
Rembulan nyaris tak menampakkan dirinya di atas cakrawala, menenggelamkan keindahannya bersama awan hujan yang kian memudar. Dua insan yang terikat jalinan pernikahan itu masih asyik berbincang di atas peraduannya.
Di seperempat malam itu Leia banyak berkisah tentang masa lalunya. Darrel sampai shock mendengar celotehan istrinya yang panjang itu, biasanya Leia selalu berbicara alakadarnya saja.
Wah... Wah... Wah... Ternyata aslinya istriku ini sangatlah cerewet. Darrel
Perbincangan mereka terhenti, tatkala sang istri mengeluh sakit di bagian perutnya. Walaupun begitu, kedua insan itu masih enggan untuk memejamkan matanya. Darrel mengusap-usap punggung Leia seraya memeluknya.
Hingga pada akhirnya, Darrel berinisiatif merayu sang istri agar mau mengistirahatkan tubuh nya. "Dibawa tidur aja ya sayang, biar sakitnya hilang?" Darrel masih mengusap punggung Leia.
Leia mendongakkan wajahnya, menatap wajah tampan bule blasteran korea itu, "Hum..." Leia menganggukkan kepalanya.
"Tapi, tangan oppa jangan berhenti mengusap punggungku!" titah Leia.
"Baiklah" Darrel mencium kedua pelupuk mata istrinya.
"Sepertinya tangan oppa itu obat mujarab deh, nyerinya berkurang saat oppa mengusap punggungku" ujar Leia menampilkan senyum manjanya.
Sejak kapan istriku pandai memuji? Darrel
Darrel terkekeh mendengar penuturan istrinya itu. Ia semakin gemas dengan tingkah asli Leia, yang mulai wanita itu tunjukkan padanya. "Next time aku yang akan bercerita tentang diriku. Lekas lah tidur" ucap Darrel seraya mengecup kening Leia.
Tapi maaf, aku tak bisa menceritakan seluruhnya. Apalagi tentang pekerjaanku. Darrel
Setelah mendapatkan kecupan di dahi, Leia mengeratkan pelukannya pada Darrel dan menepuk punggung atas suaminya dengan lembut. "Oppa juga tidurlah"
Merekapun memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh mereka dalam peraduannya.
__________
Hmm hmm...
Hem...
Hum Hum...
Pria bersnelli itu bersenandung, seolah di hatinya tengah ditebar bunga-bunga yang indah. Senyum sumringahnya memancarkan kebahagiaan, seusai menuntaskan hasratnya yang telah lama terpendam.
Kalian tau siapa pria yang tengah berbahagia itu?
Dia adalah pria jangkung itu. Pria yang memegang bolpen di tangannya, dengan segala gelagat aneh yang dilakukannya.
Ahh... Jika diingat-ingat, bagaimana gerangan kabar seorang yang bersamanya tempo hari? Kalian penasaran tidak, dengan apa yang dilakukan pria bertubuh tinggi itu?
Apa gerangan yang membuatnya berbahagia?
__________
Awan noktilusen menghiasi awang-awang bumi, warna putih keperakan bercampur hangatnya senja, memanjakan mata penikmatnya.
Saat itu, Darrel tengah duduk di ruang tengah seraya menikmati pemandangan tersebut dari dalam jendela. Suara TV di depannya, tak mengganggu ketenangan Darrel dalam menikmati fenomena galib di atas sana.
Sampai saat suara anchor berita mengalihkan pandangan Darrel ke arah layar TV di depannya.
News highlight.
Seorang pengusaha sekaligus anggota dewan kota, Fahri S.M. ditemukan tak bernyawa di dalam mobilnya yang terparkir di jalan antar kota. Setelah melakukan visum, pria berumur 42 tahun itu meninggal akibat overdosis morfin.
Begitulah suar Anchor berita menyiarkan berita singkat yang biasanya muncul di sela-sela iklan. Darrel yang tanpa sengaja menonton siaran berita singkat itu menjadi pias.
Bergegas pria bertubuh kokoh itu menuju kamar putrinya untuk menyambangi Handoko yang masih betah bermain dengan cucunya. Pria tegap itu enggan meninggalkan cucu cantiknya. Mungkin saja ia akan menjadi baby sitter tetap.
Duh bule! Sadarlah, ini masih di kamar Eden! Bayimu itu memiliki ribuan sel yang akan aktif di otaknya. Bagaimana jika bayimu itu mendengar kata menyeramkan itu? Penulis cuma mau ngingetin aja, hati-hati kalo ngomong.
Handoko menjatuhkan mainan Eden yang di pegangnya, hingga menimbulkan bunyi gemerincing karena benda itu jatuh berguling-guling di lantai.
