Traffic Light

Traffic Light
TUMMY TIME



Nyinyir jangkrik beradu nyaring dengan dentingan peralatan alumunium, memecah kehening malam di sudut ruang operasi. Pria jangkung berkulit sawo matang itu tampak gusar menilik alat-alat bedah yang terpapar di depannya.


"Scalpel"


"Dimana benda itu??"


"Cepat carikan bodoh!!"


"Hey!! Apa kau tuli??"


"Aakkhh... Sial!!"


Pria itu memukul-mukul boneka phantom yang sedari tadi di perintahnya namun tak di tanggapi. Jelaslah, alat peraga praktek kedokteran di ajak ngomong, ya ga ngudeng.


Pria itu berjalan kesana-kemari sambil mengacak asal rambut di kepalanya, ia terus bergumam tak jelas. Ah... Mungkin, satu kata yang terdengar jelas. Yaitu,


"Hel..."


"Heleia..."


Setelah itu, pria yang berwajah melankolis tersebut kembali menggerutu kesal. Melampiaskan kemarahannya dengan menggigit kuku jempolnya yang tinggal separuh.


W CASTLE


"Gimana sep? Ada kabar terbaru?" Handoko sedang menelpon Asep, agen yang di tugaskan nya untuk membongkar sindikat persenjataan ilegal yang melibatkan Nicholas, pria yang diduga telah membunuh putrinya Stevi.


"Ada laporan kalau Nicholas sedang dalam perjalanan ke indonesia bersama tunangannya bos. Tapi..."


"Tapi apa sep?" Sergah Handoko penasaran.


"Nicholas tidak membawa asistennya bos"


"Hmm... Kau pantau terus asisten yang mukanya kayak berbie itu, mayan kan cuci mata" Handoko terkekeh geli.


"Eleeuh... Eleeuh... Barbie berbatang dia mah bos, najis tralala iuuwh" Asep bergidik ngeri membayangkan asisten Nicholas yang blasteran. Blasteran kelamin maksudnya, hehe.


KAMAR LEIA


Darrel sedang meladeni Eden yang mulai aktif menggerakkan tubuhnya kesana-kemari. Sedangkan Leia melihati kebersamaan ayah dan putrinya dari sisi cermin riasnya.


"Uluu... Uluu... Baby appa mau coba tengkurep ya? Iya? Duuw, gemesnyaa... Ayo coba lagi, tuan putriku pasti bisa!! Ayo, Fighting!!" Darrel menyemangati putrinya yang sudah melewati bulan ketiganya itu.


"Baby appa?" tanya Leia, dia memiringkan kepalanya karena penasaran.


"Hem??" Darrel mencerna pertanyaan Leia yang agak rancu. "Aah... Appa?" Darrel menganggukkan kepalanya setelah paham maksud dari pertanyaan Leia. "Appa itu artinya ayah"


"Oh... Bahasa korea ya?" Leia beranjak dari meja riasnya ke kasur tempat suami dan anaknya berada.


"Iya" jawab Darrel tanpa melihat Leia yang mendekatinya, ia sibuk mengguyoni Eden yang sedang berusaha keras agar bisa tengkurap.


"Terus aku?" Leia duduk di bibir ranjang yang di belakangi Darrel.


"Apanya?" Darrel mengernyitkan dahinya, Leia selalu bicara singkat padat tapi tak jelas. Itu salah satu hal yang selalu Darrel kesal kan dari istrinya tersebut. Kadang Darrel tak paham maksud dari perkataan singkat Leia. Ia perlu menelaah dengan benar agar mengerti maksud istrinya itu.


"Panggilan Eden untukku" bagusnya Leia itu sangat peka, itu jadi poin plus untuknya. Setelah mengintip ekspresi Darrel yang mulai kesal, Leia bermanja menyenderkan kepalanya di punggung Darrel kemudian mengusapnya lembut seperti mengusap Eden.


Leia mengangkat kepalanya dari punggung Darrel kemudian berteriak "Apa?! Oma?! Aku nenek-nenek dong!!" Leia memelotot kan matanya dan memukul punggung Darrel.


"Aaakhhh..." Darrel meringis kesakitan sambil mengusap punggungnya yang di pukul Leia.


