Traffic Light

Traffic Light
PAGI DI ATAS KASUR



Malam itu, Leia kembali terhanyut ke alam bawah sadarnya. Tapi tidak dengan Darrel, ia masih berkutat dengan usapan di punggung istrinya. Sesekali mengecup pucuk kepala Leia yang gelisah dalam tidurnya.


Aneh, apa damage dari mimpi Leia bisa separah ini? Leia mengigau, menangis, bahkan tubuh langsingnya gemetaran.


Beruntung putri kecilnya, Eden. Tidur di kamar sebelah. Jika tidak, kepala Darrel akan keliyengan mengayomi dua perempuan yang telah mengikatnya di atas kertas, yang disebut kartu keluarga itu.


Leia bahkan mengalami somnabulisme, atau biasa kita kenal dengan sebutan penyakit tidur berjalan. Matanya terbuka dengan sorot yang terkesan hampa, Leia bahkan meracau tak jelas saat Darrel bertanya padanya. Karena Leia yang tak merespon omongan Darrel dengan benar, ia pun mencoba menepuk-nepuk pipi Leia agar bangun. Sayangnya, Leia tak kunjung bangun juga.


Terpaksa Darrel membekap tubuh istrinya, meminimalisir pergerakan yang membuatnya kadang terjengkang dan membentur ujung perabotan di dalam kamar. Hanya usapan dan kecupan sayang dari suami yang dapat menenangkan Leia. Jadilah Darrel tak tidur hingga fajar menjelang.


"Oppa..." suara halus Leia menggetarkan hati pria yang sedang mendekapnya. "Tumben bangunnya duluan" Leia mendongak, melihat wajah sang suami yang tampak kuyu. "Bangun tidur kok lemes?" tanya Leia, jemari lentiknya menyentuh kantung mata suaminya yang sudah terlihat seperti kantung teh osmo filter, hitam.


"Aku ga tidur, semalaman kamu ga bisa diam, sampai salto-salto gitu. Untung aja aku belum benar-benar tertidur. Jadi aku peluk kamu kaya gini," Darrel mengeratkan dekapannya, mencontohkan bagaimana ia mengekang tubuh Leia yang mengalami somnabulisme. "Kalo ga aku giniin kamunya loss aja, kaya baut yang dol. Pake drama gelantungan di pintu toilet lagi. Padahal ga sadar kamunya, biar aku udah coba buat bangunin juga"


"Beneran?" tanya Leia yang menimbulkan kekesalan di hati Darrel. "Padahal udah lama aku ga gitu. Aku ngelindur juga ga?" tanya Leia sambil menggaruk dagu, ia membuang pandangan yang sebelumnya saling bersitatap dengan suami.


Ah, aib ku...


Leia memejamkan matanya, menggigit bibir baeahnya karena menahan malu akibat kebiasaan tidurnya yang buruk itu, mulai diketahui Darrel, suaminya.


"Ngelindur?"


Duh susah punya laki bule, asal ada kata yang ga dia tau, langsung protes. Cek gugel kek, percuma itu ponsel cap apel seprapat, kameranya empat, belom launching padahal, ga tau dia dapet dimana. Tapi malah ga dipake. Masa sih cuma pajangan doang! Cih... Leia


"Mengigau, sayang" jawab Leia lembut selembut-lembutnya. Padahal, batin nya kesal karena sering di cerca Darrel dengan pertanyaan bahasa tidak baku, yang sehari-hari Leia gunakan. Tak dipungkiri, ia juga gemas dengan ekspresi cengo suaminya ini. Duh, untung bang bule ganteng.


Eh... Tapi kok, ekspresinya biasa aja pas aku panggil sayang? Padahal pas dia yang manggil aku sayang, jantungku kelonjotan ga tau diri. Leia


"Iya, kamu terus bergumam dalam tidurmu. Seperti anak kecil, yang kebanyakan main di siang hari, sampai melupakan jadwal tidur siangnya. Jadi pas tidur malam, karena keasyikan pas bermain, lalu terbawa mimpi"


Leia menghela nafasnya. Yah, mau gimana menghindar lagi coba? Sudah sekamar, seranjang, sehanduk, cepat atau lambat suaminya itu akan tau juga baik buruk tabiatnya.


