
"OH MY GOSH!! Apa kita sedang menonton live straming film biru??"
Teriakan Marriane menyurutkan hasrat membara sepasang suami istri itu. Darrel memandang kesal ke arah empat orang yang telah menggangu ritual perdananya sebagai lelaki sejati.
"Shit" Darrel mengumpat kesal seraya mengacak rambutnya.
"Shut!! Oppa!! Jangan mengumpat ih, Eden bisa dengar!!" ucap Leia ngegas, seraya menutupi telinga anaknya.
"Ups.." Darrel mengulum bibirnya.
"Come on babe, lagian ga mesti sekarang kan? Ntar malam juga bisa, ckck..." Marriane menginterupsi percakapan suami istri itu tiba-tiba. Dia berjalan mendekati adik tirinya, ia sedikit mendorong tubuh Leia menjauh agar bisa memeluk adiknya. "Kau tidak merindukanku adik gembul?" Ann berkata dalam pelukan Darrel.
"Lepaskan!!" Darrel mendorong Marriane, ekspersinya berubah menjadi dingin.
"Tsk... Apa kau masih membenciku?" Ann melepaskan pelukannya.
"No"
"Lalu??" Ann memiringkan kepalanya, berekspresi imut.
"Cuma ga mau lihat wajahmu saja" kata Darrel santai, ia berjalan melewati kakaknya sambil menggandeng Leia.
"Oppa, tunggu bentar" Leia menarik tangan suaminya yang membuat langkah kaki Darrel terhenti.
"Aku harus menyambut kakak ipar, biar gimanapun aku tuan rumah ini"
Darrel menepuk jidatnya, "Oh iya... Baby Eden siniin biar oppa yang jaga" Darrel mengambil Eden dari gendongan kain Leia.
"Kalian ngomong apa sih? English please..." rengek Marriane yang tak mengerti bahasa yang digunakan Leia dan Darrel.
Leia menggelengkan kepalanya dan memutar matanya malas, baru pertama bertemu saja kesannya dengan Marriane sudah tidak bagus. Jujur saja Leia sedikit tidak menyukai wanita yang disebut kakak iparnya itu.
Sedangkan Darrel sama sekali tak memperdulikan kakak menyebalkan nya itu. "Oppa ke kamar dulu ya sayang" Darrel mengecup kening Leia. "Hati-hati sama singa betina itu, dia galak" bisik Darrel pada istrinya. Seringai tipis tersungging di wajah Leia.
Dia belum tau siapa aku. Leia
Marriane memasang ekspresi cengo dengan mulut membentuk huruf O, matanya mendelik ke arah orang tuanya. "Mom, dad, sekarang channel nya udah ganti jadi drama korea yah? Ugh..." Ann menutup mulutnya, ia merasa akan muntah. Semua orang di sana hanya berpikir Marriane hanya mengolok-olok adik iparnya itu. Namun, tanpa komando, byur... Cairan bening keluar begitu saja dari mulutnya. Marriane memegang perutnya yang mual, dan byuurrr, ia kembali memuntahkan cairan putih itu kembali.
Mabok udara ya mbaknya? tanya Leia dalam hati.
Leia menepuk-nepuk punggung Marriane, mommy tampak kaget, ia seliweran mencari aroma mint yang mungkin akan mengurangi mabuk anaknya.
"Mom, pergi ke kamar minta minyak kayu putih sama oppa" ujar Leia pada mertuanya.
"Miyak kayou putie??" ucap katie dengan logat bulenya mengikuti kata Leia.
Leia mengangguk di susul Katie yang ikut mengangguk juga, wanita paruh baya cantik itu bergegas ke kamar menantunya meminta hal yang di sebutkan Leia tadi kepada Darrel.
A few minute latter...
"Nih, nih... I got it" Katie memberikan minyak kayu putih pada Leia. Leia mengoleskan itu ke tengkuk kakak iparnya dan mulai mengurutnya.
"Is it better?" tanya Leia pada Marriane.
Ann melambai-lambaikan tangannya ke udara mengisyaratkan kondisinya sudah membaik. Marriane memandang penuh arti pada tunangannya, tampak gurat senyum terukir di wajah Marriane. Hanya Leia yang melihat gurat wajah Ann saat itu, sedangkan yang lain tak memperhatikannya.
