Traffic Light

Traffic Light
NOT YET (아직)



Pria jangkung berkulit sawo matang berjalan keluar dari concourse, sambil menyeret koper di tangannya. Pria itu berhenti sejenak, melepas kacamata berwarna sepia yang bertengger di pangkal hidungnya. Ia merentangkan tangannya, menghirup dalam udara di sekitar lubang hidungnya.


"Tanah jawa, I'm back" ucapnya, langkah kakinya melebar berjalan ke area parkir airport.


Dewa Chandra Gusito, pria yang menjadi cinta pertama bagi seorang Heleia Esmee sejak masa putih abu. Dewa meninggalkan Leia ketika masa-masa terpuruk hadir di kehidupannya, tepatnya beberapa hari sebelum ayah Leia, Amrali tewas. Tanpa pesan dan kejelasan, pria itu menghilang bagaikan di telan bumi.


Bodohnya sampai saat ini, Leia masih memiliki perasaan cinta itu terhadap Dewa. Jika tuhan mempertemukan kembali dua insan itu, akankah perasaan Leia goyah dengan kedatangan Dewa?


RUMAH LEIA


Tatapan mata Darrel sedari tadi tak berhenti memandangi istrinya. Sudah lebih dari seminggu, sang istri mendiamkannya. Tetapi Leia masih tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.


Bahkan Leia menuruti semua perintah suaminya tanpa terkecuali. Contohnya semalam, Darrel merengek karena punggungnya yang gatal, Darrel menyuruh Leia untuk menggarukkan punggungnya, Leia menurutinya tanpa membantah.


Pagi tadi, Darrel kembali merengek di kamar mandi, karena kakinya yang keram akibat terlalu lama berjongkok saat pup. Kloset di kamar mandi Leia memang masih menggunakan kloset jongkok. Leia enggan menggantinya karena menurutnya lebih nyaman menggunakan kloset jongkok ketimbang kloset duduk. Leia membantu Darrel berdiri dan memakaikan celana beserta panty nya.


Darrel sedikit malu, karena sudah pasti Leia melihat senjatanya yang sedang mengkerut itu. Tapi, reaksi Leia terhadap benda itu biasa saja, malah membuat Darrel terheran dan menaruh curiga. Berbagai macam pikiran buruk menerpa otak Darrel yang mulai kusut.


Segesrek itu kah istriku? Apa dia sudah biasa melihat benda ini? Aakhh, tau lah. Berbaikan dulu yang penting. Darrel.


Cukup lama Darrel memperhatikan istrinya yang sedang membersihkan bokong baby Eden. Setelah membersihkan pup di bokong Eden, Leia mengoleskan krim bayi di sekitar pantat bayinya, barulah ia memasangkan diapers baru untuk Eden. Lalu Leia memberikan minyak telon dan bedak di perut dan dada Eden. Terakhir, Leia memakaikan baju yang nyaman untuk Eden agar bayinya dapat mengeksplore gerakannya dengan bebas.


Setelah beres mengurus bayinya, Leia bersiap mau mandi. Saat Leia hendak melangkahkan kakinya ke kamar mandi, tangan besar suaminya melingkar di pinggang Leia.


"Sudah cukup" ucap Darrel lirih, ia menenggelamkan wajahnya di punggung Leia. "Berhenti mendiamkan ku Leia" tambahnya lagi, Darrel mengeratkan pelukannya di pinggang Leia.


Leia menghembuskan napasnya panjang sambil memejamkan matanya. Ia memegang rengkuhan tangan suaminya, "Berjanjilah lebih dulu"


Darrel membalik tubuh Leia agar menghadapnya, ia menatap mata istrinya dalam-dalam, "Baiklah" jawab Darrel yakin.


Leia menyipitkan matanya, membuat kerutan di dahinya timbul. "Memangnya kamu tau janji apa yang aku maksud?" tanya Leia.


"Apapun itu aku bisa berjanji, asalkan---" kata-kata Darrel tiba-tiba terhenti, ia meremas Daster yang sedang Leia kenakan di kedua sisi pinggangnya.


"Apa?"


