
Tak ktak...
Tak ktak tak...
Ktak...
Heningnya suasana membuat suara ujung bolpen yang ditekan berulangkali, mendominasi ruangan gelap gulita itu.
Genangan air yang terpantul sinar rembulan, menampakkan siluet pria bertubuh tinggi, sedang duduk di kursi kayu seraya menyilangkan kaki jenjangnya dengan anggun.
Khik khik khik...
Kekehan pria itu terdengar begitu menyeramkan, sesekali ia menyesap air liurnya yang hampir terjatuh dari rongga mulutnya. Ia merunduk, memegangi perutnya seolah menahan gema tawanya. Tangan pria itu memegang bolpen seperti memegang sebatang rokok, sesekali mengetuk benda itu di kepalanya.
"Kau tau? Aku sewaktu kecil pernah di tusuk oleh ibuku menggunakan benda ini" ia kembali memainkan ujung bolpen dengan intens, sehingga suasana jadi semakin mencekam.
"Kau tidak penasaran, saat ujung ballpoint ini menusuk jaringan kulitmu itu?". Pria jangkung itu beranjak dari kursinya mendekati seseorang yang sudah bergetar ketakutan sedari tadi.
"Aaah, sepertinya kulitmu terlalu tebal. Aku rasa kau tak bisa merasakan sensasinya. Sayang sekali, ckckck" Ia menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat kecewa.
Mata pria itu menelaah seluruh tubuh orang yang sedang gemetaran itu tanpa cela. Bola matanya bergerak halus tanpa patahan seperti sedang meninting mangsanya.
Tangan pria itu dengan apik mulai melucuti pakaian di tubuh orang itu. Perlahan, dengan lembut ia menurunkan resleting dan kancing yang mengunci balutan kain di tubuh orang itu. Pria itu mulai melukis dengan bolpen yang tadi ia mainkan ke tubuh polos orang itu. Dengan cahaya temaram rembulan.
Orang itu sudah disuntik anastesi regional di sumsum tulangnya. Sehingga, orang itu tak bisa bergerak atau berteriak walaupun dalam keadaan sadar karena hanya syaraf motoriknya yang terbius.
Si pria jangkung menggambar pola-pola aneh di sekujur tubuh orang itu, seperti pola untuk melakukan operasi plastik.
Selanjutnya, hanya terdengar suara jangkrik yang bersorak-sorai karena guyuran hujan, dan suara tertawa aneh dari pria jangkung. Entah apa yang dilakukannya dengan orang yang ketakutan setengah mati itu.
_______
Leia dan Darrel saat ini sedang berada di apartemen Darrel. Hari sudah begitu larut, belum lagi guyuran hujan semakin membuat ibu satu anak itu semakin gusar.
Sang suami memeluk istrinya yang sedang termangu menatap keluar jendela besar yang bersebrangan dengan deretan lukisan Pablo Picasso. Leia bergeming tanpa memperdulikan pelukan hangat yang suaminya salurkan.
"Lima menit lagi kita pulang. Sepertinya harabeoji sudah tertidur" bisik Darrel ke telinga Leia, ia menyeruk kan kepalanya di leher putih Leia. "Jangan khawatir, Eden aman bersama mereka. Bukankah di rumah juga ada Yugi yang mengawasinya? Tunggulah sebentar, aku akan mengecek harabeoji dulu" Darrel mencium rahang yang berdekatan dengan telinga Leia, dan berlalu ke kamar yang ditempati kakek Kim.
Semenjak dipulangkan dari rumah sakit, kakek Kim begitu manja dengan Darrel. Pria renta itu seakan enggan berjauhan dengan cucunya itu. Sedari tadi beliau menahan Darrel agar tetap bersamanya. Maklumi saja, beliau rindu.
Leia menghela nafasnya, Darrel tak mengerti kekhawatirannya sebagai seorang ibu. Leia meninggalkan anaknya selama hampir dua belas jam. Leia begitu merindukan surganya itu. Ya, bagi Leia bayi mungil itu adalah surganya, itulah sebab Leia menamainya Eden.
Dengan langkah putus asa, Aera kembali ke kamarnya. Dadanya seperti tersayat silet, sakit. Nafasnya begitu berat untuk dikeluarkan, sesak. Air matanya luluh begitu saja tanpa peringatan. Ini pertama kalinya bagi Aera, apakah ini cinta?
