya. Bagaimana tidak? Nick telah menikmati kesuciannya sebagai wanita sejak awal pertunangannya. Berawal dari alkohol, Nick yang terbawa oleh gairahnya, menyentuh zona berbahaya yang harusnya ia hindari. Tapi, Nick menjadi keterusan dan memintanya berkali-kali pada Ann. Awalnya Nick memang terlihat tunduk padanya, namun lambat laun itu semakin berubah, terjerat akan kebosanan.
Nick tak menjawab Marriane, ia melengos masuk kedalam kamar mandi dan mendorong tubuh Ann yang sedang bertengger di pintunya.
Ck, dasar pria jahat! Rasakan hukuman dariku! Huh. Marriane**
Tak lama kemudian terdengar suara Nick yang berteriak memanggil nama tunangannya.
"Ann...!!!" Nick membuka pintu dengan kasar, ia melempar beberapa testpack ke arah Marriane.
"Aww..." pekik Marriane tatkala testpack yang dilempar Nick mengenai tubuhnya. "Sepertinya, kita akan menikah dalam waktu dekat, sebelum perutku membesar" ejek Marriane, "Jika kau tak mau menikah denganku juga tak apa" imbuh Ann. Nick menatap tunangannya penuh harap. "Tapi jangan salahkan aku jika daddy menguliti mu dan perusahaan mu itu, daddy ku sangat paham dengan semua kebusukan mu" bisik Ann ke telinga ayah dari anaknya itu, ia berlalu meninggalkan Nick yang tengah terduduk frustasi menjambak-jambak rambutnya.
"AAAARRGGHH....." Nick menginjak-injak testpack yang ia lempar tadi dengan kesal. "Sial!! Aku tak mungkin menggugurkan kandungan Marriane" ia kembali meninju-ninju kasur untuk meluapkan amarahnya.
Marriane tersenyum menang karena telah mengalahkan tunangannya yang bad boy itu. Terbesit keraguan jika Nick malah meninggalkannya karena di desak dan di ancam seperti ini. Sebenarnya, Ann tau kalau tunangannya itu tidak memiliki perasaan yang tulus terhadapnya. Jika Nick merengek dan manja, itu tandanya ia menginginkan sesuatu dari Ann. Entah itu hubungan intim, bantuan dana, relasi, dan sebagainya.
Sejurus kemudian, Marriane menghilangkan kemungkinan terburuk di tinggalkan tunangannya. Ia tau betul, tunangannya itu selalu berpikiran rasional. Nick pasti akan menikahinya jika tak ingin hidupnya di buat hancur berantakan oleh Marriane.
PESAN
Yugi:
Nona, saya sudah membelikan testpack untuk nona Marriane dan memberikan padanya. Nona ada di mana sekarang?
Lama Yugi menunggu balasan dari majikannya, ia memutuskan ke kamar tuannya untuk memeriksa, mungkin saja Leia sedang tertidur. Saat di depan pintu kamar Leia, Yugi merogoh ponsel dari kantung celananya, ia mengirim pesan ke Leia.
Yugi:
Nona, saya ijin masuk ke kamar nona ya?
Setelah itu Yugi membuka pintu kamar Leia, di lihatnya seorang wanita sedang tidur menyamping, memunggungi dirinya. Sudah di pastikan itu bukan nonanya, karena Leia memiliki rambut blonde yang berwarna terang. Yugi memperhatikan lagi sisi ruangan yang terdapat box bayi, ada Eden di dalamnya yang sedang tidur pulas.
Siapa wanita ini? Apa nona memperkerjakan baby sitter untuk Eden? Kenapa lancang sekali dia, tidur di atas ranjang nona? Yugi.
Karena penasaran dengan wanita yang tidur di atas ranjang tuannya. Yugi berjalan mendekati wanita itu, saat sudah berada di sisi ranjang satunya, dia mengerutkan dahinya.
Wajah wanita itu tertutup rambutnya sehingga Yugi sulit untuk mengenali wajah wanita itu. Kalau benar perempuan ini baby sitter Eden, ia harus di marahi karena lancang, pikir Yugi.
Pertama-tama lihat wajahnya dulu. Yugi
Dengan keberanian super, Yugi hendak menyingkap helaian rambut wanita itu dengan tangan yang gemetaran.
Ting... (Suara pesan masuk di ponsel Yugi)
Yugi mengurungkan niatnya untuk melihat sosok wanita yang sedang tertidur itu. Ia mengusap layar ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
PESAN
Nona Leia:
Good job, thanks Yugi.
Nona Leia:
Oh iya, aku minta tolong satu lagi.
Yugi:
Katakan saja nona.
Nona Leia:
Itu... Belikan aku pil itu.
Yugi:
Anda sakit nona? Flu? Demam? Atau keduanya? Katakan sakitnya dengan signifikan nona.
Nona Leia:
Bukan sakit Yugi, tapi itu. Belikan aku pil kontrasepsi.
