
Darrel menatap kepala Leia yang tertunduk, mempertanyakan perihal kesetiaannya. Dengan pelan, jemari Darrel menyentuh dagu Leia, mengangkatnya perlahan, tampaklah wajah sendu Leia yang meragu.
Dengan lembut, Darrel menepikan helaian rambut yang menjuntai, menghalangi wajah cantik sang istri. Meraup wajah mungil Leia yang putih dan bersih dengan kedua telapak tangannya. Pancaran netra berbeda warna itu saling bertubrukan, netra kelabu itu terlihat bergetar.
Bola mata bernetra abu-abu tampak tergenang oleh cairan bening. Bilamana kelopak mata yang menutupi netra itu terkatup, pasti akan membuat cairan bening itu luruh.
Sekuat tenaga Leia menahannya, pelupuk matanya dia tahan agar tak berkedip, beruntung kini posisi kepalanya sedikit mendongak. Itu cukup membantu menahan air mata yang akan jatuh.
Tak ada kata cinta sebagai pelipur lara.
Tak ada kata sayang yang menenangkan jiwa.
Di mata Leia, netra biru itu teramat meyakinkan, hingga meruntuhkan keraguannya. Di matanya memancarkan kemantapan bahwa pria yang sedang memangkunya kini tak akan pernah melepaskan ikatan suci pernikahan mereka.
Pikiran Leia berkelana dalam ingatannya, saat pria lembut di depannya itu selesai melakukan prosesi pernikahan seadanya di kantor agama. Ya, saat itu, di depan kantor itu Darrel telah berjanji, tak akan menerima kata cerai di dalam pernikahan yang ia jalani.
Leia memutus kontak mata dengan Darrel, pikiran negatifnya kalah.
Haah... Syukurlah...
Leia memejamkan matanya, setetes cairan bening mengucur melewati pipinya. Hey, sudah ku katakan bukan? Saat kelopak mata itu tertutup, seketika luruh lah cairan bening itu!
Leia menyembunyikan wajah basahnya di ceruk Leher Darrel. Cairan bening itu merembes, menyentuh kulit leher Darrel. Di dalam persembunyiannya Leia mengangguk, mengisyaratkan kepada Darrel agar tak perlu menjawabnya, karena Leia sudah mengetahui jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Darrel mengeratkan dekapannya, menyamankan posisi Leia di dirinya. Sentuhan-sentuhan lembutnya tak pernah berhenti mengusap permukaan kulit Leia. Menenangkan syaraf-syaraf Leia yang menegang.
Sungguh, pria yang sedang memangku nya itu membuatnya nyaman. Tanpa perlu berkata-kata, tanpa perlu bujuk rayu, sosok Darrel dengan gesturnya berhasil membuat wanita berhati batu seperti Leia takluk.
Ya Tuhan! Apa Leia sudah mulai mencintainya? Jika iya, apa berarti Leia mengalami cinta bertepuk sebelah tangan?
Leia cukup sadar diri, sikap Darrel yang lembut dan perhatian itu karena peranannya sebagai suami.
Sek*s ? Aha, pria tak perlu cinta untuk melakukannya. Hasrat kaum pria kebanyakan terletak di otak, tak seperti wanita yang hasratnya berasal dari perasaan.
Apakah Leia haris menerima perasaannya sendiri? Membiarkan waktu mengalir, menghanyutkan perasaannya ke arus yang tak ia ketahui akan bermuara di mana?
Huuft...
Leia memang gila!! Benar-benar sudah gila!! DID kek, Alter Ego kek, yang jelas sekarang Leia sudah gila dengan perasaannya. Susah jadi perempuan, baper mulu.
Perdebatan di pikiran Leia buyar oleh perkataan magis, yang sukses menyihirnya dengan ajaib.
"Istriku" sepatah kata dari bibir Darrel berhasil menghentikan air mata yang sedari tadi jatuh tanpa jeda.
Leia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang memerah. Ahh, bukan karena malu, tentu saja akibat dari tangisannya. Rambutnya basah berantakan, hidung, kantung mata, dan pipinya merona ke pink-pink-an.
"Lucu" Darrel terkekeh melihat perawakan istrinya pasca menangis.
Leia ikut-ikutan terkekeh saat wajah tampan suaminya tulus memancarkan gurat tawa bahagia, ini pertama kalinya Leia memperhatikan suaminya begitu lekat. Wanita itu lagi-lagi terpesona.
"Cintai aku" ucap Leia tanpa sadar. Perempuan itu masih terhipnotis oleh pesona suaminya.