Jam menunjukkan pukul dua belas malam, Darrel baru saja keluar dari kamar kakek Kim. Ia melihat Leia yang sedang tidur meringkuk memeluk kakinya di sofa. Sepertinya wanita itu sedang berusaha menstabilkan suhu tubuhnya dari hawa dingin hujan.
Darrel berpikir sejenak, dengan langkah besar ia menuju sofa yang menjadi pembaringan Leia. Mengeluarkan kunci mobilnya dari saku dan menggantungkan kunci itu di salah satu jemarinya, untuk memudahkannya membuka kunci mobil. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Leia agar tak menggangu lelapnya. Darrel menggendong Leia di belakang tubuhnya. Ia pun berlalu meninggalkan apartemennya.
Hujan tak menjadi penghalang agar bisa pulang ke rumah Leia. Darrel tau keresahan yang Leia rasakan seharian ini. Ia tak mau lagi menunda kepulangannya untuk mempertemukan seorang ibu yang merindukan anaknya. Timbul rasa iba saat melihat raut wajah istrinya yang muram.
Leia terbangun karena terkejut oleh suara pintu mobil yang ditutup. Ia masih di ambang kesadarannya, tiba-tiba pintu mobil di sampingnya terbuka. Celana Darrel sedikit basah karena terciprat oleh rintikan hujan biarpun ia sudah menggunakan payung.
"Sayang, sudah bangun? Kita sudah sampai di rumah"
Deg deg...
Detak jantung Leia spontan berpacu, kata 'sayang' yang Darrel ucapkan tadilah, yang menjadi penyebabnya. Seketika kesadaran Leia pun kembali, ia membuka sabuk pengamannya dengan cepat dan hendak keluar dari mobil. Tapi, Darrel menghentikan Leia.
"Sebentar... Kamu pegang payung ini, biar aku yang menggendong mu. Payungnya hanya ada satu" terbit sunggingan senyum Darrel yang membuat wajahnya kian bersinar di malam gulita dan hujan ini.
Leia hanya mengangguk tanpa bisa menolak pesona suami bulenya itu. Ia memegang ganggang payung yang di berikan Darrel dan melingkarkan tangannya di leher Darrel, kakinya juga melingkar di pinggang atletis suaminya.
Tanpa sengaja Leia meraba punggung suaminya. Punggung pria itu sudah kebasahan karena menggendong tubuh Leia dari dalam mobil tadi. Leia memposisikan payungnya agar rintikan hujan itu tidak menerpa suaminya lagi.
Darrel menggendong Leia sampai masuk ke dalam rumah, saat Leia meminta untuk di turunkan, Darrel menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan permintaan Leia. Leia hanya pasrah menikmati tubuh suaminya lewat pelukan, ia hanya mengeratkan gelayutan kaki dan tangannya seperti bayi koala yang sedang di gendong ibunya.
Sebelum masuk ke kamarnya, Leia dan Darrel singgah ke kamar putrinya. Pak Handoko, Jeki, dan Yugi sedang tidur di kasur mengelilingi baby Eden yang sudah pulas tertidur. Ada kelegaan di hati Leia saat melihat pemandangan itu.
Benar kata suamiku, mereka melakukan yang terbaik. Leia
Darrel menutup pintu kamar Eden, saat hendak berbalik menuju kamarnya. Leia dan Darrel di kagetkan dengan sesosok perempuan bergaun tidur putih, sedang berjalan mendekati mereka. Darah Leia seketika bedesir dengan cepatnya memacu degup jantungnya.
Leia menyelipkan wajahnya di tulang selangka milik Darrel. Tubuhnya gemetar ketakutan, pikirnya itu hantu penunggu rumahnya. Sedangkan Darrel hanya sebentar saja kagetnya, setelah itu ia berpikir siapa gerangan yang sudah mengagetkan dirinya dan Leia, sampai membuat istrinya gemetaran seperti ini.
Padahal selama ini, Leia baik-baik saja tinggal sendiri di rumah. Jiwa lemahnya meronta, meminta untuk segera dipamerkan dihadapan Darrel. Sebenarnya Leia bukan orang yang penakut. Tapi entahlah, Leia hanya ingin menunjukkan sisi lemahnya dihadapan suami saja.
"Dari mana saja kalian?"
To be continue...