Di dalam kamar, tampak Darrel tengah sibuk dengan tabletnya hingga ia tak menyadari keberadaan Leia yang sedang mendekat ke arahnya. Leia yang penasaran, mengintip di balik punggung suaminya. Seketika wajah Leia berubah masam, ia memunggungi suaminya dan menghentakkan bokongnya di atas kasur tepat di belakang suaminya. Eden yang baru saja terlelap jadi terbangun akibat guncangan di kasur, Eden mencebikkan bibirnya bersiap akan mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu menangis. Darrel melihat heran dengan tingkah istrinya.
Byaarr... Ambyar sudah...
Lengkingan suara Eden memenuhi ruangan kamar, mungkin akan terdengar sampai keluar. Leia panik karena Eden tak kunjung berhenti menangis, ia juga merasa bersalah sebab Eden menangis akibat ulahnya.
"Oppa... Help me" ucap Leia memelas sambil menatap Darrel dengan mata bulatnya.
"What's wrong with you Leia?" tanya Darrel pada Leia seraya mengambil alih tugas menenangkan Eden. Di usap-usap nya punggung Eden sambil mengayunkan tubuhnya.
"Hmmpph" Leia mencebikkan bibirnya. "Aku mandi dulu" Ucapnya lalu melenggang ke arah kamar mandi.
"Hehe, wanita dingin itu sedikit mencair juga akhirnya" gumam Darrel, ia menatap punggung Leia yang hendak ke kamar mandi. Kemudian ia kembali fokus untuk menenangkan Eden yang kian menangis.
Susah payah Darrel menenangkan sekaligus menidurkan bayinya, ia berkutat dengan agahan dan guyonan yang ia buat agar Eden berhenti menangis. Hampir 20 menit berlalu, akhirnya baby Eden terlelap dalam tidurnya, mungkin karena kelelahan juga akibat menangis kejer. Di letakkan nya makhluk kecil tak berdosa itu kedalam box bayi dengan perlahan. Darrel merebahkan dirinya di atas kasur, sesekali ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.
"Sedang apa wanita itu di dalam sana? Masa mandi memakan waktu sampai 20 menit sih?" Gumam Darrel.
Cklek...
Pintu yang jadi perhatian Darrel sedari tadi terbuka, tampak Leia keluar dengan bathrobe yang menutupi tubuhnya. Aroma camelia yang familiar menyeruak ketika bilik itu terbuka. Darrel yang tadinya rebahan, mendudukkan dirinya menghadap istrinya yang terlihat menggoda setelah mandi.
"Bau mu enak" celetuk Darrel dengan polosnya.
Jantung Leia seketika berdegup kencang, ia membuang mukanya ke sembarang arah, asalkan tak menghadap suaminya. Leia langsung ngacir untuk mengambil underware sekaligus daster yang belum lama di belinya agar aura keemak-emakan nya terlihat. Setelah itu ia kembali ngacir ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
"Kenapa balik ke kamar mandi lagi? Di sini aja gantinya" teriak Darrel menggoda istrinya.
Braak
Leia membanting pintu kamar mandinya karena malu, Darrel terkekeh geli melihatnya.
Di sisi lain kamar, tanpa mereka sadari, Eden kembali mencebik karena terkejut dengan teriakan dan bantingan pintu orang tuanya yang lagi-lagi mengacaukan tidur siangnya.
Pecahlah tangisan bayi yang baru saja merayakan momen tummy time nya itu. Darrel menepuk jidat nya.
"Mami!! Sekarang gantian tenangin baby Eden!!" teriak Darrel pelan namun masih bisa di dengar oleh Leia.
"Sebentar" jawab Leia.
"Ini semua gara-gara kamu!" ujar Darrel.
Ceklek...
Pintu kamar mandi kembali terbuka, Leia keluar mengenakan daster berlengan pendek dengan panjang selutut. Ah, kebetulan dasternya memiliki potongan leher yang rendah sehingga kulit payud*ra nya yang putih terlihat menyembul keluar.
Glek...
Darrel menelan salivanya, jakunnya naik turun memperhatikan visual istrinya.
"Leia, sebaiknya kamu menenangkan yang ini saja" Darrel melirik benda yang berada di bawah pusarnya. "Biar aku yang menenangkan Eden" dengan sigap ia beranjak ke box bayi untuk menenangkan bayinya.
To be continue...