Traffic Light

Traffic Light
TIBA-TIBA HENING



Chaussée de Charleroi, Saint-Gilles, Belgia


Bangunan tinggi menjulang milik Lagrou Company tampak gagah menantang. Warna metalik yang mendominasi dinding dan kacanya, memancarkan prestasi perusahaan yang cemerlang.


Di dalam satu ruangan yang besar dan wah, Smith sedang menganalisis laporan yang menggunung di atas meja kerjanya. Sesekali ia melihat PC komputer, lalu mengernyit di saat ada pekerjaan yang tak sesuai ekspetasinya.


Seorang wanita, berpakaian formal masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Smith yang terusik dengan suara pintu mengalihkan pandangannya dari laporan yang ia baca.


"Riela..." Smith menggelengkan kepalanya saat mengetahui dalang yang mengusik konsentrasinya. "Jangan di biasakan kebiasaan buruk mu itu honey, ketuk lah dulu pintu yang bukan pintu ruangan mu. Ini kantor, kau tau?" Smith membenarkan kacamata uppernoose yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Dad, mommy ada di mana?" Riela anak kedua Smith yang digadang-gadang akan menjadi pemimpin selanjutnya Lagrou Company. Walaupun nada bicaranya datar-datar saja, tapi Smith tau, wanita itu sebenarnya sedang merengek.


Smith mengendikkan bahunya, "Biarkan saja mommy mu, dia sedang sibuk mengurus putra putrinya. Bahkan, aku suaminya saja diterlantarkan" ada nada kekesalan bersarang di kalimat yang di ucapkan Smith.


"Aku? Memang aku bukan anaknya!!" Riela menghembuskan nafasnya. Bibirnya sedikit maju dan bergetar saat menghembuskannya. "Ckckck... Sejak kapan daddy mengharap perhatian mommy? Lagi akting ya?" ledek Riela. Ia menggempaskan tubuhnya di permukaan sofa kulit berwarna hitam yang begitu mewah.


"Tunggu saja saatnya tiba, kau akan merasakannya juga honey" Smith tersenyum.


Sejak kapan anak ku sudah sedewasa ini? Rasanya baru kemarin aku membelikannya gulali karena rengekannya. Smith


"Apa kamu tidak ada niatan untuk menikah Ela? Sepertinya usiamu sudah melewati rata-rata usia wanita untuk menikah" Smith menautkan tangannya di depan dagu, sikutnya bertumpu di atas permukaan meja kerjanya. Ia menatap serius sang putri yang sedang membuka bungkus permen dari atas meja sofa.


Riela memasukkan permen rasa cherry mint itu ke dalam mulutnya. "Hmm... Aku terlalu superior di mata pria-pria yang mendekatiku itu" Ela mengendikkan bahunya, wajahnya berekspresi mengejek. "Pria-pria itu terlalu lemah untuk bersanding denganku. Baru segitu saja sudah kekurangan kepercayan diri, ck. Bagaimana aku bisa menikah? Sendiri mungkin lebih baik" ucapnya tanpa beban.


Ruangan itu mendadak hening, Smith semakin memperdalam tatapannya pada Riela. Wanita itu merasa terusik, sorot mata sang ayah terlalu mengintimidasi, membuatnya salah tingkah dan menciut.


"Eekhmm..." Riela mencoba merubah suasana ruangan yang tiba-tiba mendingin. "Maybe, jika ada pria seperti adikku, aku akan berubah pikiran" Ela menggigit bibirnya. ia sadar dirinya sudah keceplosan.


Smith, walaupun orangnya humble terhadap anak sekalipun. Tetap saja aura penguasa dan pemimpin di dalam dirinya tetap terpancar. Mampu membuat Ele tergugu.


"Kau masih memiliki perasaan terhadap adikmu?" tanyanya dingin.


Deg... Jantung Riela seolah berhenti saat itu juga. Bagaimana daddy nya bisa tau, kalau ia dan kakaknya selalu memperebutkan Darrel karena perasaan menjijikan yang ia rasa, ingin bercumbu dengan adiknya sendiri. Bahkan semenjak dulu, saat Darrel bertubuh gempal dan berwajah lucu. Saat kakak beradik itu sedang dalam masa labilnya di usia remaja. Otak pemain liar Smith ternyata ia turunkan ke putrinya. Riela menyengir, ia mencoba bertahan dari serangan tajam bola mata sang daddy yang menghunusnya.


_________________________________


Neftari baru tersadar sekelilingnya, saat samar-samar telinganya mendengar deburan ombak yang menyeru di tengah keheningan malam. Ia bahkan tak mengetahui, berapa lama waktu yang ditempuhnya dalam perjalanan ini, saking sibuknya.


"Sejak kapan rumahku pindah ke pesisir pantai?" tanya Neftari pada pria berwajah masam di sebelahnya. "Hey...!! Luke...??" Neftari memanggil pria itu. Tangannya menepuk tangan pria yang sedang mengemudi.


