
Nanar kepala Leia mendengar teman yang kurang lebih sudah sepuluh tahun tak dijumpai nya, telah pergi ke hadapan yang Maha Esa. Meninggalkan bayi cantik, yang tak tau mau di panggil dengan nama apa kedepannya. Pandangan nya kosong, suara bariton membuyarkan lamunan nya.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan jenazahnya? Bukankah lebih baik melaporkan kejadian ini kita laporkan ke polisi?" Luke melepaskan tutup kepala & masker hijau yang telah terpercik darah.
"Paman Luke, saya tidak tau harus bagaimana. Ehm.. Untuk sementara jangan lapor polisi, itu membuatku bergidik!" tangannya mendekap tubuhnya sendiri, tubuhnya gemetaran. Leia terngiang kasus kematian ayahnya.
"Apa maksudmu?" Luke menaikan satu ujung alisnya.
"Ahh... Maafkan Leia paman, Leia hanya asal bicara. Pemakamannya kita ikutkan sesuai prosedur rumah sakit aja... Karena Stevi tidak punya keluarga sebaiknya kita kremasi jenazahnya. Segalanya biar Leia yang tanggung biayanya" ujarnya seraya menatap mata Luke
"Bayi nya gimana?" Luke mengerutkan dahinya.
"Mhmm... Untuk itu..." Leia berpikir keras, telunjuknya menggaruk dagunya yang tak gatal.
"Mau saya bantu mencarikan panti asuhan yang bagus untuknya?" imbas Luke, mata Leia terbelalak.
"Gila ya??!!" Ia berteriak.
Luke tak kalah terkejutnya dengan ucapan Leia. Tak lama kemudian kewarasan Leia kembali, ia menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. "Maaf..." hanya kata itu yang terucap dari bibir mungil Leia.
Luke menyeringai, "Imut sekali gadis kecilku ini. Andaikan dia menyadari kemiripan wajahnya denganku ini. Haah... Aku ingin dia segera memanggilku daddy" ia berbicara dengan hatinya sendiri. Luke kembali memperhatikan Leia, lantas ia mengelus pucuk kepala Leia. Leia tersentak, ia mendongak melihat wajah tampan Luke.
"Jadi bagaimana?" Luke masih berkutat mengelus kepala Leia seperti mengelus anak kucing yang lucu, tangan yang satunya lagi ia sembunyikan di dalam saku baju operasinya.
"Saya yang akan bawa pulang" tegas Leia.
Luke menyipitkan mata nya hingga terlihat kerutan keningnya, walaupun begitu visualnya tetap pria paruh baya yang tampan.
COLUMBARIUM ASTER
Malang sekali... Jemari putih Leia menyentuh pipi kenyal si bayi, di unyel - unyel nya dagu si bayi.
Hihi... Gemesin banget. ia terkekeh sendiri dengan perbuatannya menjahili si bayi.
Apa aku boleh memberimu nama? ia mengelus ubun - ubun si bayi dengan telunjuknya.
Untuk sementara saja, sampai ayahmu datang. Leia melenguh lemah.
Apa ayahmu tau kalo kamu ada?? ia kembali menatap iba pada si bayi.
Aku akan membantu menemukan ayahmu, hehe... Leia mennyengir saat si bayi menggenggam ibu jarinya.
Imut sekali... Mulai sekarang aku akan memanggilmu Eden. Bibir merah muda Leia merekah tertarik pipinya.
Tak lama kemudian Luke datang, ia menyentuh pundak Leia.
"Saya akan mengantar kamu pulang"
"Terima kasih paman sudah membantuku dan sudah mau merahasiakan kejadian ini"
"Yaah... Inilah gunanya tetangga. Tapi, apa kamu yakin akan mengurus bayi ini?"
"Iya, sampai Leia menemukan ayahnya"
"Kalau butuh bantuan jangan sungkan memencet bel rumahku atau menelpon ku" Luke tersenyum hangat. "Baiknya sekarang kita pergi, tidak baik untuk bayi jika terlalu lama di luar" Ia memegang kedua pundak Leia membantunya berdiri. Mereka pun kembali ke rumah masing - masing.
To be continue...