Traffic Light

Traffic Light
NEW FACT



Jemari Darrel sibuk terjulur diatas keyboard dan panel-panel di perangkat peninggalan ayah mertuanya. Matanya dengan cermat memperhatikan monitor-monitor yang menampilkan berbagai kurva beserta rumus pemrograman yang muncul di layar tersebut.


Neftari juga sibuk menceritakan tentang Amrali kepada menantunya. Dulu ada seorang pria yang usianya lebih muda dari suaminya, tinggal bersama Amrali. Sampai Amrali dan Neftari menikah pun, seseorang yang sudah di anggap adik oleh suaminya itu masih tinggal bersama mereka.


Darrel menyimak cerita ibu mertuanya itu sambil berpatut pada perangkat di depannya. Secerdas itu otak Darrel mengolah informasi yang didapat dari pendengaran dan penglihatannya. Otaknya terus berputar mencerna informasi tersebut.


"Namanya Satrio?" tanya Darrel tiba-tiba.


Neftari menutup mulutnya yang terbuka akibat shock, "Ba- bagaimana bisa kamu tau?" ucap Neftari terbata-bata


Bibir sebelah kiri Darrel melengkung ke atas, "Simple" ucapnya seraya menunjukkan layar monitor yang menampilkan informasi pria yang bernama Satrio.


Ternyata Amrali banyak menyimpan data identitas pribadi orang-orang yang berada di sekitarnya. Entah apa yang maksud dari ayah mertuanya itu. Ia masih mencari tahu, dan di pastikan sesegera mungkin Darrel akan menemukan jawabannya.


Fakta bahwa ibu mertuanya tau tentang pekerjaan terselubung ayah mertua, sudah membuat Darrel terkejut. Belum lagi fakta lain yang tak kalah membuat Darrel lebih terkejut. Tentang pria bernama Satrio, yang sangat menarik perhatiannya. Ia merasa tak asing dengan pria berkulit sawo matang dan berambut ikal di profilnya. Seketika ingatannya menerawang jelas sosok pria itu.


Sungguh mencengangkan. Batin Darrel.


______________________________


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Leia membuka kunci pintu rumahnya. Kemudian mengucap salam saat masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah begitu sepi, tapi Leia acuh tak acuh dengan keadaan itu.


Leia masuk ke dalam kamarnya, membuka helaian kain yang membungkus tubuh mulusnya. Leia sudah merasa sangat lengket karena keringat, debu halus dan aroma zat pernis kayu yang menjejak di tubuh.


Setelah pertemuannya dengan Luke, Leia menyempatkan diri untuk singgah ke studio meubel nya. Menuntaskan pernisan kursi kayu pesanan customernya. Selesai dengan kerjaannya, sesegera mungkin Leia beranjak pulang.


Langkah kakinya mantap memasuki kamar mandi. Kemudian membasuh tubuhnya dengan guyuran air dan usapan sabun. Sayup-sayup terdengar lengkingan tangisan bayi yang membuatnya dengan cepat menuntaskan acara mandinya. Pikirnya di rumah tak ada orang karena saat masuk tadi rumah dalam keadaan terkunci.


Astaga! Baby Eden! Leia.


Leia melilitkan handuknya sembarang, bahkan ia lupa membasuh busa shampo di kepalanya. Leia lari terbirit-birit seraya memegang tautan handuknya.


Sementara di dalam rubanah, alat monitor boneka salju di saku Darrel menyuarakan tangisan Eden yang melengking. Membuat Darrel tersentak dan hendak berlari ke arah putrinya berada.


Namun tangan kekar itu di tahan oleh Neftari, wanita paruh baya itu menggeleng, "Biar ibu saja. Kamu bereskan semua ini" Neftari menunjuk peralatan yang sebelumnya diotak-atik oleh menantunya. "Kunci pintunya, setelah itu menyusul lah" Neftari memberikan ring kunci gembok rubanah kepada menantunya.


Darrel mengangguk, kemudian membereskan perangkat canggih milik mendiang ayah mertuanya. Ia menyalin informasi-informasi yang menurutnya penting dan memasukkannya ke dalam storage miliknya.


Neftari berpapasan dengan Leia yang juga hendak keluar dari kamarnya. Neftari menahan lengan Leia. Kemudian menilik putrinya dari atas sampai bawah. "Tuntaskan dulu mandi mu. Eden biar ibu yang urus" titah Neftari pada putrinya.


