
Jam dinding menunjukan pukul 11.54 malam. Leia baru pulang dari acara penyambutan mahasiswa baru. Leia mahasisa jurusan desain interior semester 5. Ia juga merupakan anggota senat d kampus.
"Gelap sekali, apa ayah belum pulang ya?" monolog Leia
Tap... Tap... Tap...
(Leia mengidupkan lampu)
Wusshh... Syuuushh... Sayup-sayup suara angin berhembus.
"Eung, jendelanya kok kebuka?"
Leia mendekati jendela yang terbuka. Ketika mau menutup jendela itu, tiba-tiba pupil mata yang berwarna abu-abu itu bergetar.
"Apa itu? Ayah? Oh tidak... Ayaaah!!!" Leia berlari ke halaman belakang rumah.
Jasad ayah Leia tersandar di pohon ek. Kemeja putih lengan panjang itu berlumur darah. Celana kain biru dongker itu juga terkoyak. Kakinya tercabik karena mesin pemotong rumput. Tak sampai di situ saja, leher ayah Leia berlubang seperti disulut besi panas. Kejam, sungguh kejam si pelaku. Akhir hidup Amrali yang tragis, atas dasar apa si pelaku berbuat seperti ini?
Leia keringat dingin, wajahnya pucat. Melihat langsung jasad Amrali membuat tubuhnya seperti kehilangan roh. Ayah yang amat dicintainya mati dengan mengerikan. Membuat jiwanya kesakitan dan sedih bukan main. Seketika, mata Leia terbelalak.
"Ibu... Dimana ibu?? Jangan-jangan?? Akhh... Ibu!!!" Leia berlari mencari sosok ibunya di setiap sudut rumah.
"Ibu ga ada!!! Telpon, aku harus telpon. Angkat, kumohon angkat telponya bu"
"Halo sayang" Suara lembut Neftari menjalar ke pendengaran Leia.
"Ahh... Ibu... Ibuu... huu huu hiks hiks. Ibu selamat? Ibu ada di mana?"
"Ibu.. Di rumah, Ayah.. Ayah.. Hiks hiks. Ayah berlumur darah bu, ayah udah ga ada. Huu huu uuu..."
"Apa maksudmu? Ayahmu kenapa?" Neftari mulai panik.
"Huu huu... Ibu pulang, cepat pulang"
Tiba-tiba Leia jatuh pingsan di ruang tamu. Ia tak mampu menahan terpaan cobaan yang barusan terjadi. Neftari cepat-cepat pulang ke rumah. Ia mendapati Leia yang tergolek di dekat pohon ek yang berlumur darah Amrali. Ada karung goni tergantung di dahan pohon ek. Neftari tak kalah terkejut dari Leia, tangan kakinya gemetaran, ia mencoba membangunkan putrinya yang tak sadar diri.
"Leia... Leia.. Nak... Bangunlah, apa yang sedang terjadi?"
Leia tak kunjung sadar juga, akhirnya Neftari berteriak meminta pertolongan.
.....
Garis polisi melingkari kediaman Amrali Yusop dan Neftari Marila. Keluarga itu sedang berkabung, tetapi orang-orang hanya berfokus pada kasus pembunuhan Amrali saja. Harusnya mereka mendoakan almarhum! Semasa hidupnya Amrali merupakan pria yang baik dan hangat. "Beliau orangnya pengertian dan ramah, amat di sayangkan orang sebaik beliau mati dengan cara yang mengenaskan" bisik para tetangga.
Pemakaman Amrali dilaksanakan dengan isakan tangis orang yang menyayanginya. Amrali anak yatim piatu, sejak kecil tinggal di panti asuhan. Keluarga yang ia punya hanya Leia dan istrinya, Neftari. Pandangan Neftari kosong, Leia memapah tubuh ibunya.
"Ibu ga nyangka, karung yang bergantungan itu adalah ayahmu. Hiks hiks... Harusnya ibu ga nginep d rumah eyangmu kemarin. Harusnya ibu yang nemenin ayahmu di dalam karung itu. Huu... Huu... Kasihan suamiku" tangisan Neftari pecah, telapak kakinya tak mampu menopang tubuhnya.
"Ibu jangan ngomong gitu. Terus Leia gimana? Ibu ga sayang Leia? Masih ada Leia bu. Huwaaa huu huu"
Leia terpikir omongan ibunya, apa maksudnya ayah di dalam karung? Leia tak mengerti yang Neftari katakan. Mayat ayah yang Leia lihat kan tersandar di pohon.