Darrel mengangkat kedua alis tebalnya tinggi-tinggi, menimbulkan garis-garis halus di keningnya. Pria itu mencerna maksud dari penuturan istrinya.
Ngajakin ML kah? Pagi-pagi begini? Pikir Darrel.
Sah-sah saja sih, apalagi kondisi sangat memungkinkan. Pagi-pagi begini dede nya Darrel memang suka bangun sendiri pasca ritual suami-istri pertamanya. Doyan, pengen lagi dia.
Duh, tapi nih ya bang bule, maksudnya Leia tuh bukan itu loh, ckckck.
Leia mengangguk, sebagai responnya. Tangan Darrel mulai liar mencari mainannya yang sudah berbulan-bulan tak ia mainkan. Wajar saja, mereka hanya melakukan sekali guys, ekhm.
"Stop" suara Leia melirih. Menghentikan pergerakan tangan besar suaminya yang bergerilya di atas gundukan sucinya.
"Why? You want it, right?" sergahnya, Darrel menyingkirkan tangan kecil istrinya agar tak mengganggu aktifitas remas-meremasnya.
"Oppa salah! Bukan ini maksudku!" tangan Leia lagi-lagi menahan tangan kekar suaminya, supaya berhenti memainkan benda kenyal miliknya.
Baiklah, Darrel menyerah. Mungkin memang benar saat ini, ia sedang salah mengartikan maksud kata 'Cintai aku' yang istrinya tuturkan.
"Lalu?" Darrel meminta penjelasan lebih lanjut.
Sekarang Leia yang salah tingkah, ia benar-benar tak sadar saat mengatakan 'cintai aku', sungguh...
Mata Leia menari-nari, mencoba menghilangkan kegugupannya. Otaknya berpikir jelas tentang jawaban yang akan ia berikan. Saat ini Leia ingin berteriak merutuki kebodohannya diperbudak cinta.
Sial...
Saat Darrel hendak membuka mulutnya untuk meminta penjelasan dari Leia sekali lagi, tangisan Eden menginterupsi perbincangan mereka yang berujung tanda tanya.
Bagai mendapatkan pertolongan dari surga, Leia langsung beranjak dari pangkuan suaminya. Menghampiri putrinya yang sedang menangis.
Mami ga salah beri nama kamu Eden, kamu memang surga penyelamatku. Leia
Leia membalik tubuh Eden, memeriksa popoknya yang sudah berat.
"Oppa, siapin air hangat buat mandi Eden!" perintah Leia tanpa beban. Padahal tadi ia dalam keadaan melo dan baper.
Darrel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan melaksanakan perintah sang istri.
Setelah Darrel berlalu melaksanakan titah istrinya, Leia menghembuskan nafas lega. Wanita itu berkali-kali mengusap dadanya yang sedang bertalung. Luar biasa! Perasaan apa ini? Waktu pacaran dengan mas Dewa Leia tak pernah se-berdebar ini!
Leia memejamkan matanya mencoba menetralkan dentuman di jantungnya. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba membantah perasaannya.
Leia sampai lupa membuka popok penuh yang Eden kenakan. Padahal bayi itu sudah berteriak, menangis meminta untuk di lepaskan popoknya yang penuh dengan air seninya sendiri.
"Astaga!" Leia membelalakkan matanya saat tangan kecil itu memukuli wajahnya.
"Maafin mami sayang. Uluu uluu... Anak mami! Udah risih yah? Iyah? Bentar ya mami lepasin kantung semarnya dulu, hehe" Leia bercanda dengan putrinya.
"Udah siap airnya?" tanya Leia ke Darrel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Lelaki itu tak menggubris pertanyaan Leia, ia hanya berlalu ke buffet yang berisikan perlengkapan mandi untuk mengambil handuk bayi dan handuk berukuran besar. Baiklah, Leia sudah tau kelanjutannya.
"Biar aku aja yang mandiin Eden, entar kalau udah selesai aku oper ke kamu, trus kamu lanjut keringin dan pakein bajunya. Aku juga mau mandi" Darrel mengambil Eden yang baru saja Leia lepaskan dari kukungan diapersnya.
"Siap pak komandan!" seru Leia.
"Uhuk..." Darrel tersedak air liurnya sendiri karena kaget dengan panggilan Leia terhadapnya barusan.
Fix, ada jin bersemayam di dalam tubuh istriku. Makanya bisa jadi cenayang kayak gini, tau aja sih! Darrel
To be continue...