Traffic Light

Traffic Light
NEW FACT



Sore itu, Neftari disusul Katie, duduk di kursi jati yang berada di ruang tamu. Lantaran lelah mencari penghuni rumah yang didominasi material kayu itu, tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Perasaan bingung bercampur khawatir mengelabuti pikiran kedua ibu itu.


Sepulangnya dari perjalanan dinas yang melelahkan, mereka berdua bukannya istirahat, malahan harus menambah beban pikiran mereka. Yang satu memikirkan hal mengganjal tentang keluarga kecil putrinya, yang satu lagi memikirkan kemungkinan anak gadis sulungnya mengandung sebelum menikah. Yaahh, intinya kedua ibu itu sedang memikirkan putri mereka.


Lenyap dalam bara pikiran, kedua wanita itu dikagetkan dengan kemunculan sosok Handoko di balik pintu dengan pakaian santainya.


"Pak Handoko!" seru Neftari langsung berdiri, saat melihat pria yang kini menjadi pengasuh cucunya tersebut.


Pria itu tersentak kaget di ambang pintu, ternyata tuan rumah sebenarnya sudah pulang. "Nyonya" Handoko menghampiri Neftari dan menyapanya dengan sopan.


"Kenapa rumah sepi? Lalu, kenapa pintu rumah ini terbuka padahal tidak ada penghuninya? Eden mana?" banderol Neftari dengan berbagai pertanyaan.


"Ituu..." Handoko hendak menjawab, namun terpotong oleh suara serak nan berat milik Darrel.


"Ibu, Katie... Kapan nyampenya?" Darrel menyamankan letak gendongan Eden. Sebelumnya, Darrel membawa Eden menikmati senja di taman yang terletak di kawasan rumah Leia.


Kurang lebih lima belas menit yang lalu, Handoko mendapati dirinya seorang diri di dalam rumah. Merasa di bosan, Handoko kemudian menelpon Darrel untuk menanyakan keberadaannya. Handoko pun berniat menyusul Darrel ke taman, padahal Darrel sudah mengatakan akan segera pulang. Tapi, orang tua keras kepala itu memang pembangkang, dengan tergesa Handoko keluar dari rumah. Di pertengahan jalan, ia baru teringat belum mengunci pintu utama rumah, jadilah ia kembali lagi dengan niat menutup pintu. Ia pun mengurungkan niatan menyusul Darrel karena mendapati sosok pemilik rumah sudah pulang dan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.


Aneh, reaksi ibu mertua Darrel tiba-tiba menjadi kaku dan canggung. Seolah ada sesuatu yang membuatnya sukar untuk menjawab pertanyaan menantunya.


Tapi sepertinya Darrel tau penyebab reaksi mertuanya tersebut. Darrel menarik sudut bibirnya, "Ibu mau ngomong berdua dengan aku?" tanya Darrel ambigu, yang hanya dimengerti oleh dirinya dan mertuanya saja.


Neftari menatap manik biru pekat itu, seolah sedang berbicara dengan tatapan matanya. Darrel paham maksud dari tatapan mertuanya itu.


"Darl, di mana gadis sulung ku?" suara itu milik Katie yang tengah bimbang dengan putrinya.


"Em... Katie..." ucap Darrel ragu.


"Perasaanku tak enak" ujar Katie saat mendengar nada keraguan dari putra sambungnya. Ia mengusap dadanya yang tiba-tiba berdebar tanpa alasan. "Tak perlu kau sembunyikan Darl, jangan ragu. Beritahu mommy!!" Katie membuka baguette bag kenamaan Dior, untuk mengambil benda pipih penemuannya di paviliun tadi. Katie pun menunjukkannya pada Darrel.


Aaah... Bocah sialan yang pintar! Tanpa di tebak pun Darrel tau siapa pelaku yang sengaja menaruh barang bukti itu. Yugi, sialan! Sudah pasti ini ulahnya, entah apa maksud bocah itu. Kemarin, Yugi bertugas mengarahkan pegawai jasa kebersihan yang Darrel panggil untuk membereskan bekas insiden kemarin. Mustahil jika ada yang tertinggal, kecuali memang di sengaja.


Baiklah, Darrel tak bisa mengelak, Katie berhak tau keadaan putrinya yang keguguran. Namun, ia tetap merahasiakan tentang perlakuan kasar Nick ke Marriane. Soal itu ia sudah berjanji pada Marriane untuk tidak memberitahukan insiden itu ke keluarganya, biarlah itu menjadi urusan kakak sulungnya.