Untuk apa? Yugi
Sesaat kemudian ia tersadar, "Aah, nona sudah menikah" senyum kecut tersirat di bibirnya.
Yugi:
Baik nona, mau saya antar kan ke mana nona?
Leia:
Taruh saja di laci meja rias ku yang paling atas.
Yugi:
Baik.
Saat Yugi akan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, ia kembali melihat wanita yang sedang tidur dengan pulas nya tanpa terganggu dengan dentingan suara notifikasi ponsel Yugi. Ia mengurungkan niatnya untuk memasukan ponsel ke saku celananya. Ia kembali mengetik pesan untuk Leia.
Yugi:
Ada seorang perempuan tidur di atas kasur nona, apakah dia baby sitter Eden?
Yugi memfoto wanita itu lalu mengirimkan file foto itu kepada Leia.
Leia:
Jangan menyentuhnya Yugi!! Itu ibuku!!
Tubuh Yugi bergetar hebat membuatnya berjalan mundur sampai menabrak kursi rias. Yugi memiliki trauma dengan wanita paruh baya atau tante-tante lah ya nyebutnya.
Kehendak takdir mengharuskan Yugi mengalami masa lalu yang kelam. Manusia sejenius Yugi harus mengalami penderitaan yang amat memilukan. Umur Yugi lebih muda 4 tahun dari Leia. Sebenarnya, Leia menganggap Yugi sebagai adiknya. Namun Yugi bersikeras untuk menjadi asisten saja, ia tak berani menyamakan kedudukan dengan orang yang telah menyelamatkannya dari belenggu hostes bar, tempat di mana ia dijual oleh orang tua kandungnya sendiri, saat usianya baru menginjak 15 tahun. Dengan segera Yugi keluar dari kamar Leia karena ketakutan.
W CASTLE
Darrel melepas sabuk pengamannya, bergegas ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Leia. Ia melepaskan sabuk pengaman Leia, sambil ******* bibir wanita yang pertama kali membuatnya bergairah.
Setelah Leia keluar dari mobil, Darrel menggendongnya seperti menggendong anak kecil, kaki Leia melingkar di pinggang Darrel membuat inti mereka bergesekan. Walaupun terhalang helaian kain, namun berhasil membuat kejantanan Darrel belingsatan, membuat wajahnya semakin memanas.
Darrel melangkahkan kakinya menuju lift basemen sambil ******* bibir istrinya. Leia memegang belakang kepala Darrel, memperdalam pangutannya.
Sumpah, saat ini Darrel ingin sekali memiliki kekuatan super agar bisa berteleportasi, supaya bisa langsung ke unit apartemen nya tanpa harus menunggu lift yang tak kunjung terbuka pintunya.
Leia melepaskan pangutannya saat ada seseorang yang ternyata sudah memperhatikan adegan panas mereka, entah sejak kapan. Leia menyembunyikan wajahnya yang penuh air liur di ceruk leher suaminya.
"Oppa... Malu... Ada yang liatin" lirih Leia seraya mempererat pelukan di leher suaminya.
Darrel terkekeh geli, bukannya merasa risih, Darrel malah merem*as pantat Leia yang montok untuk seukuran orang kurus seperti Leia.
Leia yang kesal langsung menggigit leher suaminya yang putih bersih itu. Darrel mengaduh keras karena tabiat istrinya.
Ting... Pintu Lift terbuka.
Darrel melebarkan senyumnya, cepat-cepat ia masuk dan menutup pintu lift agar tak ada orang lain yang mengikutinya masuk lift. Di dalam lift, mereka kembali memadu kasih, saling mengecup dan menggerayangi.
Tak lama kemudian, tiba mereka di depan pintu apartemen, Darrel membuka kunci pintu dengan sidik jarinya.
Trilulit... Pintu pun terbuka.
Darrel menutup pintu dengan kakinya, ia melepas sepatunya tanpa melepas sepatu yang dikenakan Leia. Darrel merebahkan Leia di kasur kamarnya, lalu membukakan sepatu yang Leia kenakan tadi dan melemparnya sembarangan.
Leia melihat sekeliling kamar Darrel yang super kotor, ia bahkan menutup hidung dengan jemarinya.
"Kenapa?" tanya Darrel sambil mengukung istrinya.
"Stop!! Cancel aja, aku ga bisa kalo di tempat kotor begini!!" Leia memukul dada suaminya karena membuat selera bercintanya seketika menghilang. "Mending ke hotel aja tadi" imbuhnya.
"Tapi istrik---" belum selesai dengan kalimat Darrel, Leia memotongnya.
"Udahan!! Cancel!! Understand??" Leia mengarahkan telunjuknya ke Darrel dengan mata yang melotot.
Darrel beringsut dari atas tubuh Leia, ia menghempaskan tubuhnya di samping Leia.
"Ke hotel aja yuk sayang, tanggung. Jangan di cancel" Darrel memasang wajah memelas, berharap mendapat lampu hijau dari Leia.
To be continue...