
Pagi tadi mereka habiskan dengan percintaan panas. Tak sampai belasan ronde, tapi Darrel begitu puas karena berhasil membuat Leia mengerang kenikmatan dan memintanya lagi, dan lagi. Tandanya service yang ia berikan sangat memuaskan Leia.
Dua jam permainan membuat Leia lupa dengan bayinya. Untung saja ada Yugi yang mengasuh Eden selama mereka bercinta. Setelah selesai melakukan adegan percintaan itu, Leia menghambur ke kamar baby Eden, untuk membawa bayi dengan pita di kepalanya itu ke kamarnya. Leia tidak berangkat ke studio, ia memilih menghabiskan waktunya dengan Eden dan Darrel. Bisa jadi selepas jam makan siang nanti ia bisa menggempur Darrel kembali di atas ranjang. Ah, Leia...
Darrel benar-benar menuntaskan hasrat yang ia pendam, karena menghormati dan mengasihi istrinya. Pikiran Darrel terlalu dangkal soal percintaan. Hanya karena Leia yang kesakitan saat peresmian guanya pertama kali, seorang Darrel harus rela menahan nafsunya demi Leia. Agar wanitanya tidak merasa kesakitan lagi akibat ular phytonnya.
Darrel juga memiliki alasan lain yang membenarkan tindakannya untuk menahan diri. Ia hanya membetulkan niat awalnya saja, sekedar menikahi Leia tanpa perasaan. Hanya status pernikahan, tak memiliki anak dari benihnya lebih baik. Hal itu akan menjadi titik kelemahannya. Pekerjaan sebagai agen rahasia memaksanya untuk bertindak seperti itu. Para penjahat kelas kakap yang pernah disinggung Darrel bisa saja mengancam keluarga kecilnya. ia tak sanggup, jika harus merasakan kehilangan orang terkasih lagi.
Darrel menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Wanita itu tampak lelap setelah bermain dengan Eden. Wanita cantik itu mendekap Eden dalam pelukannya. Sedangkan Eden memegang gunung kembar Leia yang hanya ditutupi jubah tidur satin. Seolah mendamba sesuatu keluar dari sana. Sesekali wajah Eden menempeli celah gunung yang memiliki bercak kemerahan akibat ulah appa-nya. Mungkin itu insting bayi untuk mencari sumber makanan baginya. Darrel tersenyum melihat pemandangan yang tak pernah ia sangka dan duga sebelumnya. Memiliki seorang istri dan anak, tak seburuk yang ada dipikirannya. Membahagiakan.
Hanya saja ia masih resah dengan keamanan dua orang yang ia cintai ini kedepannya. Sepertinya ia harus memperketat keamanan rumah dan tempat kerja Leia. Ia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan buruk sekalipun.
_________________________________
Telinga Yugi masih terasa panas karena mendengar desahan tuan dan nonanya yang sedang ena-ena. Beruntung nona kecilnya mengajaknya bermain dengan tangan kecilnya yang sedang menggapai-gapai udara. Bayi itu terlihat manis saat tertawa, giginya yang belum tumbuh menambah kegemasan Yugi untuk menciumi bayi itu.
Aah... Mana bisa Yugi membenci gadis kecil yang sedang menggenggam kelingkingnya itu. Kecemburuan karena kasih sayang nonanya terbagi menjadi sirna. Tapi Yugi tetap kesal dengan pria yang ia sebut tuan sekarang, suami nonanya.
"Cih... Aku sangat membencinya hingga ke ubun-ubun" Yugi meluapkan kekesalannya terhadap Darrel, dengan berbicara sendiri.
Yugi memandangi Eden yang sedang mengulum kakinya. Tangan mungil itu mencengkram kuat kelingking Yugi, tanpa mau melepaskannya. Seolah berkata 'Jangan terlalu kesal dengan appaku'. Yah, kira-kira seperti itu.
Yugi tersenyum, "Ya, baiklah. Kamu pemenangnya gadis kecil. Aku tidak akan terlalu membenci ayahmu lagi" Yugi menggerak-gerakkan tangan yang kelingkingnya Eden genggam. "Janji..." ucapnya seraya meliuk-liukkan kelingkingnya dalam genggaman Eden.
Bocah itu tertawa, melonggarkan genggaman kecilnya dari kelingking Yugi. Bayi itu bertepuk tangan, matanya menyipit, pipi gembulnya tertarik ke atas karena tertawa lebar. Celotehannya yang tak jelas terdengar lucu sampai membuat pria berambut panjang itu tertawa.
