
"Hemm... Kita ketemu lagi" gumam seorang pria dengan setelan jas rapi seraya menatap Leia sambil memegang dagunya.
......
Suara langkah kaki Leia terdengar gopoh saat melewati koridor universitas Benua Samudra.
BRUUAKK... (Leia bertabrakan dengan orang asing)
"Akh... Aduh... Maaf, maaf saya sedang buru-buru" Leia merapikan isi tas yang bertaburan. "Ini tas anda, apa anda terluka?" tanyanya pada orang yang bertabrakan dengannya.
"Tidak masalah, anda bisa pergi. Barusan anda bilang sedang buru-buru" sambil merapikan dasi yang sempat di tarik Leia ketika bertabrakan.
"Maafkan saya, Maafkan saya" Leia menunduk.
Saat di kelas tadi Leia mendapat telpon dari kepolisian mengenai kasus Amrali. Ia bergegas ke kantor polisi untuk menjelaskan kronologi saat dia menemukan Amrali. Dia juga ingin tau apa maksud dari omongan Neftari saat pemakaman Amrali.
.....
"Ini... Apa maksudnya pak detektif? Kejadiannya tidak seperti ini!!! Saya lihat sendiri!!! Siapa? Sebenarnya siapa yang berbuat seperti ini?" tanya Leia pada detektif yang menangani kasus ayahnya.
"Kita sedang berusaha untuk memecahkan kasus ini. Pelaku sangat pro, dia tau benar kondisi keluarga anda, saat ini belum ada bukti yang kuat. Lalu, ada kemungkinan pelaku masih di lokasi saat nona Leia tiba. Pelakunya seperti ingin bermain, mungkin kepulangan nona Leia tidak termasuk dalam skenarionya. Makanya dia merubah permainannya. Oleh karena itu nona Leia, apa mungkin anda mengingat hal yang mungkin jadi petunjuk untuk kasus ini?" ujar detektif itu.
Leia shock dengan penjelasan polisi. Pantas saja keterangan Neftari berbeda dengan Leia. Kalau memang seperti itu, kemungkinan yang dikatakan polisi benar. Pelakunya masih ada saat Leia tiba d rumah saat itu. Selanjutnya, Leia mengikuti segala macam tes forensik untuk melihat apakan Leia saat itu pingsan karna shock atau karna obat bius atau hal lain yang mungkin bisa jadi bukti. Meskipun sudah 2 hari berlalu tapi Leia berharap itu bisa menjadi petunjuk untuk kasus ayahnya.
.......
Warna wajah Leia memudar, banyak pikiran yang keluar masuk otaknya. Tubuhnya gemetaran, siapa dia? kenapa?
Ring... Ring... Ring... (dering handphone)
"Selamat siang, apakah benar saya bicara dengan keluarga pak Amrali?"
"Selamat siang, iya benar saya anaknya. Mohon maaf ini dengan siapa?"
"Saya dari EDM Construction ingin menyampaikan, proyek pembangunan hotel di Grand Hill akan dihentikan. Saya juga ingin menanyakan bagaimana kelanjutan data spesifik pekerjaannya? Sebab saya telpon ke kantor tidak ada jawaban"
"Baiklah, saya tunggu kelanjutannya. Anda bisa menghubungi nomor ini"
"Iya, terimakasih"
Tut... Tut... Tut... (terputus)
"Ya Tuhan apa lagi ini? Aku harus ke kantor ayah!"
Sesampainya di kantor Amrali, Leia bertanya dengan para pegawai. Mereka juga berkeluh kesah tentang kelanjutan perusahaan Amrali. Perusaan mengalami pailit, banyak investor yang menarik modalnya karena Amrali sudah tiada. Tidak ada yang bisa menghandle perusahaan selain Amrali. Leia juga tidak tau manjemen perusahaan. Pegawai juga sudah banyak yang resign. Leia kebingungan, yang dia tau hanya mendesain.
Tiba-tiba semuanya jadi runyam. Langkah kakinya menjadi berat. Setibanya di rumah, Leia melihat ibunya meratapi foto mendiang ayahnya. Wajah Neftari sendu, ia mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
"Eh Leia, sejak kapan kamu di situ?Kamu udah makan nak?" Neftari mengusap air matanya seraya meletakkan pigura foto pernikahannya.
"Ah, Leia baru nyampe kok bu, belum bu"
"Duuh, kamu jangan sampe lupa makan dong!! Tunggu bentar ibu siapin"
"Iya bu"
Neftari pun beranjak ke dapur hendak memasakkan sesuatu untuk putrinya itu.
"Sayang, ibu lupa. Ibu belum belanja, waktu itu kan ibu mau nginep d rumah eyang. Jadi ibu ga masak, kamu kan ada acara kampus, ayah juga waktu itu bilangnya bakal lembur jadi pulangnya pagi"
"Ayah ada ngehubungin ibu? kapan?"
"Nih, lihat log panggilan di handphone ibu. Emangnya kenapa nak?" sambil menyerahkan handphone ke Leia
"Ga kenapa kenapa sih. Terus ayah ada ngomong apa lagi bu?" sambil melihat log panggilan Neftari.
"Ayahmu bilang bakal lembur, pulangnya subuh atau pagi. Terus seperti biasa dia bilang... Huu huu..." Neftari menutupi matanya yang berair. "Dia bilang sangat mencintai ibu. Bodohnya, ibu malah berdebar kegirangan tanpa tau itu kata cinta terakhirnya"
"Udah bu... Ayah udah tenang di sana. Ayah bakal sedih kalo liat ibu sedih terus" Leia memeluk Neftari sambil menenangkannya.