Traffic Light

Traffic Light
FIRST MORNING



Leia baru bangun tidur, lekas ia ke kamar mandi karena kandung kemihnya sudah penuh, siap meluber kan air seni nya yang sudah tertampung sejak semalam. Leia tak berani ke toilet saat itu, karena kecanggungan yang terjadi antara Darrel dengannya.


Sementara Darrel, masih tertidur pulas di ranjang yang Leia tiduri juga. Selepas membuang hajatnya Leia keluar dari kamar mandi dengan berjinjit. Dia tak mau Darrel terbangun dari tidurnya. Ia menuju box bayi yang Darrel pindahkan dari kamar Eden ke kamar Leia semalam. Yaahh... Bukan karena apa sih, ide itu tercetus begitu saja di kepala Darrel untuk menghilangkan kecanggungan suami istri baru kemaren itu.


Baby Eden ternyata sudah bangun, dia memelet meletkan lidahnya, memandang Leia dengan bola mata besarnya itu. Leia gemas melihatnya, segera ia menggendong Eden lalu keluar dari kamarnya dengan senyap.


Di dapur ada Yugi yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Leia menghampirinya seraya menekan tombol pada ketel listrik yang ada di meja dekat dapur untuk memanaskan air yang sudah tersedia di dalam ketel tersebut.


"Pagi Yu" sapa Leia pada asistennya itu, yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Yugi. Leia mengambil botol susu yang sebelumnya sudah disterilkan Yugi. Karena hal itu memang sudah biasa dilakukan Yugi semenjak Eden menjadi keseharian tuannya itu.


Leia agak kesulitan membuka tutup kaleng susu formula dengan satu tangannya. Dengan sigap Yugi membukakan kaleng susu itu. Leia melemparkan senyumnya pada Yugi. Leia pun mulai menyedok susu formula dan memasukkannya ke botol susu.


"Apa mau saya saja yang buatkan susu untuk Eden, nona?" tanya Yugi yang melihat Leia agak kesusahan menuang bubuk susu hingga membuat bubuk susu itu bertaburan.


"Ga usah Yu, kamu siapin sarapan aja" Leia kembali melanjutkan membuat susu untuk Eden. Setelah selesai, ia duduk di kursi gantung yang letaknya di ruang tengah. Ia menghidupkan TV dengan remote, menonton berita sambil menyusui Eden.


Darrel mengerjapkan matanya yang baru saja terbuka akibat terbias sinar matahari pagi dari jendela. Setelah sadar, ia tak menemukan Leia di sampingnya. Ia menguap sambil menggaruk perut sixpacknya, beberapa kali ia mengecap mulutnya yang terasa getir seraya memegang lehernya.


Tanpa cuci muka atau sikat gigi Darrel beranjak ke dapur hendak mengambil segelas air putih untuk melegakan tenggorokannya yang seret dan menghilangkan rasa getir di rongga mulutnya akibat baru bangun tidur. Di tengah jalannya ia melihat Leia yang sedang menyusukan Eden sambil menonton TV, ia pun menghampirinya.


"Pagi" Ucap Darrel seraya mengecup kening istrinya. Mata Leia terbelalak, otomatis ia mendongakkan wajahnya menatap Darrel. Bau-bau mulut Darrel seketika menjalar menusuk hidung Leia, ia pun menutup hidung nya dengan jempol dan telunjuknya.


"Kenapa?" tanya Darrel yang dahinya melukiskan kerutan-kerutan kebingungan.


"Jigongmu bau" jawab Leia cepat.


Leia menepuk jidatnya sendiri, lalu menepuk jidat Darrel yang memang masih di posisi merunduk karena mencium kening Leia tadi. Membuat Darrel mundur dua langkah kebelakang.


"Aauu" erang Darrel sambil menggosok keningnya.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu ke dapur gih, sarapan. Aku mau memandikan Eden dulu" Leia menggeser tubuh Darrel dengan kakinya lalu pergi untuk memandikan Eden. Tiba-tiba Leia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Darrel.


"Aahh... Kamu habis sarapan jangan lupa gosok gigi!" Lalu ia menunjuk mulutnya sambil berkata tanpa suara. Gerakkan mulutnya terbuka kemudian mengatup dengan bibir yang dimonyongkan.


"Apa dia minta cium di bibir ya? Maju-majuin bibirnya gitu" Darrel menggacak rambut hitamnya yang sudah seperti karakter Sun Goku dalam animasi Dragon ball itu.


Darrel pun berlalu hendak ke dapur, melewati kamar Neftari. Darrel tak sadar akan keberadaan Ibu mertuanya itu yang ternyata sudah memperhatikan gerak gerik anak dan menantunya dari depan pintu kamarnya.


"Ekheem" suara batuk buatan Neftari mengagetkan Darrel dalam perjalanannya ke dapur.


"Oh God!!" Ia menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. "Morning ibu" sapa nya. Ia dengan cepat merubah ekspresinya menjadi menantu manis. Darrel menautkan kedua tangan didepan dadanya kemudian memamerkan gigi gingsul dan lesung pipi yang terpatri di pipinya itu.


Neftari menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia membisikan sesuatu pada Darrel yang membuat telinga Darrel bersemu merah. Neftari pun menepuk pundak Darrel kemudian melenggang menuju dapur untuk menikmati sarapannya.


Darrel mempraktekkan gerakan mulut yang diucapkan Leia tadi, lalu menghembuskan nafas ke telapak tangan yang kemudian ia hirup sendiri aroma nafas paginya itu. "Sial... Beneran, ternyata BAU" umpatnya dalam hati. Darrel menutup kedua telinga untuk menetralkan rona merah yang bergelut di telinganya, lantas ia pun menyusul mertuanya untuk mengisi perutnya yang keroncongan.


To be continue...