Traffic Light

Traffic Light
BERTEMU



Di sebuah panti asuhan yang madani, terlihat seorang wanita berwajah chinese sedang duduk di kursi taman, bersama putra semata wayangnya. Pria bertubuh tinggi itu terlihat lebih cocok jadi adik ketimbang anaknya.


Suasana halaman panti cukup asri, anak asuh yang sopan dan berbudi pekerti baik, tak ayal menyapa kedua orang itu kala melintas di depan mereka.


"Bun" panggil si anak, sesaat dua orang anak asuh berlalu selepas menyapanya.


"Hem" ucap wanita berkulit putih dan terlihat muda. Wanita itu sibuk menggulir layar ponselnya.


"Kenapa pulang?"


Wanita itu mengalihkan pandangan dari gadgetnya, ia menoleh ke arah si anak. "Kamu sendiri?" bukannya menjawab, wanita itu malah membomerang pertanyaan anaknya. Beliau tampak enggan memberikan alasan kepulangannya ke tanah air.


Sang anak mendesah pelan, ia sadar bundanya sedang menutu-nutupi sesuatu, dan itu berkaitan erat dengan kepulangannya ini. "Emang udah bosen keliling dunianya?" basa-basi si anak.


"Duh bawel" bunda mencubit pipi si anak. Ia tampak risih dengan pertanyaan-pertanyaan putranya. Hmm, mau gimana lagi? Walaupun bikin risih juga, tetep anak sendiri.


"Bundaaa!" rengek pria berkulit coklat. Pria itu menepis capitan jari bundanya di pipi. "Sakit!! Kena kuku!" pretelnya.


"Ck, laki kok ga strong. Lagian, bunda itu ga keliling dunia tau! Bunda cuma ke tiga benua aja" bantah wanita bermata sipit itu.


"Eetdaah... Ini aset negara tau! Ck... Sama aja bun!! Dari tiga benua itu, ada berapa negara yang udah bunda kunjungi?"


Wanita paruh baya itu mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, tampak berpikir, menghitung jumlah negara yang ia kunjungi. "Iisshh, cuma 24 negara aja kok"


Pria berkulit coklat berambut ikal itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Ayah mana? Kok ga ikutan balik?"


"Masih nyelesaiin misi" ucapnya santai, sambil menyeruput teh chamomile yang tersuguh di atas meja bundar kecil di depannya.


Pria yang bernama Dewa itu mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti.


______________________________


"Kata dokter sore ini kamu udah boleh pulang sayang" ucap Katie sambil mengepak baju kotor yang di gunakan Marriane.


Wanita comel itu sangat cerewet dengan baju pasien yang sebelumnya ia kenakan. Ga modis lah, keliatan kuyu lah kalo make baju itu. Halah, semuanya alasan! Ann nya saja yang tidak mau pakai baju pasien yang sudah di siapkan pihak rumah sakit.


Selama satu minggu dirawat, ia hanya sekali memakai pakaian seragam pasien. Itupun terpaksa oleh keadaan, karena ketidak berdayaannya.


Setelah itu, ia merengek minta di bawakan baju ganti oleh Darrel. Setelah mommy nya kembali dari perjalanan luar kota dan membesuknya, tugas itu berpindah haluan ke sang mommy.


Padahal kan seragam pasien itu untuk memudahkan dalam tindakan medis. Yaah... Hanya Marriane yang tau alasannya. Mungkin saja ia bertingkah hanya untuk menutupi kesedihannya, bisa jadi.


Katie sudah selesai mengepak baju kotor Marriane untuk di bawa pulang. "Nick gimana? Kok kalian bisa jodoh banget sih? Sampai barengan gitu masuk rumah sakitnya. Yang satu abis keguguran, yang satu abis kecelakaan, Astaga!" Katie memutar bola matanya ke atas seraya memukul jidatnya sendiri.


Marriane tertawa getir, mommy msh belum tau kebenaran di balik kegugurannya. Marriane masih menutup rapat masalah itu, belum saatnya untuk memberitahukannya ke mommy. Hatinya masih sakit, belum lagi rasa cintanya terhadap Nick, si brengsek itu belum memudar.


Marriane malas membahas tentang hubungannya dengan Nick, ia pun mengalihkan pembicaraan. "Mom, Ann pengen tinggal di hotel" Marriane memasang raut muka memelas, supaya mommy menurutinya.


Sejujurnya Marriane ingin mengasingkan diri, ia perlu waktu untuk menstabilkan emosinya. Rumah adik iparnya terlalu ramai, belum lagi saat melihat bayi Eden. Ia pasti mengingat kembali tentang janinnya yang telah gugur. Jika janin itu lahir, pasti akan seperti Eden yang bermata hijau, mirip Nick. Memikirkannya saja sudah membuat wanita itu sedih.


"Kamu ga nyaman di rumah tari?" tanya Katie sambil mengelus kepala putrinya yang mendadak sendu.


"Emm, bukan gitu mom. Aku cuma pengen refreshing aja. Please... Bookingin suite room buat aku, hem?" Marriane memohon kembali agar bisa keluar dari rumah Leia.


Terdengar pintu kamar Marriane di geser, menampakkan sosok pria dengan tongkat sebagai penyangga tubuhnya.


