Traffic Light

Traffic Light
SWEETIE, MOMMY IS COMING



STARBUCKS GRAND PALACE, BRUSSELS


Neftari duduk d luar cafe sambil merancang desain dengan tabletnya. Ia menghirup aroma blue mountain dari cangkir, kemudian menyesap kopi yang memiliki aroma khas melati itu. Disantapnya satu slice kofiekoeken appleflap yang manis dan gurih, melengkapi sarapan paginya sebelum berangkat kerja.


Setelah selesai dengan sarapannya, ia berjalan ke kantor pusat Cartier Lagrou yang tak jauh dari cafe tempatnya menyantap sarapan. Setelah masuk ke ruangannya, ia mengambil pigura di atas meja kerjanya lalu mengusapnya. Di dalam pigura itu terdapat foto almarhum suami dan anaknya, itu sudah jadi rutinitasnya sebelum memulai pekerjaan.


Posisinya kini sebagai ketua tim desain. Padahal baru dua tahun yang lalu ia memenangkan kontes. Wajar saja, hasil desain Neftari yang memenangkan kontes menjadi topik hangat. Perhiasan yang hanya di produksi 5 set itu ditawar dengan harga yang fantastis saat pelelangan pesta pergaulan kelas atas yang di selenggarakan oleh perusahaan kapal pesiar, Dream Cruises. Hal itu membuat saham perusahaan meroket dan nama Neftari sebagai desainer Cartier Lagrou dikenal dunia. Sebelumnya perusahaan hanya melebarkan sayapnya di eropa saja. Tapi berkat Neftari, mereka juga memperluas perusahaannya di Asia. Direktur utama Cartier Lagrou sangat mengandalkan Neftari dalam perluasan Usahanya di Asia. Oleh karna itu ia mempercayakan Nefari untuk mengelola perusahaan cabang Asia. Hal itu di sambut dengan suka cita oleh Neftari.


Sebagaimana pepatah mengatakan, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, itu yang dirasakannya sekarang. Ia dapat kembali ke tanah air bertemu putrinya kembali, tanpa harus berhenti berkerja. Karena semua pekerjaannya sudah di alihkan ke cabang Asia. Ia berencana memusatkan seluruh pengelolaan di tanah air sebagai kantor pusat cabang Asia.


"Sayang, tunggu ibu... Sebentar lagi ibu pulang, ibu ga mau berpisah lagi sama kamu Leia" seraya mengecup foto di tangannya. Ada rasa bersalah mengingat setahun yang lalu ia membatalkan kepulangannya karena deadline desain yang menggunung.


W CASTLE


"Apa!? Menikah!?" ia langsung beranjak dari sofa nya. "Anda sehat? Ga lagi sakit? Apa perlu aku bantu ke rumah sakit biar sekalian tes MRI? Otak anda bermasalah sepertinya!! Hah hah hahaha..." bercekak pinggang lalu tertawa terbahak bahak sambil mendongakkan kepalanya.


"Serius" mimik muka Leia mendatar merasa di remehkan.


Leia mengeluarkan telpon genggamnya kemudian menghubungi seseorang dari ke hadapan Darrel dan menutup mulut Darrel yang belum berhenti tertawa dengan tangannya .


"Ssst... Jangan berisik dia barusan tertidur" menunjuk Eden yang sudah terlelap. "Ayo ikut saya!" perintah Leia sambil menarik lengan baju Darrel.


"Apa?? Kenapa??" Darrel mengikuti tarikan Leia.


Leia pun membuka pintu rumah Darrel, di luar sudah berdiri tegap dua bodyguard berbadan besar yang kemudian menyeret Darrel masuk ke dalam mobil van yang sudah menunggu di depan apartemen.


"Hei!!! Apa - apaan kalian!!! Lepaskan aku!!!" Darrel memberontak.


Tak lama kemudian Leia naik ke dalam mobil, ia meletakan jari telunjuknya yang lentik ke bibir mengisyaratkan pada Darrel agar diam. Darrel menelan liurnya, dari sudut pandangnya saat Leia meletakan telunjuknya pada bibir yang sedikit di majukan itu membangunkan birahinya sebagai pria normal. Bagaimana tidak? Leia yang berwajah cantik dengan bola mata dan rambut yang indah, baru di temuinya di kota ini. Ia pun mengangguk tanda mengerti, Leia mengusap kepala Darrel dan tersenyum simpul. Lagi - lagi Darrel menekan birahinya, tanpa ia sadari dari hidungnya sudah mengucur darah segar. Leia yang melihatnya terkejut.


To be Continue...