Leia mengangguk menampilkan ekspresi yang sama dengan Darrel tadi saat terdengar suara Eden menangis melalui alat baby cry, Neftari terkekeh geli.


Kalian sungguh berjodoh. Mirip sekali. Neftari.


______________________________


Darrel sudah selesai dengan rentetan peralatan canggih itu. Ia mematikan tuas generator listrik di dalam rubanah, dilanjutkan dengan mengunci kembali gembok-gembok yang memalang pintu rubanah. Bergegas ia menyusul mertuanya yang mungkin sedang menenangkan bayinya. Ya, bayinya.


"Bu--" ucap Darrel terputus saat sampai di ruang keluarga. Matanya menangkap sosok istrinya yang sedang duduk bersebelahan dengan ibu mertuanya.


"Loh! Oppa ada di rumah? Dari tadi di mana? Kok ga kelihatan sih? Padahal tadi Eden nangisnya kejer loh" celoteh Leia.


Neftari melihat putrinya dengan tatapan takjub, pasalnya semenjak ia pulang ke tanah air, Leia tak pernah berceloteh seperti itu. Putrinya itu berubah menjadi pribadi yang dingin dan tak banyak bicara.


Leia melihat peringai ibunya yang aneh, kenapa ibu nya itu harus memasang ekspresi melongo seperti itu? Memalingkan matanya kearah Darrel seolah meminta penjelasan. Darrel hanya mengendikkan bahunya. Lalu, Leia kembali melihat ibunya. "Ibu kenapa?"


"Sedang takjub" balas Neftari nyelos, dengan mulut yang di biarkannya terbuka. Eden terlihat menjulur-julurkan tangannya seakan hendak menutup mulut eyangnya.


Entah apa yang dipikirkan ibunya itu, Leia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya melihat putrinya yang masih berusaha menjulurkan tangan mungilnya ke dagu eyangnya. Ternyata bukan hanya Leia yang berubah, ibunya juga sudah berubah, semakin petakilan.


Darrel hanya tertawa melihat ibu dan anak itu saling melempar pandangan aneh. Terasa hangat hatinya melihat interaksi istri dan ibu mertuanya. Beruntung ia masuk ke dalam keluarga harmonis yang sempat tercerai-berai akibat tragedi yang menimpa keluarga itu.


______________________________


Beberapa waktu lalu Leia sudah pulas terlarut dalam tidurnya. Darrel sedang membersihkan dirinya, bersiap untuk tidur menyusul sang istri. Darrel mengelap wajahnya dengan handuk kecil, kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman untuk tidur.


Sebelum naik ke atas kasur, Darrel memasangkan bedrail di sisi Eden. Karena bayi itu ikut tidur di ranjang yang sama dengan Darrel dan Leia.


Saat memasang pagar kasur itu, tiba-tiba istrinya tersentak kaget, hingga membuat kasur itu bergoyang. Leia langsung tersadar, wanita cantik itu baru saja mengalami hypnic jerk*. Jantung Leia berdegup begitu kencang, dadanya naik turun mengikuti alur nafasnya yang menggebu.


"Kamu kenapa?" tanya Darrel setelah usai memasang bedrail di sisi samping dan bawah kaki Eden. Pria itu menghampiri sisi yang berlainan dengan Eden, lalu duduk di tepian ranjang sebelah istrinya. Darrel memurus kedua pundak hingga lengan atas Leia.


"Mimpi jatoh" kata Leia, wanita itu sedang berusaha menormalkan diri dari keterkejutannya.


"Kena gangguan tidur kamu. Ya udah sini lanjut tidur" Darrel menepuk lengan dengan otot bisepnya yang menggembung.


Leia menurut, ia tidur di atas lengan kekar suaminya. Menghadap dada bidang Darrel yang begitu keras, Leia menenggelamkan wajahnya kedalam dekapan Darrel. Terhirup aroma bergamot wood bercampur apel segar dari tubuh suaminya, wanginya yang kalem itu membuat Leia relax.


Diantar dengan belaian super lembut di rambut serta punggung, perlahan kesadaran Leia menguap ke udara. Wanita itu terlelap kembali, di susul Darrel yang sudah menghentikan aktifitas belaiannya.


*Hypnic Jerk\=Gangguan tidur yang menyebabkan kondisi badan yang terkejut di awal tidur, akibat otak yang salah mengira, seolah terjatuh dari ketinggian.


______________________________


To be continue...