"Jangan minta cerai" Darrel menarik dalam-dalam nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Jangan terus-terusan bertengkar"


Deg... Perasaan Leia seakan tertohok, memang benar Leia sengaja mendiamkan Darrel karena kesal, tapi tak ada sedikitpun niat untuk meminta cerai, hanya karena pertengkaran kecil waktu itu. Leia begitu menyayangi baby Eden dan tak sanggup jika harus berpisah dengannya, Edenlah sebab pernikahan ini. Jadi, mana mungkin Leia meminta cerai dari Darrel, yang Leia ketahui ayah biologis dari Eden.


Darrel memperhatikan mimik wajah Leia, ia masih tak bisa menebak isi pikiran wanita yang telah menjadi istrinya itu. Darrel melepaskan tangannya dari pinggang Leia, wajahnya tertunduk lesu. "Pergilah... Tadi sepertinya kau ingin mandi" usir Darrel.


Hati Leia langsung berdesir, baru kali Darrel menunjukkan sifat dingin kepadanya. Selama ini Darrel selalu hangat dan begitu penyayang. Ketika melihat suaminya bersedih, tiba-tiba jantungnya serasa ditusuk jarum.


Leia sungguh menyesali perbuatannya, ia menghampiri suaminya yang kini tengah tidur menyamping tanpa bantal di kepalanya menghadap Eden di ranjang. Leia naik ke sisi ranjang di belakang suaminya, ia meletakkan tangannya di kepala Darrel sebagai pengganti bantal. Leia memeluk Leher suaminya sambil menciumi belakang kepala Darrel, tangannya yang sedang melingkar di leher suaminya sesekali mengusap-usap dada Darrel.


Darrel terkesiap dengan perlakuan lembut istrinya, hatinya yang tadinya membeku perlahan menghangat.


Belajar di mana dia melakukan hal ini? Hebat sekali meluluhkan hati pria sepertiku. Batin Darrel seraya tersenyum.


Darrel mendiamkan Leia, bukan karena ingin membalas Leia, tapi karena ingin tau kelanjutan dari aksi istrinya itu. Benar saja, akibat diamnya Darrel membuat Leia mengatakan hal yang tak pernah Leia katakan selama masa pernikahannya dengan Darrel.


"Sayang, maafkan aku. Aku menyesal"


Seringai tergambar di sudut bibir Darrel, ia membalikkan tubuhnya menghadap Leia, "Cium aku" pinta Darrel dengan wajah yang sengaja ia masamkan.


Cup.. Leia mengecup pipi Darrel.


Darrel menajamkan alisnya, bergeleng. Karena bukan itu keinginannya. "Ulang"


Cup... Leia mengecup kening Darrel.


Tampak guratan urat timbul di kening pria yang tak memiliki darah indonesia itu. "Bukan di situ Leia" ucapnya kesal. "Di sini" ia menunjuk bibirnya.


Cup... Leia mengecup bibir suaminya.


"Yang lama" protes Darrel karena Leia hanya mencomot bibirnya dengan bibir tipis milik Leia itu.


Leia menyingkirkan untaian rambut Darrel yang mulai panjang kembali, kini Leia mencium suaminya penuh hasrat. Di ***** nya bibir atas dan bawah milik Darrel, ia memejamkan matanya menikmati bibir suaminya itu. Tanpa sadar tangan Leia merem*s rambut di kepala suaminya, membuat gairah Darrel terbangkitkan.


"Sekarang--- bisa---?" tanya Darrel dengan nafas tersengal. Ia menempelkan keningnya di kening Leia sambil mengambil nafas untuk kelanjutan ritual yang tertunda selama kurang dari 4 bulan ini.


Leia mengangguk tanda setuju, Darrel memindahkan Eden ke box bayi agar tak menggangu kelangsungan ritual pertamanya. Darrel kembali menghampiri Leia dan mencumbu istrinya. Tangan Darrel menaiki kedua puncak gunung yang terbalut BH berenda.


Sesaat kemudian Leia tersadarkan akan sesuatu, ia baru ingat kalau dirinya belum mandi, membuatnya malu menunjukkan bagian tertutupnya kepada suaminya. Leia menahan tangan Darrel yang sedang meremas payudar* nya.


"Kenapa?" tanya Darrel dengan suara yang parau menahan nafsu.


"Biarkan aku mandi dulu" ucap Leia malu-malu.


"Tidak usah sayang, bau mu aku suka" Darrel kembali melanjutkan naluri kelelakian nya.


To be continue...