Ini saja Darrel sudah mendapatkan stempel perfect husband dari Leia, kecuali kejorokan yang hakiki, yang tampaknya sudah mendarah daging. Darrel tetap pria yang sulit menjaga kebersihan, jika tidak mendapatkan pelototan super dari Leia terlebih dahulu. Ia enggan membersihkan limbah yang di buatnya sendiri.


"Ya udah, kalau gitu oppa lanjut tidur aja. Ga ada kerjaan kan?"


"Ga ada sih"


"Ya ampun, enaknya pengangguran"


"Tapi kan saldo ATM kamu nambah terus dari aku, ga cukup?"


"Bukan gitu sih, heran aja sama kerjaan Oppa, perasaan banyak ga ada kerjanya. Sampai sekarang, oppa masih ga mau jujur tentang pekerjaan oppa ke aku. Kamu kerja apa sih sebenarnya? Dimana?"


Ck, baru sekarang penasarannya? Dulu kemana aja? Darrel


Ya elah, ribet banget, tinggal kasih tau aja kenapa sih? Ga usah pake nanya balik. Leia


"Kang service?"


"Kang montir?"


"Kang kredit?"


"Kang oppa?"


"Hihihi..."


Itulah rentetan jawaban yang dipaparkan Leia. Wanita itu terkikik geli dengan jawaban nyeleneh yang ia lontarkan. Tidak semuanya nyeleneh juga sih, kang service atau tukang service adalah prediksinya yang paling akurat menurutnya. Karena, saat pergi berkerja, Darrel suka menggunakan jumpsuit teknisi dan membawa kotak perkakas.


Darrel tertawa mendengar jawaban Leia yang di tambah kang di depannya. Tafsiran Darrel, kang yang di maksud adalah akang, sebutan abang dari bahasa sunda. Wanita kakunya ini mulai pandai bercanda rupanya, begitulah pikir Darrel.


Padahal maksud Leia bukan itu, kang yang Leia maksud itu tukang. Karena malas menyebutnya dengan lengkap jadi ia hanya mengambil satu suku kata di belakangnya saja, 'kang'.


"Aku teknisi" Itu benar kok, Darrel tidak bohong. Dia hanya tidak mengatakan pekerjaan utamanya saja. "Aku bebas memilih waktu kerjaku karena..." putus Darrel, sengaja. Entah mengapa ia suka sekali melihat wajah datar Leia yang bertransformasi menjadi penasaran.


"Apa?" pangkal hidung Leia berkerut, menanti lanjutan kalimat yang akan Darrel ucapkan.


Pria bule itu tertawa, gemas dengan tindak tanduk istrinya. Aneh, hanya bersama wanita ini ia bisa menunjukkan sifat di balik topengnya. Mulai timbul rasa kasih sayang, yang sejak lama ia lupakan. Begitupun Eden, bayi yang belum memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri itu, berhasil membuat Darrel luluh dengan kelebihannya. Apalagi kalau bukan lucu dan imut.


Darrel meraih kepala Leia, mengusapnya. Membuat Leia mengedipkan mata sebelah karena kaget. "Apaan sih? Kok ngomongnya di putus gitu? Karena apa emang?"


Leia kembali bergelayut di atas dada bidang Darrel, menyandarkan pipi di atas dada Darrel yang terdapat jantung di dalamnya.


"Karena aku bossnya" lanjut Darrel sambil mencari posisi nyaman untuk Ia dan istrinya.


"Sudah ku duga" Leia ngangguk-ngangguk karena memang tebakannya kurang lebih seperti itu.


Ah, berada di posisi ini membuat Leia malas bangkit untuk beraktivitas. Irama detak jantung Darrel yang mengalun merdu, dinikmati Leia sebagai nyanyian penyemangat paginya.


Darrel memejamkan mata, mungkin sudah tak mampu menahan kelopak matanya yang kian memberat. Ditambah liukan jemari Leia yang menari di atas dadanya membuat Darrel semakin terbuai.


"Aku suka suara detak jantung oppa" bisik Leia yang mendengar irama detak jantung Darrel yang teratur. Hembusan hangat nafas Darrel, menerpa rambut Leia ikut teratur sesuai temponya.


Leia mendongakkan kepalanya, memandangi wajah tampan suaminya yang sudah pulas terseret arus tidur.


"Kasihan... Suamiku yang baik" iba sekaligus puji Leia sambil mengusap pipi Darrel.


To be continue...