Traffic Light

Traffic Light
BE WITH YOU



"Dari mana saja kalian?" Sergah Neftari, yang hendak mengambil air minum di dapur karena teko air di dalam kamarnya kosong.


"Ibu!!" serentak Darrel dan Leia.


"Apa? Kenapa?" tanya Neftari dengan wajah santainya.


Leia menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia meregangkan keratan tubuhnya pada Darrel. "Kaget bu... Leia kira tadi itu hantu" Leia berucap lirih seraya menenggelamkan kepalanya di tengkuk Darrel.


Neftari tersenyum saat melihat anaknya yang tengah bergelayut manja di gendongan menantunya. "Aahh, jiwa single ibu meronta-ronta melihat kemesraan kalian". Wanita paruh baya itu mendorong tubuh Darrel ke depan pintu kamar Leia dan Darrel. Kemudian Neftari membukakan pintu kamar itu. "Masuklah, lakukan di kamar! Ibu sudah tak tahan melihatnya" perintah Neftari.


"Iibuuu..." rengek Leia manja pada ibunya.


_________


Hujan masih setia menguyur permukaan bumi. Di dalam kamar mandi semi tradisional milik Leia yang hanya sebesar 4x6 meter itu. Dua insan ciptaan tuhan itu sedang memadu kasih di bawah guyuran air shower yang menerpa kulit mereka.


Mereka dilanda gairah, sesaat setelah masuk kedalam kamar. Entah siapa yang memulai, mereka terhanyut dalam balutan nafsu hingga melupakan hal yang begitu penting.


"Aakhh" pekik Leia saat Darrel menyentuh bagian intimnya. Memang ada sebagian wanita yang sedang haid merasakan nyeri di bagian-bagian tertentu. Kalau Leia ya itu, ia akan merasa nyeri jika bagian intimnya di sentuh.


"Berdarah!! Leia, pussy mu berdarah" heboh Darrel ketika melihat ada bercak darah menepel pada jari yang digunakan saat menyentuh bagian intim Leia.


Leia terkesiap, ia sampai lupa kondisinya yang sedang datang bulan. Leia begitu terhanyut dengan sentuhan-sentuhan sensasional Darrel yang begitu memabukkan.


"Pantas saja kamu kesakitan!!" Darrel sangat panik, ia hendak bersimpuh agar bisa mengecek bagian intim Leia.


Belum sempat Darrel bersimpuh, Leia sudah menarik wajah Darrel agar menatapnya. "Apa oppa lupa? Saat ini aku sedang haid"


Blaarr blaarr...


Saat itu juga gemuruh halilintar seakan menyadarkan Darrel. "Astaga, aku melupakannya" Darrel menepuk jidatnya. "Aahhh... Bagaimana ini?" Darrel melihat pusakanya yang sudah menegang di balik celana dalamnya. Ia mengacak rambutnya karena frustasi.


Leia tidak tega melihat Darrel yang sudah sangat ON. Ini sudah ke sekian kalinya ia gagal dalam menjalankan tugas utamanya sebagai seorang istri. Sampai detik ini, Darrel belum menggauli Leia dengan seutuhnya. Saat melakukannya, mereka selalu berhenti di tengah jalan. Pastinya Darrel merasa kecewa, tapi suaminya itu selalu mengerti dan sabar menantinya.


"Sudahlah, aku akan membantu membersihkan tubuhmu dulu" Darrel membersihkan gumpalan darah di bagian intim Leia dengan hati-hati, ia takut menyakiti istrinya lagi.


Darah Leia bedesir ketika Darrel tanpa jijik membersihkan darah kotor dari rahimnya. Hatinya terenyuh dengan perlakuan gentle suaminya. Leia tersenyum penuh arti, di kepalanya terlintas satu cara untuk memuaskan suaminya tanpa berhubungan intim, Making Out.


Leia pun mencekal kedua tangan Darrel, "Kenapa sayang? Sakit lagi?" tanya Darrel yang heran dengan cekalan tangan istrinya. Padahal Darrel sedang membersihkan tubuh istrinya itu.


"Oppa, dalam ajaran tata krama di sini. Aku selaku istri, sudah berlaku kurang ajar banget sama oppa. Aku membiarkan suamiku melihat, bahkan menyentuh darah kotor yang keluar setiap bulannya dari rahim ku" ujar Leia penuh pengertian.


Leia menangkup kan kedua telapak tangannya di atas rahang tegas milik suaminya. Kemudian, ia mengelus rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar rahang dan pipi suaminya. "Izinkan aku menuntaskan hasrat mu, sayang" ucap Leia lembut seraya menatap kedua netra biru suaminya.


Hati Darrel serasa digelitiki ribuan sayap lebah yang bersiap menyengat jantungnya. Perasaan yang sulit ia artikan, saat ini ia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan euforia yang memenuhi rongga dadanya.


