Traffic Light

Traffic Light
AAH



"Luke?"


Suara seorang wanita mengagetkan Luke yang kala itu tengah menunggu tukang bangunan di depan rumahnya untuk memperbaiki plafon rumahnya yang tiba-tiba rubuh.


"Neftari?" Luke menunjuk wanita yang memanggilnya tadi.


"Yeah" Neftari sumringah, ia merentangkan tangannya lalu memeluk tubuh Luke yang besar dan tinggi, sudah pasti Neftari tak bisa mengalungkan tangannya di lingkar dada Luke yang bidang itu. Neftari hanya menepuk-nepuk punggung sahabat masa kecilnya itu.


"Ohh... I miss you" Luke tersenyum lebar menampakkan rentetan gigi putihnya yang rapi. Ia mengusap-usap punggung Tari menyalurkan kerinduannya selama ini. "How are you minx*??" Luke melepaskan pelukannya namun masih memegang kedua bahu Neftari. Sedangkan tangan Neftari bertengger di pinggang Luke.


"Dasar! Tuh mulut di filter dikit napa?" sungutnya, Tari menepis tangan Luke dari bahunya. "Ah, satu lagi. Kalo ngomong sama aku itu pake bahasa indonesia. Ingat kan perjanjian kita waktu kecil?"


"Hehe, iya iyaa..." Luke meraih tangan Neftari untuk di genggamnya. "Mau masuk rumahku dulu" ajak Luke penuh harap.


"Hah?? Ini rumah mu? Sejak kapan?"


"Kok kaget gitu?"


"Yee malah balik nanya" Neftari menyentil jakun Luke karena untuk menyentil Dahinya ia tak sampai, ga ada dahi jakunpun jadi, muehehe.


"Akh, are you crazy?" teriak Luke kesal karena sikap usil Neftari terhadapnya masih tak berubah. Entahlah karena apa, sikap Neftari begitu kalem jika bertemu orang lain, tak seperti terhadapnya, Neftari selalu usil, selalu ada saja hal untuk mengganggu Luke.


Tari tertawa lepas, sudah lama ia tak merasa sebahagia ini bertemu seseorang. Bahkan saat bertemu anaknya sendiri setelah sekian lamanya berpisah, malah membuatnya jantungan. Yaah, walaupun ia akhirnya ikut merasa senang karena anaknya juga senang menurutnya. Nilai plusnya lagi ia jadi mendapatkan menantu dan cucu yang tak ternilai harganya.


Neftari menatap teman kecilnya dalam-dalam, di ingatannya Luke begitu kerempeng dan pendek saat terakhir mereka bertemu, kala itu mereka baru menginjak bangku 3 SMP. Neftari akui kematangannya sekarang membuat Luke semakin tampan dan sexy.


Saat umur Luke 5 tahun, ia mengikuti ayahnya pindah k Indonesia. Ayah Luke dan Neftari bersahabat, umur anak mereka juga sepantaran, jadi ayah Luke lebih sering menitipkan Luke ke kediaman Baron untuk bermain dengan Neftari, begitulah jalinan persahabatan menurun ke anak mereka.


Setelah lulus SMP, Luke kembali ke negara asalnya karena perebutan hak asuh. Ayahnya tak bisa menghindar lagi, selama ini ia berusaha menyembunyikan Luke dari ibu kandungnya. Namun pada akhirnya hak asuh Luke jatuh ke tangan ibunya, membuat Luke harus menetap di negara asalnya begitu lama.


"Hey, kenapa kau bengong?" sebuah jentikan jari menyadarkan lamunan Leia yang mengingat saat-saat kecilnya bersama Luke. "Mau masuk ga?" tanya Luke kembali, karena tukang bangunan yang di tunggunya tak kunjung datang, ia cukup lelah berdiri di depan rumahnya.


"Nanti saja, kalo mau ketemu gampang kok, kan tetanggaan" ucap Tari seraya menunjuk rumahnya yang berada tepat di sebelah rumah Luke.


Luke membelalakkan matanya karena kaget.


Rumah Leia, anakku? Sebenarnya Leia ada hubungan apa dengan Neftari? Lalu, Eden? Ya tuhan, takdir apa lagi ini. Luke


"Tutup mulutmu, ntar lalat masuk" Neftari menepuk dagu Luke agar mulutnya tertutup.


"Ahh... Baiklah, kau pulang saja, yang penting sekarang kita tau keberadaan rumah masing-masing, sebentar..." Darrel mengeluarkan kartu nama dari dompetnya lalu memberikannya pada Neftari. "Ini, nanti hubungi aku biar bisa lebih gampang berkomunikasi"


"Okey" Neftari mengedipkan sebelah matanya, jemarinya membentuk isyarat ok 👌. Neftari melenggang masuk ke dalam rumahnya di liputi dengan perasaan yang bahagia.