Luke tak menghiraukan panggilan teman kecilnya itu. Ia malah menambah kecepatan mobilnya menuju sebuah resort yang tak jauh dari pantai.


Neftari menghela nafas untuk menyurutkan kadar emosi yang sedikit berjingkat. Ia hanya diam menimpali kesunyian di dalam mobil mewah itu.


Luke memarkirkan mobil itu tepat di depan pintu masuk villa. Ia keluar dari mobil dan membuka sisi pintu yang ditumpangi Neftari.


"Turun!" perintahnya.


"Kamu kenapa sih?" ketus Neftari. Kepalanya mendongak memandang pria yang tetap tampan walau termakan usia itu. Neftari enggan menuruti Luke yang memintanya turun dari mobil.


"Luke!!!" Neftari melebarkan matanya lantaran kaget. "Turunkan!!" teriak Neftari, ia memberontak, menggerak-gerakkan tubuhnya yang menempel di tubuh Luke.


Luke menurunkan Neftari dari gendongannya. "Masuklah dulu, ada yang harus kita bicarakan. Aku sudah tak sanggup menahannya"


Neftari memandang Luke penuh tanya, apa sebenarnya yang ingin di sampaikan bule Irlandia ini. Neftari kembali menghela nafas untuk mendapatkan ketenangannya, "Baiklah"


"Ketuk saja pintunya, di dalam ada tante Ayu" Luke tersenyum lebar, saat langkah kaki Neftari terhenti karena mencerna perkataannya.


"Mamah? Mamah ada di sini?" Neftari membalikkan tubuhnya menghadap Luke.


Luke mengangguk, senyum yang sangat mirip dengan Leia. Terbersit di pikiran Neftari tentang kemiripan keduanya. Neftari menggelengkan kepalanya.


Eeheeii... Apa sih yang kau pikirkan? Mana mungkin!! Mungkin karena saat hamil Leia aku sangat merindukan Luke dulu, makanya mirip. Bisa jadi... Bisa jadi... Neftari mengangguk-anggukkan kepalanya


Ia berbalik lagi, berlari ke arah pintu. Neftari sudah merindukan nyonya Ayuningtyas, ibunya yang selalu cerewet itu.


"Maamaaah... Mamaaah..." Alih-alih mengetuk pintu seperti yang dikatakan Luke, Neftari malah teriak memanggil ibunya.


"Astaga anak ini!!!" Ayu menyanggul asal rambut panjangnya yang memutih. Ia tergesa dari kamarnya untuk membukakan pintu.


Tok... Tok tok tok... Tok tok...


"Maamaah... Maah~" barulah Neftari mengetuk pintu ala-ala Anna di film Frozen.


Saat Neftari mengulangi ketukkan ala Anna, pintu itu terbuka. Menampakkan wanita lansia, memakai piama merah layaknya anak muda. "Kamu bocah yaa!! Ck..." decak Ayu saking kesalnya.


Neftari hanya nyengir-nyengir, menampakan rentetan giginya yang rapi. Ia menghambur ke pelukan sang ibu. Neftari tau, ibunya itu sangat memuja Neftari sebagai anak. Ia juga tau, selama ini ibunya selalu memantau dari belakang di saat-saat terpuruknya. "Kangen mamaaah~" Neftari menggoyang tubuh ia dan ibunya ke kiri dan ke kanan. "Papah mana?" Neftari melepas ungkapan kerinduan yang berupa pelukan itu.


"Ssttt... Jangan kasih tau! Mamah pulang ga kasih tau papah" Ayu meletakkan telunjuk di depan bibirnya.


Neftari tertawa karena ibunya yang selalu terlihat muda bertingkah kekanakan karena ingin 'me time' tanpa suami.


Neftari dan Ayu masuk ke ruang tamu. Bercerita hal yang terjadi tentangnya. Bercerita tentang pekerjaan, keluarga kecil Leia, sang besan dan lain-lain.


Sampai sosok Luke muncul tepat menghentikan gelak tawa ibu dan anak itu. "Malam tante" sapa Luke. Ia mendudukkan dirinya di samping Neftari. Obrolan berlanjut, di tambah Luke yang pandai meramaikan suasana membuat kedua wanita itu semakin senang.


"Tante, bolehkah seorang perjaka tua seperti saya, menikahi putri tante yang cantik ini?" satu pertanyaan Luke, yang berhasil membuat suasana menjadi hening.


Neftari dan Ayu saling melempar pandangan.


Apa ini yang dia mau bicarakan dari siang tadi? Neftari


Neftari kalang kabut dengan pertanyaan Luke, entah bagaimana ia harus menanggapinya. Untuk saat ini ia hanya perlu pintu kemana saja milik Doraemon, supaya bisa melarikan diri.


To be continue...