Astagoy pak tua!! Berisik sekali! Bagaimana kalau baby Eden terbangun nanti? penulis cuma mau kasih tau aja pak Han-- doko.
Mata Handoko bersitatap dengan netra biru milik Darrel, seakan paham dengan informasi yang barusan Darrel berikan. "Hubungi Jeki! Dia mulai beraksi lagi" ucap Handoko. Ia hendak menelan salivanya tapi nahas, mulutnya terasa kering hingga tak dapat melakukannya.
"Aku ingin berhenti" ucap Darrel Lirih.
Tenggorokan Handoko semakin kering, akibat pernyataan Darrel yang mampu membuatnya tercekat. Tak satupun kata yang lolos dari bibirnya.
"Maksudku--" Darrel terdiam sejenak, ia terlihat sedang menyusun kata-kata yang pas untuk mengutarakan maksudnya.
"Kau tau sendiri pak tua, sekarang aku tak sendiri lagi. Aku memiliki kelemahan sekarang, dan itu akan sulit. Aku tak mau menyeret mereka, apalagi kalau sampai membuat mereka terluka" ujar Darrel dengan mata yang menerawang langit-langit kamar Eden.
Handoko menghembuskan kasar nafasnya. Ia paham betul maksud Darrel. Ia juga pernah merasakannya dulu, bedanya dulu ia tak melepaskan tanggung jawab pada pekerjaannya. Sebagai seorang agen, ia harus siap dengan semua konsekuensi, termasuk nyawa salah satunya.
Handoko sampai harus rela menitipkan putrinya sendiri di panti asuhan, agar nyawa putrinya bisa aman dan hidup dengan tentram tanpa gangguan. Apalagi ia menitipkan cucu kecilnya pada pria menyebalkan yang sayangnya adalah sang murid yang selalu bersamanya.
Kemelut yang dilanda Handoko kini sungguh membuat rambut di kepalanya akan semakin kian menipis.
Ck, dasar...
Siberian husky ini ternyata sudah bertemu dengan pawangnya. Batin Handoko
Siapa pawangnya?
Siapa lagi kalau bukan istrinya, Heleia Esmee jika kalian lupa dengan nama wanita itu.
"Hey, pak tua! Apa kau mendengarkan aku?" Darrel menjentikkan jarinya di hadapan Handoko hingga membuatnya tersadar.
"Baiklah, kau bisa minggir dari kasus ini. Tapi aku tak akan terima pengunduran dirimu! Kau bisa bekerja di balik layar. Kau tak perlu mengotori tanganmu. Apalagi kasus ini berhubungan dengan istrimu"
Bagaimana dia bisa tau? Apa dia juga menyelidiki tentang Leia? Sial, kau terlalu lancang pak tua. Geram Darrel di dalam hati
"Blue..." Handoko menghentikan perkataannya sejenak. "Bukannya kau berpikir dia orang yang sama dengan pembunuh ayah mertuamu?"
Darrel menatap Handoko penuh selidik, "Sejauh mana yang kau tau?" nada Darrel berubah dingin.
"Kau tau? Amrali... Pria itu, ayah mertuamu itu. Sama seperti kita" sambung Handoko.
Jantung Darrel serasa tercelos, seperti ada lubang di rongga dadanya. Hal yang tak pernah ia tau sebelumnya. Lantas, bagaimana Darrel bisa tak mengenalinya? Dia sudah cukup lama bergabung dengan BIN. Apalagi Amrali meninggal empat tahun yang lalu.
"Amrali seorang ghost agent, wajar saja kau tak pernah mengenalinya. Dia dari pasukan khusus yang bahkan petinggi di BIN pun tidak mengetahuinya. Identitasnya sangat dirahasiakan, hanya presiden yang tau" tambah Handoko lagi.
"Lalu bagaimana kau tau tentangnya?"
Handoko menceritakan semuanya. Mulai dari kebenaran tentang Amralilah yang sebenarnya menolong Darrel saat kasus penculikan di korea waktu itu menimpanya. Hingga penyebab kematian Amrali yang kasusnya sengaja ditutup dengan cepat.
Tubuh Darrel seketika bergetar, seperti inikah cara takdir memberikan teka-teki untuknya? Secara kebetulan, menghadirkan Eden sehingga ia dapat bersanding dengan Leia. Sang malaikat penyelamat yang ternyata ayah dari Leia. Kematian Amrali dan kematian salah satu agen, Fahri yang masih menjadi misteri.
Lantas kematian Stevi, apa itu ulah si Blue juga??
Klang... Entah suara apa itu, yang jelas benda itu terjatuh tepat di depan kamar Eden.
To be continue...