Traffic Light

Traffic Light
SI BISU



Beberapa saat setelah penglihatannya kembali normal, barulah tampak jelas wajah kecil pucat pasi, berdagu runcing dan berambut panjang yang tergerai di bahu. Tertidur di atas kursi, tepat di samping brankarnya dalam posisi duduk


Apakah wanita cantik ini adalah malaikat penolongku?? Batin si gadis malang.


Si gadis malang menyusuri tubuh seseorang yang duduk tertidur di samping bednya, dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Tubuhnya begitu kurus, wajahnya sangat kecil, cantik... Tapi kenapa payudaranya juga sangat kecil? Apa karena tubuhnya yang kurus? gadis itu heran. Pasalnya ia salah mengira Yugi, seorang wanita.


Mengerahkan sisa tenaganya, gadis itu menjulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Yugi. Baru seujung jari gadis itu menjejaki permukaan kulit, Yugi sudah terlonjak kaget dari duduknya. Membuat pria itu terjungkal ke belakang.


"APA YANG KAU LAKUKAN, HAH...??!!!" bentaknya marah. Matanya melotot hingga ingin keluar dari tempatnya.


Gadis itu sedikit tercengang saat mendengar suara menggelegar Yugi.


Apa ada wanita yang suaranya berat seperti suara laki-laki, ya? batin si gadis malang.


Yugi kembali berdiri setelah drama terjungkalnya tadi. Ia menepis celananya yang mungkin saja kotor karena debu dari lantai.


"Sial, dia pikir siapa dirinya? Berani sekali main sentuh orang yang tak di kenal!!" ucapnya marah. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya sedikit tersengal, rasionalitasnya tertinggal entah dimana. Ia sungguh mengutuk wanita asing yang ingin menyentuhnya.


Yugi memejamkan mata, mencoba menormalkan debaran di dadanya. Beginilah yang Yugi alami, saat bersentuhan dengan wanita, sadar atau tanpa sadar. Ia akan mengalami serangan panik, yang paling parah bisa menyebabkan kematian.


Hanya Leia wanita satu-satunya yang dapat menyentuh Yugi. Ada kejadian tragis di balik gangguan psikologis yang Yugi alami. Di usianya yang masih belia, ia terpaksa menjadi budak sek*s bagi pela*cur dan tante girang di tempat ibunya berkerja. Bahkan ibunya tau tentang pelecehan-pelecehan yang Yugi alami waktu itu. Tapi wanita yang melahirkan Yugi itu hanya diam dan tak menggubris Yugi yang mengemis pertolongan sekalipun.


"Siapa namamu?" tanya Yugi. Nada suaranya kembali normal setelah ia berhasil menemukan rasionalitasnya. Ada terbersit perasaan menyesal karena membentak seseorang yang menurut dokter, korban kekerasan.


Tak ada jawaban dari si gadis. Gadis itu hanya meraup udara lalu menghebuskannya. Seperti yang ia lakukan setelah drama terjungkal tadi. Ia heran gadis itu hanya diam saja. Gadis itu hanya melambaikan tangan, menyuruh Yugi agar lebih mendekatinya.


Tapi Yugi enggan untuk mendekat, ia takut gadis itu menyentuhnya lagi. "Apa? Katakan saja dari sana!!!" Yugi menunjuk gadis yang sedang terbaring lemah itu.


Barulah ia tersadar, gadis itu mungkin tanpa sengaja menyentuhnya. Mungkin gadis itu sedang kebingungan. Mungkin gadis itu hanya berniat membangunkannya. Dan mungkin mungkin lainya.


Dengan sedikit ragu Yugi mendekati brankar si gadis. Ia menarik kursi agak jauh dari si gadis, jaraknya kurang lebih sekitar satu meter antara brankar dan kursi itu. Setelah itu Yugi menduduki kursi, kaki kurusnya di silangkan ke depan, bertumpukan paha kanannya, tangannya dilipat di depan dada. "Apa?" tanyanya seraya memandang gadis yang sedang melihat langit-langit ruangan ini.


Gadis itu menoleh ke Yugi, ia tersenyum. Menampakkan kedua lesung pipinya yang dalam, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. Gadis itu menunjuk rongga mulutnya.