"Dia keguguran"


Dua kata yang meluluh lantahkan seluruh tenaga di kakinya, tubuh Katie melorot kebawah tanpa daya. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. "Oh God" lirihnya, sebelum isakan keluar tanpa perintah.


"Calm down Katie, please" Darrel memeluk Katie, menenangkan wanita yang turut mengasuhnya sejak umur empat tahun hingga ia remaja itu.


"Bawa aku pada putriku" pinta Katie di antara celah tangisnya yang pilu.


Darrel mendongak, menatap pimpinan nya, Handoko. "Om, anterin mommy ke rumah sakit, tolong" mohon Darrel pada Handoko.


Handoko pun pergi dengan Katie ke rumah sakit menjenguk Marriane. Tinggal lah Neftari, Darrel, dan Eden yang mulai mengantuk di gendongan appa-nya.


Hening...


Neftari masih setia di peraduannya, di atas kursi jati yang ia beli bersama suaminya saat awal pernikahan. Darrel yang merasakan putrinya telah tertidur di bahunya, berlalu ke kamar Eden, meninggalkan ibu mertuanya di ruang tamu.


Darrel meletakkan tuan putrinya di dalam box yang di tutupi kelambu. Darrel mencium pipi tebal Eden yang menggemaskan. Sejurus kemudian pria bule itu merapihkan kelambu yang terjuntai agar putrinya tidur nyenyak tanpa gangguan nyamuk.


"EL" panggil Neftari pelan dari ambang pintu., takut cucunya terbangun.


Darrel menoleh ke arah pintu, mertuanya sedang bersender di frame pintu sambil melipat tangannya di depan dada.


"Leia di mana?" tanya Neftari.


"Pergi sama uncle Luke, pak dokter tetangga sebelah" jawab Darrel sekenanya.


"Why?" Neftari bingung, sedekat itukah hubungan putri dan sahabatnya sampai pergi bersama?


Darrel mengangkat bahunya tanda tak tau. Neftari memijit pelipis kanannya, "Haah... Aku ingin bicara denganmu. Follow me!"


Darrel menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengaktifkan baby cry kenamaan Beurer, alat untuk memonitoring bayi jika menangis. Darrel menaruh benda kecil berbentuk boneka salju itu ke dalam box bayi Eden. Kemudian mengantongi pemantau dengan bentuk yang sama di kantung celananya.


Setelah itu Darrel mengikuti mertuanya ke belakang rumah, tepatnya di gudang yang berdekatan dengan paviliun. Di samping gudang terdapat rubanah yang sungguh tak Darrel sadari keberadaannya. Padahal ia sudah lima bulan berada di rumah itu.


Neftari mengurai rerumputan dan tumbuhan menjalar yang menutupi pintu rubanah itu. Mengeluarkan ring kunci, dari dalam saku celana jeans yang dikenakan ibu satu anak itu. Diraihnya gembok yang memasung pintu rubanah itu, satu persatu di bukanya kunci gembok yang berjumlah 6 itu.


Ceklek... Terdengar deritan engsel yang berkarat dari pintu itu.


Gelap... Cahaya senja bahkan enggan memasuki ruangan itu.


Hanya tangga menuju ke bawah yang terlihat dalam keremangan itu. Bermodalkan pencahayaan dari senter ponsel, kaki yang tak begitu panjang milik Neftari mulai menitih anak tangga di dalam rubanah, disusul kaki super panjang dari pria berkebangsaan Belgia itu.


Sesampainya di dasar lantai, Neftari menarik tuas generator listrik. Bolham-bolham mulai berpenjar di dalam ruang bawah tanah rahasia, entah siapa pemiliknya. Mata Darrel terbelalak sempurna saat melihat isi dari ruangan itu. Hampir semuanya, Darrel mengenali alat yang terdapat di dalam ruangan itu.


"Ibu..." gumam Darrel yang masih terkejut.


Darrel memandangi wajah ibu mertuanya, pria itu memasang raut penuh tanya dengan maksud dan tujuan dari ibu mertuanya itu memperlihatkan semua ini.


"Ayah mertua mu, ghost agen" satu pernyataan telak yang menjelaskan semuanya.


To be continue...