DI KAMAR LEIA


Leia melirik ke bawah pusar Darrel, matanya membulat besar, ia menutup mulutnya yang sekelibat ternganga.


Selang waktu berganti akhirnya Eden kembali tertidur dengan pulas nya, kini tak ada lagi suara-suara yang mengganggunya. Darrel dan Leia lebih berhati-hati dalam setiap tindakannya agar tak membangunkan bayi imut itu.


Darrel menghampiri Leia yang tengah memakai skincare untuk merawat kulit tubuhnya. Darrel menggesekkan kejantanan nya itu ke punggung Leia.


"Yuk" bisik Darrel ke telinga Leia yang membuat wanita itu merinding. Darrel mengusap-usap lengan atas Leia dengan lembut.


"Kemana?" jawab Leia yang juga berbisik.


"Apartemenku"


"Ngapain?" Leia mengerutkan dahinya.


Darrel mengusap tengkuknya bingung menjawab pertanyaan Leia. "Mmm... Itu loh" jawabnya terbata-bata.


"Apaan?" Leia menaikan nada bicaranya karena kesal.


Darrel spontan mencium bibir istrinya karena tak mau membuat Eden terbangun lagi. Selain karena Eden yang akan sulit menidurkannya kembali, ada satu hal lagi yang mendesaknya agar melakukan ritual yang harusnya ia lakukan sejak dulu, saat malam pernikahannya dengan Leia.


Awalnya hanya berniat membungkam mulut istrinya dengan ciuman. Namun insting kelelakiannya berkata lain, hasrat yang menggelora membuat Darrel menginginkan lebih. Ia mengulum bibir atas Leia yang tipis, tak ada perlawanan dari istrinya, ia kembali menyerang bibir bawah istrinya yang berisi. Darrel menggigit kecil bibir istrinya, Leia yang ikutan terangsang, membalas ciuman Darrel dengan liarnya. Leia menunjukkan bagaimana harusnya ciuman yang membuatnya semakin bergairah.


Leia mengalungkan tangannya di leher Darrel, ia melingkarkan lidahnya pada lidah suaminya, mengobok-obok rongga mulut Darrel dengan lidahnya. Sekarang malah Darrel yang kewalahan menghadapi istrinya itu. Darrel menepuk-nepuk pundak Leia agar melepaskan pangutan ganasnya.


"Haah... Hah... Haah... Haah" nafas mereka bersahut beradu dalam kecepatan maksimal.


Darrel menyatukan keningnya pada kening Leia, "Ke apartemen ku yuk" ajaknya kembali dengan nafas yang tersengal. Leia mengangguk, Darrel mengambil jaket Leia lalu memakaikannya ke Leia. Ia menggenggam tangan istrinya, "Kunci mobilmu mana?" tanya Darrel, karena tak mungkin dalam kondisinya yang seperti ini pergi menggunakan bus, seperti biasanya.


Leia membuka laci meja riasnya, tampaklah kunci mobil miliknya berjejer di sana. Leia mengambil kunci mobil sedan import yang dulunya di gunakan oleh mendiang ayahnya. "Nih, bisa nyetir ga?" Leia memberikan kuncinya pada Darrel.


Darrel tersenyum penuh arti.


Jangankan mobil dek, pesawat sama kapal selam aja bisa abang setirin. Bangga Darrel dalam hati.


"Yuk, udah ga tahan" desak Darrel sambil mendirikan Istrinya dan berjalan membuntuti Leia sambil memeluknya dari belakang menutupi kejantanannya yang menegang.


Di depan pintu utama, Leia dan Darrel bertemu Neftari yang hendak masuk ke dalam rumah. Leia mengingat-ingat kembali, ia merasa melupakan sesuatu yang penting saat melihat ibunya.


"Ahh... Eden!" Leia menepuk tangannya sendiri, membuat Darrel dan Neftari sedikit kaget. Dipikir-pikir kembali, jika dirinya dan Darrel pergi keluar, tak ada yang menjaga Eden jadinya. Jikalau bayinya terbangun bagaimana? Akhirnya Leia memilih meminta bantuan ibunya untuk melihat-lihat Eden yang sedang berada dalam mode tidur.


Neftari menyanggupi permintaan anaknya walaupun ia sendiri lelah dan ingin melelapkan diri juga.


Lalu, di manakah keberadaan Yugi, asisten kepercayaan Leia yang selalu bersamanya?


To be continue...


*minx \= gadis nakal dalam bahasa irlandia