Darrel yang memang masih dalam keadaan tegang, semakin menegang dengan perlakuan liar sang istri pada pusakanya itu. Darrel mengerang, mendesah saat Leia mulai memasukan pusaka miliknya ke dalam mulut Leia.


Darrel memperhatikan tingkah binal sang istri di bawahnya. Darrel memegang kepala Leia dan memaju-mundurkannya dengan perlahan, sambil membelai rambut basah istrinya.


Lidah berbalut saliva milik Leia yang hangat, membuat pusaka Darrel semakin gelinjangan tak tentu arah. Darrel mulai menampakkan gejala akan mencapai klimaksnya. Leia yang sadar akan hal itu menambah tempo kecepatan kulumannya.


"Eemmhh... Eenghh... Aarrhhh..." erangan Darrel menggema di ruangan basah itu. Ia berhasil menuntaskan birahinya yang sudah terpendam sekian lama. Ini adalah kali pertamanya Darrel mengeluarkan benihnya.


Leia tanpa ragu menelan sperm* Darrel. Membuat Darrel membelalakkan matanya. "Kenapa kamu telan itu?" Darrel membersihkan cairan putih miliknya yang belepotan di wajah Leia.


"Biasanya pria suka melihatnya, emang oppa nggak?" tanya Leia dengan polosnya.


"Emangnya kamu sering melakukan hal ini?" bukannya menjawab Darrel malah bertanya penuh kecurigaan.


DEG...


Leia tertohok dengan pertanyaan suaminya. Bagaimana ia menjelaskan tentang masa lalunya? Bahkan perasaan Leia masih mengambang antara suami dan masa lalunya saat ini. Tapi di satu sisi, Leia takut. Takut, bila suaminya tau tentang masa lalu percintaannya yang tidak sehat. Sampai Amrali begitu kekeuh menentang Leia dengan pria di masa lalunya itu.


"Ehhm, udahan ah. Leia kedinginan" Leia mengalihkan pembicaraan dan bergegas membersihkan tubuhnya kembali. Dengan cepat Leia meninggalkan Darrel yang tengah di cerca hasutan iblis dari alam bawah sadarnya.


Darrel mengatur nafasnya, mencoba menetralkan perasaannya agar tak terhasut oleh iblis yang menggerayanginya.


"Lupakan Darl! Jangan terpancing emosi! Kalaupun benar, itu hanyalah sekedar masa lalu. Dia istriku, hanya milikku!" tegasnya, mensugesti dirinya sendiri. Darrel pun membersihkan tubuhnya, kemudian menyusul sang istri di ranjang.


Darrel membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang tidur memunggunginya. Darrel memandangi punggung Leia yang terbalut daster berwarna navy. Begitu kontras dengan warna rambut dan kulit istrinya itu.


Tangan Darrel mengelus punggung Leia. Sontak Leia kaget, wanita cantik itu menoleh kebelakang tanpa memutar tubuhnya, "Kenapa?" tanya Leia.


"Tidurnya ngadep sini! Kita kan abis mesraan, kalo kamunya munggungin aku gini, kesannya kaya habis marahan tau ga?" Darrel menyisir rambut Leia menggunakan jemarinya. Leia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Darrel.


Darrel membentangkan tangannya dan menarik tubuh Leia agar lebih dekat dengannya. Leia berbaring di dalam dekapan suaminya berbantal lengan kekar milik Darrel.


Darrel menghujani kecupan di wajah Leia. Lagi-lagi Leia merasa bersalah atas sikapnya terhadap suaminya. Pria yang dikiranya brengsek, ternyata pria baik yang lembut dan penyabar. Leia menyembunyikan wajahnya di dada Darrel, karena tak mampu menatap mata sang suami. Air mata Leia menggenang di ujung matanya.


Darrel membelai surai indah milik istrinya penuh kasih sayang, "Masa lalu mu ga ada sangkut pautnya dengan masa sekarang. Maafin aku kalo udah buat kamu tersinggung. Tapi aku berharap, pelan-pelan kamu mau cerita ke aku, tentang masalah atau hal yang menggangu mu. Karena aku ingin melewati masa tua bersamamu" ucap Darrel yang masih tetap membelai rambut sang istri.


Leia sudah tak mampu menahan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia terisak di dalam dekapan Darrel. "I'll be with you, oppa. Maafin Leia, Leia bakalan cerita semuanya ke oppa. Tapi janji jangan tinggalin Leia" Leia memelas, sekarang bukan karena Eden. Ia benar-benar menginginkan Darrel berada di sisinya sepanjang waktunya berlalu.


Cup


Darrel mengecup dahi istrinya dengan sayang. Jika wanita itu Leia, Darrel tak masalah melanggar janjinya yang tak akan pernah jatuh cinta. Ia rela menjilat ludahnya sendiri.


To be continue...