Jantung Yugi terasa dipelintir melihat kondisi gadis itu, benar-benar nahas. Hembusan rasa kasihan menghampiri hati Yugi sejenak. Matanya begitu terenyuh memandang rongga mulut yang langsung nampak lapang, tanpa ada lidah yang menghalangi dan beberapa berapa gigi depannya rontok.


Perasaan was-was saat dekat dengan wanita hilang seketika. Rasa kasihan itu lebih besar dibandingkan dengan ketakutannya.


Gadis ini bukan apa-apa...


Gadis ini lemah...


Gadis ini tak akan menyentuhku...


Bibir Yugi terus bergumam merapalkan kata-kata itu. Ia melerai kakinya yang menyilang di atas paha. Lalu berdiri dari duduknya seraya menarik kursi mendekat ke brankar si gadis.


Nona, saya sedang di klinik dekat yayasan makam ibu saya.


Send.


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Yugi mengeluarkan pen dari ponsel pintarnya. "Apakah kau bisa menggerakkan tanganmu untuk menulis?" tanyanya. Gadis itu menganggukkan kepala. Yugi memberikan ponsel dan pen pintarnya itu ke si gadis.


"Nama?"


Gadis berkulit hitam manis itu menuliskan namanya pada layar ponsel Yugi.


Syahura...


"Kenapa kau bisa sampai seperti ini?"


Panjang ceritanya...


Tubuh Syahura bergidik saat terlintas kenangan buruk yang terjadi padanya selama seminggu ini. Hanya karena ingin menolong pria tampan yang menabrak seekor anjing. Alhasil, nasibnya tak lebih baik dari pada anjing yang tertabrak itu.


Gadis yang memiliki rambut hitam mengkilat sepundak itu memandang Yugi lagi, sejurus kemudian ia menghapus tulisan di ponsel itu, lalu menuliskan sesuatu yang sangat ingin ia katakan sedari tadi.


Terimakasih...


Syahura memberikan ponsel Yugi kembali, ia masih tersenyum. Walaupun Yugi tau, gadis itu masih didera trauma yang akan membekas selamanya, persis seperti dirinya. Hebatnya, gadis itu bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik.


Setelah membaca tulisan Syahura, rasanya suara Yugi tak bisa keluar, otaknya seperti dimasukkan BUG yang membuat sistem kerja otaknya eror. Perasaan aneh menggelitiki hatinya. Entahlah, Yugi merasa bodoh saat ini.


Gadis itu menarik selimutnya sampai leher, perlahan tapi pasti mata sendu itu mengatup. Bulu mata lebat nan lentik semakin terlihat saat matanya tertutup seperti ini.


Ah... Malangnya, Syahura...


_________________________________


"Biar aku yang menyusulnya!" Darrel menahan tangan Leia yang hendak beranjak dari kasurnya. Barusan istrinya itu melihat pesan dari Yugi yang ia khawatirkan sejak sore tadi. Setelah berhasil menenangkan sang istri, Darrel dan Leia terlelap selama dua jam.


"Tapi..." Leia sangat menghawatirkan asistennya itu, terlihat jelas di wajahnya yang biasanya sukar dibaca.


Darrel memegang pundak Leia, menatap wanitanya dalam-dalam. "Kalau kamu ikut, Eden juga harus dibawa. Oppa ga akan biarin kamu berkendara sendirian kesana. Kamu memilih di rumah atau membawa Eden juga?" Darrel mendekap Leia, mengusap punggung wanita yang tengah khawatir itu.


Pesan dari Yugi yang mengatakan sedang di klinik membuat Leia gelisah. Yugi tak menjelaskan tentang keberadaannya di klinik karena apa. Hanya ada satu kemungkinan di benak Leia, asistennya itu sudah pasti sedang sakit.


Leia tak akan bisa tenang jika di rumah saja, ia pun memutuskan untuk membawa serta Eden. Leia berkemas keperluan Eden, sementara Darrel memanaskan salah satu mobil Leia yang memang jarang di gunakan. Darrel mengecek sistem keamanan di rumah Leia sebelum meninggalkan rumah itu. Kemudian mengirim pesan pada mertuanya agar tak menimbulkan kekhawatiran saat menemukan rumah dalam keadaan kosong lagi.


Waktu menunjukkan pukul dua lewat dua puluh tiga menit. Keluarga kecil itu berangkat untuk menjemput asisten yang sudah dianggap keluarga itu. Memastikan keadaannya baik-baik saja.


To be continue...