Katie dan Marriane menoleh ke arah pintu secara bersamaan, saat mereka melihat pria berbalut pakaian pasien, Katie tersenyum simpul mendapati calon menantunya di ambang pintu. Lain halnya dengan Katie, raut muka Marriane berubah masam, melihat tunangannya itu, ia hanya memalingkan wajahnya, seraya menahan agar tak jatuh air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Masuklah Nick. Mommy keluar cari makan sebentar, tolong jagain Ann bentar ya?" Katie berdalih agar kedua insan itu saling bicara. Katie beranggapan ada masalah dengan putri dan calon menantunya, hingga tercipta kecanggungan diantara mereka.


"Jangan lama-lama mom" pinta Marriane.


Nick membisikkan sesuatu ke Katie sebelum wanita paruh baya itu meninggalkan sepasang hati yang mulai retak itu. Katie memasang ekspresi terkejut saat mendengar bisikan menantunya, membuat Ann yang melihat tanpa sadar menyatukan alisnya karena tak suka. Katie memurus pelan pundak Nick, takut menyakiti calon menantunya yang cedera. Ia pun pergi meninggalkan dua sejoli itu.


"Apa yang kau katakan ke mommy?" ketus Marriane saat Nick terseok-seok mendekat ke arahnya.


"Bukan urusan mu!" Ann menirukan ucapan Nick yang dingin tadi. Wanita itu membuang wajahnya, tak sudi melihat pria yang merenggut nyawa jabang bayinya.


Nick terkekeh melihat wanita yang biasa di anggapnya kuman itu. Ia selalu menempel meskipun sudah berkali-kali membasuh tubuhnya. Tapi sekarang, tampaknya kuman itu berbalik jijik dan enggan menempel padanya lagi.


Entahlah, Nick yang notabene pria kejam nan jahat bin brengsek itu, jadi tak rela jika kuman yang membuatnya sudah terbiasa hilang. Seribu satu cara sudah di siapkan nya untuk mengikat kuman itu agar terus bersamanya.


"Babe..." panggil Nick lembut.


Ck, bisa lembut juga si herder. Marriane


Marriane memalingkan wajahnya ke Nick. Cih, di lembutin dikit aja udah luluh si Ann. "Apa?" ketus Marriane.


"Will you marry me?"


...................................


______________________________


Setelah menyambangi panti asuhan yang di sponsorinya, Dewa mengantarkan bundanya ke sebuah cafe untuk menemui seseorang.


"Mau ditungguin apa ditinggal bun?"


"Ikut masuk aja yuk, biar bunda kenalin sama teman bunda" ajak bunda.


"Cewek apa cowok temannya?"


"Cowok"


"Dih, bunda mana ada teman cowok! Yang ada temen ranjang kali, ck..." Dewa merengut dengan bibir atas sebelah kirinya sudah ternaik ke atas.


"Makanya kamu ikut bunda"


"Inget bun ini di indonesia! Jangan samain dengan gaya hidup american style nya bunda! Mentang-mentang lama di luar negeri" khotbah si anak yang tidak suka dengan gaya bebas bundanya.


Bunda hanya manggut-manggut menerima ocehan putranya yang masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.


"Ya udah ayo" Dewa turun dari mobil, menggandeng tangan bundanya posesif.


Di dalam cafe, tampak pria paruh baya sedang menyeruput secangkir kopi panas. Netra abu-nya menangkap sosok yang sudah bertahun-tahun tak di jumpainya. Senyumnya merekah, kenangan lama bersama orang itu terlintas di kepalanya.


"Here..." pria paruh baya bertubuh tegap itu mengangkat tangan kiri, sedikit melambaikannya.


"Kyaaa..." wanita itu teriak histeris saat melihat pria tampan di pertengahan usia, bermanik dan berambut abu itu. Melepaskan gandengan putranya, saking exited-nya bertemu dengan senior, rekan kerja, dan rekan ranjangnya itu. "My Lukeee" Lexia menghambur ke dada bidang pria itu.


Dewa benar-benar kehabisan kata-kata, bundanya sungguh wanita bebas yang luar biasa. Entah bagaimana ia bisa lahir ke dunia? Padahal bundanya selalu mengantisipasi agar telurnya tidak berhasil di buahi. Apa itu karena bundanya hanya mencintai ayahnya? Makanya ia di biarkan hidup?


Entahlah, Dewa tak pernah bertanya pada bundanya, alasan membiarkan dirinya hidup. Padahal bukan sekali dua kali bundanya itu menggugurkan kandungannya. Sampai rahimnya harus di angkat, saat bundanya mengambil studi lanjutan spesialis obgyn.


"Bunda" ucap Dewa dingin, ia kurang suka sifat centil bundanya menguak. Ia lebih suka bunda yang kalem, yang dingin berkharisma, yang hanya perhatian terhadapnya.


"Oh my God, maafin bunda sayang. Sini!" bujuk Lexia, saat melihat raut kesal putranya.


"Putramu?"


"Iya, kau masih ingat?"


"Tentu saja, dulu dia begitu lengket denganku. Tapi, sepertinya sekarang dia terlihat membenciku" Luke terkekeh saat melihat mata Dewa bagai penuh oleh kobaran api yang siap melahapnya. "Hai goku boy, kau melupakanku?"


Dewa mengerutkan keningnya, ia beralih menatap bundanya. Sang bunda mengangguk, seolah membenarkan pikiran putranya.


To be continue...