Pandangan Yugi beralih ke ponselnya, notif 'Remember Me' muncul di layar. "Hari ini rupanya, kenapa aku bisa lupa?" Yugi memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya. "Aku harus meminta izin hari ini ke nona" lirihnya sendu.
Ceklek... Pintu kamar Eden terbuka.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Leia datang dengan jubah tidur berbahan satin membaluti tubuhnya.
"Pergilah Yu, hari ini aku tidak ke studio. Jangan khawatir, pekerjaan rumah biar aku yang urus" kata Leia, seolah tau isi pikiran Yugi.
Mata Yugi berkaca-kaca, selama ini Leia yang selalu mengingatkan Yugi tentang hari ini. Nonanya tidak pernah melupakannya. Perhatian Leia ke Yugi tak pernah memudar, seperti apa yang ia pikirkan akhir-akhir ini. Perasaan tak suka karena kasih sayang Leia terbagi ke dua orang asing, hanya sekedar cemburu buta.
"Titip salam buat ibu mu Yu. Beliau pasti senang kamu mengunjunginya tiap tahun. Jangan membencinya lagi. Bagaimanapun ibu mu hanyalah seorang wanita lemah, yang tetap melahirkan mu meskipun tanpa suami. Kamu harus memakluminya" Leia menghampiri Yugi. Memeluk tubuh pria yang matanya sudah memerah karena menahan tangis.
"Aku terharu, kamu mau memanggilku kakak lagi" Leia menepuk pundak pria kurus itu, lalu melepaskan pelukannya. Leia lupa, kalau dirinya tidak menggunakan bra. Ia takut Yugi merasa tak nyaman dan serangan paniknya muncul. "Bersiaplah sana... Aku mau membawa Eden ke kamarku"
Yugi pun bergegas ke kamarnya, mengganti baju butlernya dengan kemeja dan celana hitam. Ia mematut dirinya di depan cermin full body yang menempel di lemari pakaiannya. Ia menggerai rambut panjangnya, kemudian menyisir rambut yang biasanya selalu terkuncir satu itu.
Yugi menghela nafas, meraih kunci yang tergantung di samping pintu kamarnya. Kakinya melangkah mantap menuju mobil pribadinya yang dihadiahkan oleh Leia. Melajukan kendaraan kesayangannya itu ke atas aspal yang kian memanas akibat teriknya matahari.
Mobilnya terhenti di badan jalan, tepat di depan toko bunga. Yugi masih di dalam mobilnya, ia dilanda keraguan, antara turun, atau tidak. Walaupun pada akhirnya pria itu turun juga.
Klining... Bunyi lonceng pintu ketika Yugi membuka pintu kaca toko bunga itu.
"Mencari bunga untuk siapa, tuan?" suara wanita paruh baya mengalihkan perhatian Yugi, yang sedang melihat bunga-bunga yang terpajang cantik.
"Ibu..." jawab Yugi dingin.
"Bagaimana dengan bunga lily?" saran wanita itu.
"Tidak, berikan aku seikat marigold" tolak Yugi.
kening wanita itu mengkerut, "Apa saya boleh menambahkan baby breath disini? Gratis..." Rasanya tidak etis, memberikan bunga yang biasanya dipakai saat membuat rangkaian belasungkawa itu kepada seorang ibu, filosofinya sebagai floweris menentang itu.
"Terserah" Yugi tak mau ambil peduli. Menurutnya bunga itu yang paling cocok, untuk menggambarkan sifat sang ibu yang kejam dan selalu membuatnya bersedih. Walaupun hatinya sangat mencintai wanita yang telah melahirkannya itu.
"Apa ibu anda orang yang kejam?" tanya floweris itu penasaran.
Yugi diam saja, tak mengindahkan pertanyaan wanita setengah baya yang sedang merangkaikan bunga untuknya.
Wanita itu hanya merasa aneh, mengapa ada seorang anak yang mau memberikan bunga yang memiliki arti duka dan kekejaman itu kepada sang ibu? Atau memang sang ibu menyukai bunga itu, makanya si anak memberikannya tanpa tau arti dari bunga itu?
Sudahlah, pikir wanita penjual bunga. Ia menambahkan bunga baby breath ke dalam buket marigold berwarna jingga rangkaiannya. Setidaknya dengan menambahkan bunga baby breath akan menambah kesan manis dalam buket yang ia rangkai. Baby breath melambangkan cinta sejati.
"Bunganya sudah siap, tuan" ucap wanita itu setelah selesai dengan buket marigold, pesanan pria berambut panjang sampai sepinggang itu.
Yugi memberikan kartu debitnya, membayar buket itu. "Terimakasih" ucapnya lagi setelah floweris itu mengembalikan kartu debitnya yang sudah digesek.
To be continue...