Sial... Itu tangan apa cabe? Pedasnya... Gerutu Darrel dalam hati.


"Sstt... Kamu mengaggetkan nya" Darrel menunjuk Eden yang sedikit tersentak karena suara ibunya yang membuyarkan konsentrasinya sesaat hampir berhasil menelungkup kan tubuhnya, sayangnya itu gagal. "Beneran tau!! Appa itu pasangannya eomma!! kalo ga percaya cek aja guugel" Leia memelototi Darrel dengan bibir yang ditekuk kedalam membuat Darrel gemas ingin menjahilinya "Jangan melotot!! Hampir jatoh tuh bola mata" goda Darrel. Ia kembali mengagah Eden yang mulai mencebik karena belum berhasil tengkurap.


"Cih..." Leia mendengus kesal, melipat kedua tangannya di atas dada. Ia membuang wajahnya membelakangi tubuh Darrel.


Cih... Punya laki ngeselin banget. Leia


"Istriku... Istriku... Lihat!!" Darrel mengangkat tubuh Leia.


"Aahh... Oppa!!" teriak Leia kaget. Karena Darrel memangkunya.


"First tummy time" Darrel menunjuk Eden yang sudah bisa tengkurap sendiri. Leia dan Darrel saling berhadapan, senyum sumringah tampak di wajah pasangan itu.


"Foto!! Fotoin Eden oppa!!" Leia heboh mencari ponselnya agar bisa mengabadikan momen pertama Eden yang bisa tengkurap sendiri.


"Edennya kita telentangin dulu, terus baru deh videoin pas dia mau tengkurep" usul Darrel seraya memberikan ponselnya.


"Bener-bener, buruan oppa terlentangin baby nya" Leia memukul-mukul pundak Darrel.


Darrel pun kembali membaringkan Eden dengan posisi telentang. satu menit dua menit tiga menit, baby Eden tak kunjung membolak-balikkan tubuhnya seperti usahanya tadi. Tangan mungilnya hanya mengepal memukul-mukul udara di atasnya. Leia sedikit kecewa, ia pikir dapat mengabadikan momen pertama tummy time bayinya.


Darrel tau istrinya itu sedang kecewa, jadi ia mengambil ponsel yang di pegang Leia dan menyuruhnya tengkurap di samping Eden. Kemudian Darrel menengkurap kan Eden, diikuti olehnya yang juga ikut tengkurap di samping Eden. Darrel mengarahkan kamera depan ponselnya untuk selfie bersama putri dan istrinya.


"Senyum dong istriku" Darrel menarik pinggang Leia dari sebrang sana yang di batasi Eden agar lebih dekat.


"Cekrek"


Leia tersenyum melihat hasil selfie keluarga kecilnya yang sedang tengkurap. Ia pun memposting foto itu ke akun media sosialnya. Padahal ia sangat jarang bermain dengan akun medsos pribadinya. Entah kenapa ia ingin sekali memamerkan keluarga kecilnya.


Drrtt... Drrtt... Drrtt... Ponsel Darrel bergetar.


📞Annoying Old Man is calling...


Cih... Apaan pak tua ini mengganggu saja. Darrel


"Hey bule ******, bisa tidak angkat telponnya cepat sedikit" kesal Handoko yang merasa diabaikan oleh bawahannya itu.


"Yaa... Yaa..." jawab Darrel, ia memutar bola matanya malas. "Ada apa pak tua?"


"Ah, hampir saja aku lupa. Tekanan darahku selalu naik jika bicara denganmu" gerutu Handoko.


"Intinya saja pak tua, telingaku bukan tempat untuk mencurahkan keluh kesal mu" Darrel menggorek-ngorek telinganya.


"Aakhh... Tekanan darahku!!" Handoko memegang tengkuknya yang menegang. Ia menstabilkan nafasnya untuk mengatur emosinya sebelum melanjutkan percakapannya dengan Darrel. "Kakakmu otw Indonesia bersama Nicholas" ungkapnya ketika ia sudah berhasil menahan emosinya.


"What's?? Oh, Shit" Darrel mematikan telponnya bergegas ke kamar yang ditempati pasangan Lagrou.


To be continue...