
Burung pingai bersahut menyambut mentari yang masih mengintip di balik ufuk timur. Namun kediaman Leia tak kalah ribut dari cicit burung pingai yang bertengger di kabel listrik. Isak tangis bayi meramaikan rumah yang hampa selama tiga tahun belakangan ini. Anehnya sang empunya rumah tak merasa risau atau risih, ia malah senang dengan adanya keributan di rumah satu lantai yang besar ini. Leia menikmati sekali peran barunya sebagai ibu sambung untuk Eden, bayi cantik milik Stevi, teman Leia semasa SMP. Ia sampai lupa dengan janjinya pada si bayi, ia berjanji akan menemukan ayah kandungnya.
Pagi - pagi sekali ia sudah terbangun karena Eden menangis kejer. Ia mengecek popok Eden, benar saja ternyata isinya sudah penuh seperti sandwich. Leia merengek geli, tangannya belum terbiasa mengerjakan segala hal yang pernah di lakukan seorang ibu. Setelah mengganti popoknya, Eden kembali senyap, Eden menggerak - gerakkan mulut kecilnya. Matanya yang bulat besar berbinar menatap Leia.
Utuuk.. Utuuk.. Eden mau nen yah? Leia menepuk - nepuk halus bibir Eden dengan telunjuknya.
Mami buatin sebentar yah... Leia menyalakan ketel listrik, lalu menakar susu formula ke dalam botol susu yang sebelumnya ia hangatkan terlebih dahulu. Diangkatnya botol susu itu sejajar dengan matanya, "Ini mah kebanyakan!!" Ia menuang kembali bubuk susu yang isinya hampir setengah botol itu, kemudian mengukur kembali dengan benar. Lalu menuang air dari ketel listrik, kemudian mengukur suhunya dengan tangan, dan akhirnya, taaaaraaaa !! Jadilah nen untuk dek Eden. Ia langsung menyusukan Eden sambil di timang nya bayi manis itu.
sebulan telah berlalu, sebulan pula umur Eden. Leia menunggu kabar dari asisten rahasia yang selama 3 tahun ini memenuhi semua permintaan Leia tanpa bertanya alasannya. Gusar karena tak ada kabar, ia pun menghubungi asistennya itu.
Tuut... Tuut... (sambungan telpon)
"Halo... Nona?"
"Gimana?"
"Hasil pengintaian tidak ada yang mencurigakan, hmm... Tapi, tuan Darrel sudah sebulan ini tidak keluar dari unitnya"
"Baiklah, kamu sudah berkerja keras, sisanya biar saya yang urus"
"Barusan saya mengirimkan data pribadi dan laporan penyelidikan tuan Darrel lewat email, silahkan nona periksa"
"Mhmm... Istirahatlah!" Leia menutup telponnya. "Menarik sekali, ayah Eden membuatku penasaran, apa dia seorang yang introvert ya? Bisa - bisanya dalam sebulan tanpa keluar rumah. Apa sih kerjanya? Apa aku bisa mempercayakan Eden padanya? Aahh... Tidak, tidak... Bukan itu masalahnya, apa dia bisa menerima kehadiran Eden? Haah... Ada - ada saja hal yang terjadi di hidupku..." menghembuskan nafas kasar seraya menyenderkan kepalanya di senderan sofa. "Besok aku akan mempertemukan mu dengan daddy mu, Eden" matanya menatap lekat langit - langit ruang keluarganya.
ESOKNYA
Ting tong... Ting tong... (Suara bel apartemen)
Darrel yang terganggu dari tidurnya karena bunyi bel apartemen nya, bangkit duduk dari kasur yang bantal serta selimut nya berserakan di lantai. Ia masih mengumpulkan nyawanya yang berkeliaran semalaman entah kemana, ia menggaruk - garuk kepalanya, membuat rambut hitam panjangnya acak - acakan. "Hooaaamm... Siapa sih yang berani membangunkan singa tidur?" ia meregangkan tubuhnya dan beranjak membukakan pintu tanpa melihat monitor di samping pintu.
"Apa?" Darrel mengucek - ucek matanya.
"Aku mau memberikan bayimu" Leia berkata dengan wajah datar.
"Aah... Bayiku, silahkan masuk. Hooaamm..." Darrel membuka pintunya, sesaat ia tersadar "Bayiku??" teriaknya sambil menatap Leia yang wajahnya masih datar. Sontak ia menutup kembali pintu apartemennya. Lalu menghidupkan monitor bel pintu, kemudian memperhatikan kembali wanita dan bayi yang sedang tercengang di depan pintu apartemennya.
Ting tong... Ting tong... bunyi bel kembali terdengar.
"Biarkan kami masuk!! Bayi ini tidak boleh terlalu lama di luar!! teriak Leia
Perlahan Darrel membuka sedikit pintunya, ia mengintip dari sana.
"Si.. siapa kamu?" ia mulai keringat dingin
"Stevi..."
Darrel melepaskan ganggang pintu yang sebelumnya di pegang erat karena takut Leia menerobos masuk. Mulutnya ternganga mendengar nama yang di ucapkan Leia, namun tak lama kemudian kesadarannya kembali.
"Kamu bukan Stevi!!" Darrel menggenggam kedua tangan dan menghentakkan satu kakinya.
"Ini bayinya" dengan nada yang masih datar Leia menunjuk pada Eden.
"APA...!!??" suara Darrel menggelegar memenuhi lorong apartemen.
Leia dengan refleks menutup kedua telinganya dengan tangan. Leia melihat Eden yang sedang di gendong dengan hip seat, takut Eden kaget, tenyata Eden malah tertawa menunjukkan gusi yang belum di tumbuhi gigi itu. Aahh... Lucunya... Ada perasaan tak rela jika Eden di ambil daddy nya. Leia menatap Darrel dengan tatapan menyeramkan.
To be Continue...